Mengapa kita Berpetualang?



Banyak alasan untuk menguraikan pertanyaan di atas yang saya jadikan judul pada tulisan kali ini. Dengan berbagai latar belakang dan sudut pandang yang beragam, mengapa seseorang ingin berpetualang? Bagi saya pribadi, mungkin tidak ada alasan yang bisa diutarakan secara jelas, mengapa berpetualang sangat nikmat dan begitu menyenangkan.

Saya awali dari kebiasaan keluarga saya, salah satunya adalah Ayah saya. Beliau sangat gemar melancong, bisa karena pekerjaan yang mengharuskan Beliau untuk pergi ke luar kota ataupun ke luar pulau. Untuk sekedar mengunjungi keluarga yang berada di pelosok desa menanyakan kabar dan mengentaskan peluh. Waktu itu menurut saya jika hanya sekedar berpergian, banyak orang sudah umum melakukannya. Kemudian runtun pikiran saya berpendapat bahwa berpergian juga memerlukan “materi” yang tak sedikit, selain itu fisik juga harus fit. Pikiran sempit saya waktu itu juga mengutarakan, “mustahil seseorang yang tak berkecukupan ‘materi’ dan memiliki fisik yang fit dapat melakukan kegiatan ini: Travelling.”

Dari proses berpergian Ayah saya, kemudian saya dapat belajar banyak dari pegalamannya. terlebih setelah Beliau tiba dirumah, bercerita apa dan bagaimana keadaan di luar sana. Seperti bercerita bagaimana Pantai Popoh-Tulunganggung yang sebenarnya memiliki potensi bahari yang luar biasa, timpang saat melihat hasil tangkapan nelayan yang tak laku untuk dijual apalagi untuk dimakan. Sampai kunjungan beliau ke Lembah Baliem-Papua, mendapati kearifan lokal warga lereng gunung yang hanya memakai “koteka” namun tetap arif untuk memeluk setiap orang yang mereka temui.

Dari sanalah, kemudian saya merumuskan sendiri apakah bisa seseorang melakukan petualangannya dengan bermodalkan  “materi” yang irit, tapi tak pelit untuk dibagi. Artinya, tak hanya berkunjung ke suatu tempat, mengambil foto lalu pulang. Lebih dari itu kawan. Menurut saya, seorang pelancong dan petualang adalah bagaimana cara ia mengeksplorasi daerah tersebut, baik dari segi sosial-budaya-kemanusiaan. Mendokumentasikannya, kemudian dibagikan kepada dunia. The trip was to be an odyssey in the fullest sense of the word, an epic journey that would change everything. Bukankah seperti itu.

Mengambil istilah dari Rahung dalam aktifitas melancongnya, sebagai seseorang “pelancong sosial” ia mencoba menceritakan bagaimana suku dayak mampu memikat hatinya. Dengan apa yang ia lakukan –melancong sosial– dunia semakin mengerti bagaimana kita seharusnya melakukan petualangan. Bukan full kegiatan eksistensi diri semata.

Tetapi ada beberapa hal yang mesti kita sendiri pahami, sebelum berbicara tentang bagaimana cara berbagi dan mengabarkan pada dunia bahwa kita telah usai mengunjungi daerah tersebut. Banyak sekali keuntungan yang kita dapat saat melakukan sebuah petualangan. Seperti, kita mampu mengukur kelemahan dan kelebihan diri. Melatih kesabaran dan ketangguhan diri. Saat kita memutuskan pergi ke hutan atau gunung contohnya. Kita harus mengerti seberapa penting bekal yang harus kita bawa sebelum bekal bawaan tersebut menyulitkan kita saat perjalanan, mini size me, pack small thing. Dan perlu diingat menggunakan istilah: function not fashion.

Selain itu, wawasan kita juga semakin luas dan terbuka. Banyak hal-hal baru yang kita peroleh saat kita memutuskan untuk berpetualang, mengenal orang baru, sampai menjalin persaudaraan selepas dari petualangan.

“Mungkin banyak orang yang tidak mengerti esensi dari bertualang. Tapi apabila tahu benefitnya saya yakin berbondong-bondong orang tiba-tiba akan memutuskan bertualang.” –Efenerr–

Saya menganut paham “3B” untuk melancong dan berpetualang yaitu: bereksplorasi, berbagi, dan bertanggung jawab. Poin B yang terakhir, yang sering kita lupakan yaitu bertanggung jawab. Bertanggung jawab di sini berarti bertanggung-jawab dengan diri sendiri dan dengan orang lain. Banyak hal kecil yang bisa kita lakukan, seperti menyimpan putung rokok saat tak menemukan tong sampah. Sepele, tapi sangaaaaat susah.

Sebagai pendatang bisa dibilang kita lebih banyak mengerti akan dunia luar. Tapi apa salahnya kita coba untuk membaca situasi daerah yang kita tuju. Melihat lebih lama, menjadi pendengar yang baik, dan berbicara untuk lebih dekat. Kira-kira apa yang secara dasar menjadi peluang untuk memberdayakan masyarakat di sana dan meningkatkan taraf hidup mereka. Hal ini hanya dapat kita lakukan jika kita singgah dan berinteraksi dengan masyarakat. Ambil contoh, saat saya ke Bromo. Masyarakat yang berada di daerah penanjakan tak seperti yang kita lihat sekarang: banyak berdiri villa dan homestay. Dulu hanya berupa ladang bawang, kentang, dan kubis. Saran dari pelancong dan kepekaan masyarakat tengger yang menjadikan peleburan itu terjadi: berdirilah penginapan untuk turis dan wisatawan lokal. Akan tetapi kearifan lokal masyarakat tetap terjaga di sana. Terbukti semua penginapan merupakan hak milik langsung dari masyarakat lokal, bukan milik luar. Adat istiadat masyarakat tengger masih dijunjung tinggi, sebagai warisan leluhur yang arif.

Banyak ilmu dan pengetahuan yang kita peroleh saat kita memutuskan pergi berpetualang. Malah menurut saya, tak banyak diperoleh saat kita duduk di bangku sekolah. Saya serius. Mungkin sepele saat kita mengerti bagaimana proses fermentasi bahan alami menjadi sebuah minuman tradisional yang mampu menghangatkan badan. Kemudian proses penanaman kubis dengan teknik tanam suku tengger yang masih mengacu “tanam non sengkedan” dan sangat menjunjung tinggi prosesi adat. Berbagai macam hal baru yang kita peroleh, membuat kita terlihat bodoh dan kecil dihadapan mereka dan alam. Dan pada akhirnya timbul rasa syukur akan karunia dari Allah SWT. Hal ini yang seharusnya kita bagikan kepada dunia, bagaimana kita berpetualang. Yang mungkin tidak didapatkan jika kita hanya duduk dan berdiam diri di rumah. Pengalaman lebih mengena kawan, saat kita melakukannya secara langsung jika dibanding hanya menonton dan membacanya dari depan layar kaca.

“Nothing is more damaging to the adventurous spirit within a man than a secure future. The very basic core of a man’s living spirit is his passion for adventure. The joy of life comes from our encounters with new experiences, and hence there is no greater joy than to have an endlessly changing horizon, for each day to have a new and different sun.” –Jon Krakauer, Into The Wild.

So, Gak ada alasan untuk tidak mengangkat ransel dan berjalan keluar!. “Kalau bukan kamu, lalu siapa?, kalau bukan sekarang, lalu kapan?”

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklanmu di sini