Rabu, 01 Mei 2013

Bukan Sekedar Menjadi Pejalan Yang Suka Berburu: Privat Beach



Bukan Privat Beach. Lokasi Bali.

Pengantar
Air merupakan sumberdaya alam yang sangat diperlukan bagi kelangsungan hidup organisme dan berbagai usaha penigkatan kesejahteraan manusia seperti perikanan, pertanian, rumah tangga, perindustrian maupun pembangkit tenaga listrik.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan meningkatnya jumlah penduduk, maka kebutuhan akan air juga akan meningkat. Sementara itu luas hutan yang berfungsi sebagai wadah penyimpanan air terus berkurang, karena ditebang dan dikonversi menjadi lahan pertanian, tempat pemukiman penduduk, kawasan industri dan tempat kegiatan lainnya.

Berkembangnya industri, pertanian intensif dan aktivitas pembangunan lainnya tidak saja mengurangi jumlah persediaan air, namun juga turut memperburuk kualitas air akibat pencemaaran lingkungan oleh limbah yang dihasilkannya.

Pencemaran sumberdaya air baik air tawar, air laut maupun air tanah oleh kegiatan industri, pertanian dan rumah tangga akan menyebabkan berkurangnya manfaat air untuk kepentingan pembangunan industri yang memerlukan air bersih, pembangunan pemukiman yang membutuhkan air yang sehat untuk menunjang kehidupan berbagai komoditas hasil perikanan.

Selain oleh adanya pencemaran, degradasi (kerusakan) lingkungan perairan dapat pula terjadi karena eksploitasi sumber daya perairan yang tidak rasional misalnya karena penangkapan ikan secara berlebihan sehingga melampaui kemampuan produksi lestarinya. Kerusakan-kerusakan pantai dapat terjadi karena pengambilan karang batu atau pasir secara tak terkendali hingga dapat menyebabkan terjadinya erosi pantai.

Mengingat bahwa sumber daya perairan dapat memberikan manfaat yang besar bagi manusia, maka perlu tindakan pengelolaan sumber daya perairan, baik terhadap kuantitas, kualitas maupun distribusinya untuk berbagai macam kepentingan. Selain itu perlu pula dilakukan penanganan terhadap dampak negatif yang mungkin timbul akibat “aktivitas manusia dengan segala bentuknya yang dapat merusak ekosistem perairan.”

***

Baru-baru ini, saudara kita di Kalimantan mendapat musibah banjir dengan tenggelamnya 29 desa, yang sebagian besar adalah suku dayak. Beberapa bulan yang lalu, Ibu Kota Jakarta juga dibikin pusing oleh adanya banjir yang hampir menenggelamkan kota yang memiliki 11.362.396 unit kendaraan bermotor terhitung pada tahun 2010. Praktis kota tersebut lumpuh.

Kontras dengan berita sekarang, yang beredar dan tayang di media elektronik dan cetak, semakin maraknya kegiatan pelancong menyusuri sungai dan menemukan pantai eksklusif. Dengan cerita diskripsi ketakjuban, serta teriakan ala tarsan kampungan mengatasnamakan backpacker. Saya sendiri juga berkaca untuk ini. Saya adalah salah satu pelakunya, dari berjuta pejalan lain yang demen dengan pantai biru dan ombak tenang nan tak berpenghuni (privat beach). Saya bebas berteriak, bertelanjang dada dan jika saya ingin, “saya juga dapat tak berbusana.” Memang gila, nyaris tak beretika.

Tapi hal semacam itu saya lakukan tak cukup lama, dua pantai: Sukamade dan Trianggulasih menjadi saksi bisu ke-tak-etika-an saya. Kemudian saya memutuskan untuk berhenti mencari apa yang disebut itu: “privat beach.” Yang ada adalah “privat bitch.”

Jika saya terus memburunya, saya adalah seorang yang tak lebih dari manusia serakah haus akan keindahan kemudian membagikannya dengan bahasa deskriptif sempit, kemudian berbagi kebodohan dalam tulisan yang dibagikan ke beberapa juta orang yang penuh penasaran dengan harapan eksistensi diri. Padahal kata Bambang Pamungkas dalam upload instagram-nya, “bahagia itu sangat sederhana.”

