Sabtu, 25 Mei 2013

Maluku dan Kepulauan Aru yang Membiru

Tiga kata pertama untuk Maluku adalah ‘Oh My God’. Alfred Russel Wallace membagi Kepulauan Nusantara menjadi lima kelompok, saya begitu mengagumi apa yang telah ia temukan, mungkin begitupun kalian. Wallace memasukkan Kepulauan Aru ke dalam bagian Papua, yang pernah bersatu dengan daratan Australia pada zaman es. Kepulauan Maluku menjadi bagian tersendiri.

Maluku. Gambar diambil dari sumber ini.
 
Semua berawal dari penjelajahan, atau yang sering kita dengar saat ini dengan istilah lain yang cukup beragam. Belakangan, ilmuwan sepakat untuk menyetujui teori yang dikemukakan naturalis asal Inggris itu. Kawasan Wallacea: Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara terpisahkan laut dalam di antara dua lempeng benua. Alam Maluku kian tersibak. Dari sanalah ketertarikan berwisata bergulir. Kian ramai. Sejatinya, wisata melibatkan partisipasi warga. Jadi, mengapa tidak mencicipi alam gugusan pulau di timur Nusantara?

Saya pernah berkesempatan mengunjungi Maluku, walau tak lama namun sangat berkesan. Pesona Wallacea terbawa hingga saya tiba di rumah. Saya berpikir, keindahan alam Nusantara tak akan pernah pudar selama kita masih peduli untuk menjaganya. Menjaga dengan cara yang arif, dengan rasa cinta pada Nusantara.

Saya akan memulainya dengan Kepulauan Aru, yang merupakan wilayah Austro-Malaya. Kepualauan Aru pernah bersatu dengan Australia dan Papua pada zaman es. Dan Alm. Alfred Russel Wallace pada penjelajahannya pada tahun 1857 tidak memasukkan Aru ke dalam kawasan Wallacea. Dan kini, Aru termasuk wilayah administrasi dari Provinsi Maluku.

Kota Dobo, kota yang terletak di Pulau Wamar yang menjadi ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru. Wilayah yang terdiri dari 187 pulau ini terbagi menjadi tiga kecamatan. Dari sini segala macam logistik didistribusikan ke pulau-pulau lain. Geliat masyarakat pun bergerak di sini. Pergerakan dan aktifitas perekonomian terjadi bak bandar judi. Ramai dan sangat mengasikkan.

Mungkin kita sudah mengerti ada delapan pulau terdepan yang berbatasan dengan negara kangguru. Dan salah satunya adalah Pulau Penambulai di Kecamatan Aru Tengah Timur, termasuk salah satu teras depan Nusantara yang berbatasan dengan Australia. Pada tahun 2010 telah terpasang tanda Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sayang sekali, saat itu saya tak memiliki perangkat canggih seperti saat ini. Kamera atau pun ponsel dengan widget piksel pun belum saya miliki. Sehingga, hanya cerita singkat untuk mengingatnya, bagaimana keindahan alam dan perjalanan ke Maluku. Berbatas kata, dengan diskripsi sempit yang saya miliki. Saya mohon maaf.

Tetapi saya masih mengingatnya saat saya menaiki pesawat Triagana dari Bandara Patimura, Ambon. Pada saat itu musim libur, harga tiket satu kali jalan lebih dari 1,5 juta pada musim libur. Singgah sejenak di Kota Tual lalu berlanjut ke Bandara Rar Gwamar, Dobo. Ya, pulau kecil dengan kenangan yang luar biasa. Sayang, untuk menghemat tenaga saya memaksakan diri untuk tidur di dalam pesawat. Teringat saat Ayah saya mengatakan bahwa ada cara lain untuk menuju Aru: melalui perjalanan laut. Menggunakan Kapal Pelni melalui Ambon dengan beberapa kali transit di Halmahera, Banda, dan Tual. Tersedia pula KMP Lobster yang melayani beberapa rute untuk berwisata alam ke puluhan pulau yang menarik dan tak usai untuk dikagumi di sekitar Dobo, antara lain Ararkula, Karaweira, Penambulai, Kultubai Utara, Kultubai Selatan, Karang, Enu, dan Batu Goyang. Saat itu, tarif untuk perjalanan tersebut sekitar 500 ribu. 

Selain tempat yang menawan dan nampak tak biasa bagi saya. Kekayaan satwa endemik dari Kepulauan Aru, menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan serta beberapa informasi yang saya dapat, Kepulauan Aru memilki hutan yang mejadi rumah bagi Cendrawasih Raja, Manukodia Kilap, dan Manukodia Terompet. Aru telah membuat hati saya tergerak untuk mengulanginya kembali, karena Aru merupakan budaya bahari khas timur Nusantara yang menawan. Semoga kelak saya dapat kembali kesana, dapat bercerita banyak bagaimana kain cantik Aru dengan manik-manik dan penutup kepala berpadu dengan indah, sebagai pakaian adat dan juga digunakan sebagai pakaian seragam anak-anak sekolah. Melakukan birdwatching dengan obyek Cendrawasih Raja dan satwa endemik Aru lainnya. Berharap lebih dekat lagi dengan masyarakat Dobo, bertukar cerita dan pengalaman bagaimana kearifan Nusantara terjaga di sini diantara zaman yang semakin arogan. Lebih dari itu semua, semoga pesona alam bahari dan senyum masyarakat tetap menghiasi Kepulauan ini. Tolong jangan di rusak ya kawan-kawanku para pelancong, dan para backpacker sekalian. Mengarahkan telunjuk pada cermin.

Post-scriptum: tulisan singkat ini sengaja tidak disertai foto-foto lokasi dan obyek menarik lainnya. Karena pada saat itu perjalanan kami belum dilengkapi perbekalan dokumentasi digital. Untuk mengetahui beberapa lokasi dan beberapa tempat yang menarik di Dobo, Kepulauan Aru Maluku, saya sepakat bahwa para pembaca sudah cukup cerdas untuk mencarinya sendiri. Sekaligus saya berterima kasih kepada Heidi Gunarto untuk ajakan menuju Kepulauan Aru Maluku. Tabik!