Awalnya saya tak tahu apa akibat dari tulisan bodoh semacam itu. Mari kita ambil contoh: jika kalian mengetik kata kunci di mesin pencari dengan pertanyaan: “Bagaimana cara pergi ke semeru?”. Saya yakin tulisan saya yang menjadi top list disitu. Kemudian pada awal tahun 2013, Semeru seolah-olah menjadi bak penampungan sampah dari manusia yang berkoar-koar sebagai pecinta alam. Kemudian apa saya harus berbangga akan hal ini?, jelas tidak!. Terkadang saya sependapat dalam opini yang dituliskan Arman Dhani bahwa, “Perjalanan semestinya jadi sebuah bagian personal. Bukan sebuah perayaan gegap gempita yang semua orang harus tahu.”

Saya masih berpikir, saat saya menuliskannya --bagaimana cara pergi ke semeru-- saya menuliskannya hanya sampai pada terminal tumpang, kemudian selanjutnya saya yakin kesiapan pengunjung Semeru-lah yang memutuskan. Melewati pos di Ranu Pani jangan dikira mudah, kita harus berhadapan dengan Jagawana yang super disiplin juga ketat untuk dapat terus melanjutkan pendakian menuju Semeru. Jangankan untuk menuju Semeru, untuk menuju Ranu Kumbolo saja, saya tak dapat berharap banyak untuk para pendaki pemula. Bukan meremehkan, tapi pikir lagi untuk memutuskan menuju Semeru atau Ranu Kumbolo. Kalau hanya untuk berpindah tidur, makan, dan tak dapat menjaga alam. Lebih baik jangan lakukan.

Pernah kita dengar keluhan masyarakat lokal kaki gunung, saat ada kabar korban pendakian berlangsung tersiar. Mereka sangat sedih, lebih repot malah. Mereka meninggalkan pekerjaan utama sebagai petani dan pedagang untuk mengevakuasi korban menuju gunung. Tapi pernah kita pikir setelah kita tuntas mendaki dan berteriak lantang di puncak, kemudian kita pulang dan turun dengan perasaan pongah, tak jarang senyuman warga lokal hanya sebagai penghias lelah kita. Kemudian berlalu begitu gampangnya.

“Menulis perjalanan adalah usaha untuk menulis tentang manusia dan kemanusiaan. Jika tulisan perjalanan tak bicara tentang manusia. Maka ia adalah tulisan yang mati.” –Agustinus Wibowo-

Kemudian saya malu, sangat malu ternyata. Sebuah perjalanan yang saya lakukan tak lebih dari sebuah cerita pelarian, dan mencari eksistensi belaka. Para pejalan lain juga pernah mengalami hal seperti ini, sebuah motivasi timbul untuk melancong juga berasal dari wujud pelarian diri. Saya mengakui.

Saya terus bertanya, masihkah ada yang ingin berburu pantai eksotis?, kalau hanya untuk menarik pengunjung bercoretan vandal dan menambah sampah plastik yang tak mampu mereka simpan dengan baik. Masihkah kalian datang, kemudian menginap dirumah warga lokal, kalau hanya untuk tidur, makan gratis dan menunggu sunrise atau sunset keesokan harinya. Kenapa tak kau tuliskan kepada menteri sekalipun, bahwa mereka sebenarnya merana saat kalian datang. Mi instant yang tinggal 2 bungkus untuk makan dua hari tlah lenyap saat kalian datang. Dan mereka rela tidur seadanya, saat kalian datang tanpa hubungan muhrim yang jelas. Lalu apa kata tetangga.

Kemudian sisi kanan saya menjawab: mereka selalu ada, dan tetap ada. Tapi kami bukan Traveler Gembel, yang hanya bisa bercerita tentang sekian juta untuk omong kosong. Dan kami juga bukan Traveler Goblok yang hanya bisa bercerita tentang birunya pantai, berburu pantai eksklusif bersama kekasih tanpa bercerita tentang kemanusiaan. Kami sangat ‘ber-e-ti-ka’ untuk tidak mencobanya. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar