Kamis, 30 Mei 2013

When You have a Dream...


Kamis sore. Saya sedang menjalani ritual ‘medang’ di salah satu kedai kopi langganan saya, sambil utak-atik tut keyboard bak pemuda yang haus akan berita. Sesekali bertukar cerita tentang isi berita di koran dengan hisapan kretek bersama beberapa pengunjung kedai kopi yang duduk bersebelahan dengan saya. Meski kami tak kenal dan belum pernah bertemu sebelumnya, tapi kami begitu akrab membahas beberapa peristiwa yang menghangat di koran dan kabar dari televisi, yang sengaja disediakan oleh penjaga kedai untuk menambah kenyamanan pengunjung. Bertukar opini mulai kasus pencurian sampai daging sapi yang mulai basi untuk dijadikan ‘kode’ dari kasus korupsi. Itulah yang saya suka dari kedai kopi, dan saya menikmatinya sore itu.

Kemudian saya teringat pada salah satu rekan saya yang menjadi reporter stasiun televisi swasta di Surabaya. Saya memanggilnya: Jeng Umik. Pertemuan kami cukup unik, pertama kali saya mengenalnya saat saya duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Kemudian kami tak ingat lagi dan hilang komunikasi selama sembilan tahun. Kemudian kami bertemu kembali di salah satu Universitas Negeri di Surabaya, sebagai mahasiswa satu jurusan. Saya selalu tertawa jika mengingatnya, saat kami menyadari kalau kami berdua adalah teman semasa TK.

Jeng Umik sebelum menjadi reporter Tv, ia adalah salah satu wanita di kampus yang super sibuk dengan beberapa kegiatan Ormawa-nya. Entah itu BLM (Badan Legislatif Mahasiswa), sampai Pemandu di acara Pemaba (Penyambutan Mahasiswa Baru). Saking sibuknya, saya tak begitu akrab dengannya meski kami satu jurusan. Bertemu dengannya hanya waktu di kelas jika ada kuliah bareng. Selepas itu, entah ia berada dimana. Mak plencing!

Meski intensitas pertemuan kami yang terbilang cukup jarang. Namun pernah ada beberapa kejadian emosional yang terjadi antara saya dengan Jeng Umik. Waktu itu, tepatnya di acara Pemaba. Kami sempat gak enakkan, dikarenakan perbedaan pendapat tentang gaya kepemimpinan ketua Pemaba saat itu. Kami debat, dan kami mengeluarkan argumen yang saling menunjukkan titik keegoisan seorang Mahasiswa. Saya yang keras dan merasa punya tanggung jawab untuk acara, tak menunjukkan rasa mengalah sedikitpun. Jeng Umik adalah seorang wanita yang memiliki karakter kepeduliannya yang begitu besar untuk acara tersebut. Ego kami bertemu. Karena rekan-rekan yang solid, kami memutuskan untuk berdamai. Toh, tujuan saya dan Jeng Umik juga satu, cuman caranya saja yang harus berbeda. Inilah organisasi kemahasiswaan dengan ego dan geliatnya. Saya beruntung pernah berada di dalamnya.

Setelah Jeng Umik lulus, mendahului saya. Kabar dan keeksistesiannya tak terekam oleh saya. Mungkin sifatnya masih sama: Mak Plencing!, kemudian beberapa bulan, ia muncul di grub FB angkatan dengan postingan: ‘Launching Buku’. Saya adalah orang yang mempunyai sifat buruk yaitu mangkelan, jadi nampak sewot di grub waktu itu. Saya komen lumayan nyelekit dengan akses bercandaan kampung, serupa saat saya bertemu Billy di koran. Berharap komenan saya dalam grub Fb angkatan adalah latihan awal untuk Jeng Umik menjadi seseorang yang terdidik mentalnya menerima dan menanggapi cercaan dan kritikan pedas. Sebelum Ia benar-benar terjun ke dunia tulis menulis yang sebenarnya, berhadapan dengan monster sosial media. Toh, kritikan dari seseorang yang bukan siapa-siapa semacam saya gak ada efeknya bagi Jeng Umik yang syarat pengalaman. Paling gak, saya ingin menunjukkan bahwa setiap karya pasti ada efeknya dan penciptanya dapat mempertanggung-jawabkan.

Pada beberapa bulan yang lalu saya menemuinya. Saya tertarik untuk sharing beberapa hal yang mendasari wanita berjilbab ini untuk membuat buku. Moment perjumpaan saya dengan Jeng Umik, saya catat di Resolusi Cita Akustika. Saya mulai menyelami apa yang menjadi resolusi karyanya. Mungkin nampak egois, saat kisah curhatannya dikemas ke dalam bingkai fiksi dan dicetak dengan sistem independen. Kemudian sang awam dibiarkan untuk membaca ceritanya, dari penulis amatir. Awalnya saya berpendapat bahwa proses untuk membuat buku yang ia lakukan mudah dan sangat instant. Semua orang bisa lakukan. Berbeda dengan proses pada umumnya. Mindset yang masih tertanam di masyarakat, untuk mewujudkan karya dalam bentuk buku terbilang rumit dan penuh keseleksian dari penerbit untuk layak tampil ke publik. Tapi hal ini terbantah dengan karya Jeng Umik yang direalisasikan secara mandiri dan penuh syarat mimpi. Senada dengan moto sang penerbit: Publish your Dream!, dan ditambah perkataan dari Jeng Umik kepada saya, “Dengan ini Men, kita makin pede untuk nulis!” Sambil mengangkat buku pertamanya dihadapan saya.

“Whatever You can do or dream You can, begin it. Boldness has genius, power and magic in it”. –Gothe-

Dari perasaan mangkel saya, selalu disusupi perasaan mendendam: saya harus bisa, lebih dari mereka. “Barang kethok ae mosok gak isok?” tapi mungkin perasaan semacam ini masih sulit diterima oleh sebagian orang yang belum benar mengenal saya. Ada yang berpendapat saya ini envy, gak suka lihat temennya maju, dan saya dibilang selalu nambahin dosa. Saya hanya bisa memakluminya sebagai kajian intropeksi diri. Karena perasaan mangkel yang saya miliki bukan tertuju kepada seseorang yang telah berkarya dan berani mewujudkannya, melainkan perasaan mangkel yang muncul murni tertuju untuk saya sendiri. Ambil istilah orang Surabaya, “Manasi Atine dewe.” Bersemangat untuk dirinya sendiri, supaya lebih baik.

Intinya, beberapa bulan yang lalu proses mangkel itu meluap. Panas hati tak terbendung, ibarat air mendidih di dalam teko yang siap meletup. Saya menghubungi Jeng Umik untuk ketemuan. Saya mempunyai prinsip, kalau saya mangkel sama seseorang saya gak akan menjauhinya melainkan semakin saya dekati. Belajar darinya semakin banyak. Bertukar pendapat, beradu opini untuk hal yang lebih maju. Beda halnya dengan sesuatu yang saya sukai, saya akan menjauhinya. Opini saya: hal yang saya sukai dan saya kuasai, saya dekati sekarang atau nanti akan tetap sama, tetap mudah. Beda halnya dengan sesuatu yang sukar, sekarang apa nanti akan terasa sukar.

Akhirnya, saya membuat janji secara santai di kedai siap saji di bilangan Ahmad Yani Surabaya. Sebelumnya saya memberi pesan singkat: bahwa saya akan membeli semua apa yang sudah Ia tulis dan tercetak. Ini adalah usaha terakhir yang saya lakukan, setelah kuis yang Ia adakan via Blog personalnya untuk mendapatkan Buku ke tiganya gagal saya dapatkan. Selain itu, saya sebagai teman kecil dan teman seperjuangan di perkuliahan begitu bangga mengenal Jeng Umik, karena Jeng Umik telah memberi inspirasi kepada banyak orang khususnya saya sebagai temannya. Bahwa hidup harus memiliki resolusi dan mimpi.

“Help others achieve their dreams and You will achieve Yours.–Les Brown-

Perasaan mangkel saya mereda saat bertemu dengan Jeng Umik. Berbicara mengenai bukunya, proses pembuatannya, sampai inti dari semua inspirasi yang selalu menjadi ‘api kemangkelannya yang selalu meledak-ledak’ dan akhirnya terwujud menjadi sebuah karya diri yang menginspirasi saya yang bodoh dan haus akan keingintahuan. Sekarang saya telah memiliki tiga buku karya Atiqoh Hasan: Lollypop Love, Bitter Sweat Love, dan Perfect Goodbye. Dalam jangka dekat InsyaAllah akan saya buat review pedas untuk tulisannya. Sehingga pembaca mengerti: menulis buku itu bukan main-main, melainkan wujud dari sebuah mimpi. 


 “When You have a dream U’ve got to grab it and never let go.” –Carol Burnett.



Post-scriptum: Tulisan ngawur ini sebagai apresiasi atas tercetaknya tiga buku karya Atiqoh Hasan dan pereda api mangkel yang saya miliki terhadapnya. Saya beruntung mendapatkan pesan tertulis dan tanda tangan sang penulis secara langsung, karena saya percaya bahwa sesuatu yang besar berawal dari hal yang kecil, dan mungkin disepelekan oleh sebagian orang. Tabik!

Minggu, 26 Mei 2013

#BloggerBicara Komunitas di Surabaya, dengan 100 pembicara koplak!



Tahu Takwaaaaa...
Tahu Takwaaaaa...
Tahu Takwa, Lontong Sateeeeee...
Mulai kecil, Sampai Tuaaaaaa..
Kita Semua Paling okeeeee..” –Yel-yel yang terbentuk dengan tiba-tiba–

Begitulah salah satu kelompok yang berteriak menyanyikan yel-yel di acara #BloggerBicara Komunitas yang diadakan di Coffee Toffee JX International Expo Surabaya kemarin. Acara yang berlangsung pada hari Sabtu 25 Mei 2013 ini, dihadiri oleh 100 peserta dan juga menjadi pembicara di acara yang dimulai pada pukul 18.30 WIB. BLOGdetik dan dibantu oleh dBloggerSuroboyo sebagai penyelenggara, selain menyatukan para Blogger Nusantara juga memfasilitasi para Blogger untuk mengupas tuntas tentang komunitas dan permasalahannya. Kumpul Blogger ini sangat spesial, karena diadakan di Surabaya yang pada bulan Mei ini merupakan hari jadi kota pahlawan yang ke-720.

Oke, apa saja keseruan di acara #BloggerBicara Komunitas?
Saya awali dengan, ‘Lontong Sate’. Sebelum acara dimulai, kami sedang merapatkan duduk supaya para peserta yang lain dapat kebagian tempat, kami disambut dengan lontong sate sebagai hidangan pembuka. Terima kasih para panitia, kalian mengerti apa yang kami inginkan. Makan malam.

Kedua, kapsul kecil yang tak boleh dibuka. Saat kami semua duduk dan menikmati sajian lontong sate, beberapa crew membagikan bungkusan plastik transparan yang membungkus kapsul berukuran jumbo dan tertempeli stiker dengan huruf inisial dan tak boleh dibuka apalagi dimakan. Padahal sempat saya sangka ini kapsul burma, seperti di serial Dragon Ball yang di lempar bisa jadi rumah atau perempuan cantik. Oh ternyata bukan, kapsul yang kami terima ternyata hanya permainan dari para crew koplak yo ben. Kapsul yang bisa berubah wujud menjadi ballpoint yang lucu.

Kapsul aneh tersebut pada akhir acara akan menjadi saksi bisu beberapa orang yang beruntung mengikuti uji ketangkasan, seperti lomba cerdas cermat di televisi. Pada kesempatan ini saya kurang beruntung untuk bergabung, karena inisial pada kapsul tersebut bertuliskan angka 5. Mungkin maksudnya akan mendapat anak 5.

Keseruan selanjutnya adalah mirip acara ospek mahasiswa baru. Kami seru-seruan narik-narik kerah baju orang yang belum dikenal untuk gabung bikin kelompok atau komunitas mini. Waktu itu, saya sempet kejepit kaki-kaki kursi saking semangatnya geser-geser kursi buat dibikin lingkaran. Yaaaahh, terkumpulah 10 manusia koplak, dan alhamdulillah tidak ada korban lagi setelah ini.

Tahu Takwa,
Belum cukup itu kami disiksa sama bung Karel Aderson yang menjadi MC diacara yang sengaja di streamingin via youtube. Kami hanya dikasih waktu 2 menit untuk menentukan nama komunitas dan mendiskripsikannya. Ajeee gilee, “Tahu Takwa, deh.. iya itu ajah, nama kelompok kita.” Diskripsinya: “Penyuka Tahu, yang bertakwaaa.. hahahalaaah..” dan yel-yel kami seperti yang bisa kita lihat diatas, dengan nada dasar G, mengikuti irama Trio Macan dengan lagu Iwak Peyeknya. Dengan intro, ngeplek-ngeplekin jari jempol dan telunjuk. Plek, keplek, keplek..

Mirip seperti acara Lawyer Club di salah satu stasiun tivi, kami duduk melingkar. Dan bung Karel Anderson lebih asyik jika dibandingkan sama K. Ilyas dalam membawakan acara. Kami yang telah membuat lingkaran-lingkaran kecil, merupakan komunitas mini yang beranggotakan dari beberapa komunitas yang telah hadir. Daaan, kami semua adalah pembicara di acara ini. Lempar permasalahan, kemudian lempar jawaban. Alhamdulillah tidak ada lempar kursi atau meja, masih aman dan terkendali. 

Tanpa peduli dari asal komunitas, moto kami: kami datang untuk berkumpul dan bersenang-senang. Karena para Blogger menyadari komunitas yang sudah terbentuk memang dari media online. Dengan adanya kumpul-kumpul bareng ini, kita lebih leluasa untuk buka-bukaan secara offline. Bukan ding, lebih tepatnya share ilmu dan pengalaman. Beradu pemikiran, mengambil kesepakatan. Mencari masalah, meninggalkan?, “kenangan.” Haha

Waktu yang hanya tiga jam buat acara sekeren dan menyenangkan ini sangat kurang. Mungkin dari 100 pembicara ada yang belum tersalurkan hasratnya, untuuuk bertukar ide daaan melampiaskan angen-angennya. Dan yang lebih penting, setelah acara ini kami lebih kaya akan arti komunitas. Bahwasannya, komunitas terbentuk buat kita-kita yang peduli dan ada untuk berbagi. Berbagi apapun yang kalian ingin bagi: istri, suami, uang, atau apalah.. haha malah ngaco!. 

Yah sebelum saya akhiri tulisan untuk review acara #BloggerBicara Komunitas, saya ingin berterima kasih kepada semua fasilitas yang sudah diperkenankan kepada kami, baik itu tempat, sajian makan malam, doorprize, goodiebag, voucher belanja Carefour, helm Honda, powerbank, daaaaan terutama hadiah utama acara ini “Samsung Galaxy Tab” yang masih menjadi tanda tanya kepada siapakah ia akan dilabuhkan. Siapapun itu, saya salut dan apresiasi setinggi-tingginya kepada BLOGdetik, dBloggerSuroboyo, Honda, Relawan TIK, MbaTitis, semoga acara kumpul Blogger dan bersenang-senangnya dapat kembali diadakan lagi dengan lebih meriah dan tentunya semakin koplaaaaaaaaak.

Foto bareng, sebelum tidur.
Tabik.

Gadis Berjilbab Bermasker Hijau



Minggu pagi sengaja saya luangkan waktu untuk pergi ke arah barat meninggalkan Surabaya. Tepat pukul 06.00 WIB, saya menaiki angkutan kota berwarna hijau yang akan menuju terminal Bungurasih. Saya yang menggunakan jaket berbahan katun warna biru tua, dengan setelan celana denim, duduk di sudut paling belakang angkota itu.

Muka yang mengantuk di dalam angkutan hijau yang berjalan dengan kecepatan 20 km/jam, membuat saya ingin tertidur saja. Sedangkan Jalanan kampung yang belubang dan ‘polisi tidur’ yang tak ada matinya setinggi 20 senti lumayan mengganggu. Kepala yang saya balut menggunakan buff membentur jendela angkutan itu beberapa kali. Kepala terasa pening dibuatnya. Apalagi saat mobil angkutan itu berhenti mendadak untuk membawa penumpang lain, sontak kepala seperti dihantam dengan batu. Argh.. Ternyata begini rasanya tidur ayam-ayaman di dalam angkutan. 

Setengah jam berlalu, saya masih berusaha keras untuk tetap terjaga dengan gaya ayam-ayaman semacam itu. Ini akibat dari bergadang menonton pertandingan bola. Saya yang benar-benar tak kuasa menahan rasa kantuk di dalam mobil angkutan itu, memaksa diri untuk bersahabat dengan keadaan. 

Angkutan melewati masjid Al-Akbar, selang beberapa blok dari perumahan Menanggal Indah ada seorang wanita terlihat dari sudut mata kantuk saya, ia mengenakan sweater merah muda dengan ransel daypack warna hitam, memberi isyarat untuk ikut serta. Perlahan saya membuka kelopak mata yang amat berat akibat kantuk. Wanita itu masih muda, mungkin usianya kira-kira 22 atau 23 tahun. Ia menggunakan sweater merah muda dengan celana skiny biru muda, membuat saya sedikit tertarik untuk melihatnya. Pandangan pertama nilainya sembilan. Ia mengenakan jilbab hitam, tetapi saya tak dapat melihat penuh paras wajahnya, dikarenakan masker hijau—model dokter rumah sakit— yang ia kenakan menghalangi pandangan dan rasa penasaran saya.

Saya tidak bergairah untuk melanjutkan tidur. Pencurinya adalah wanita berjilbab hitam ini. Saya teringat dengan pertemuan dengan teman saya si Bagio kapan hari, bebicara tentang aurat dan sesuatu yang tersembunyi. Semakin disembunyikan, semakin membuat penasaran. Dasar manusia, sifatnya ya itu-itu saja. Siapa yang pandai menjaga pandangan, apalagi menjaga ‘sesuatu’ hal yang tersembunyi, mereka adalah orang-orang yang beruntung nantinya. Itu pesan kakek saat saya kecil.

Menurut saya, angkutan umum itu sangat unik, khususnya bemo. Mengapa? Karena kita duduk bersebelahan begitu rapat, jarak kiri-kanan sesama penumpang lain hanya berbatas celana atau pakaian yang kita kenakan. Tak cukup di situ, jarak antara penumpang yang berada di depan kita juga berbatas dua lutut paha orang dewasa, satu meter pun tak ada. Terasa dekat. Kontak mata pun juga sering tak terelakkan di sini. Saya lebih memilih untuk sering melihat ke arah jendela kaca yang berada di sisi kanan saya, berharap pemandangan orang yang berkendara menjadi pengalih perhatian yang ampuh. Berharap pula ada hal yang lucu dan menghibur di balik jendela kaca tersebut. Pilihan untuk kembali tidur pun ternyata bukan pilihan yang tepat saat itu. Apalagi di hadapan saya ada seorang wanita bermasker hijau yang telah mencuri perhatian dan rasa kantuk. Sial, saya mulai salah tingkah dibuatnya. Pikiran saya mulai kemana-mana, “licik benar ia, dapat melihatku dengan muka yang mengantuk ini. Tapi aku tak mampu melihatnya secara utuh. Cuma matanya yang sering tertangkap oleh ku, melirik kemudian mengalihkan pandangan dengan cepat. Lima kosong ku dibuatnya.”

Laju angkutan semakin lama, semakin terasa aneh saat berjalan di atas jalanan berlubang, badan bergetar naik-turun berirama. Ternyata membuat masker hijau yang wanita ini kenakan sedikit demi sedikit bergerak turun menjauhi lekukkan antara mata dan hidungnya. Dan saya tak sengaja melihat hidung wanita ini dengan penuh. Mancung nan mungil, sangat lucu. Masker yang turun dari lekukan hidung bagian atas, terhenti di bawah kedua lubang hidungnya. Menyisakan bagian bibir yang masih tertutupi oleh masker. Ia pun tak merespon untuk menaikkannya. Ia tetap duduk dengan tangan yang mengepal. Semoga ia tak merasa di lecehkan. Saya pun tak ada niatan untuk membantunya menaikkan masker yang ia kenakan. Jangan, bisa-bisa adegan berdarah terjadi di dalam angkutan. Saya hanya melihat saja, tak ada niatan lain. Cukuplah keindahan Tuhan dan hati ini yang bersyukur telah melihatnya.

Tak terasa, sampailah kami di terminal Bungurasih. Kami bergantian untuk turun dari angkutan. Saya memilih untuk turun paling akhir. Membayar secara bergantian, kemudian kami berjalan menuju peron. Perhatian saya masih tertuju pada wanita misterius ini. Ia berjalan sangat cepat, kemudian berhenti. Saya pun tetap melenggang dengan tenang mendahuluinya beberapa meter. Mungkin saya yang tidak diburu waktu, berjalan dengan santai. 

Beberapa menit kemudian wanita dengan sepatu flat ini mendahului saya dengan langkah panjang, berusaha mendahului jalan santai pagi saya di terminal paling sibuk se-Jawa Timur. Terlihat ia melenggang dengan cepat, sambil membenarkan letak masker yang sedikit kendor saat berada di angkutan tadi. Terlihat masker hijau yang ia kenakan terikat begitu kuat menutupi setengah wajahnya yang nampak putih dan bersih.

Saya hanya tersenyum melihatnya berjalan seperti itu dihadapan saya. Sambil mbatin dalam hati: “wanita aneeeh.” Kemudian wanita berjilbab hitam di depan saya, berhenti. Deg! Kemudian ia menoleh ke arah saya dengan tatapan melotot seakan memberi isyarat dengan sejuta arti. Kemudian ia memalingkan wajahnya dari tatapan yang tertuju ke arah saya. Deg! Praktis saya bengong dibuatnya.

Dalam hati saya bertanya, “Opo de’e ngerti, opo sing tak batin?” saya menggelengkan kepala, dan tertawa lirih.

“Wanitaaaa, oh wanita bermasker hijau di depanku.
Kau diciptakan untuk dikagumi.
Namun belum beruntungku untuk mengenalmu.
Hati-hati di jalan, semoga kau lekas sampai tujuan.
Beruntung sekali, pria yang telah menunggumu.
See u. “

“Beauty in the eye of the beholder. Beauty in thing exists in the mind which contemplates them.”





Terminal Purabaya, 26 Mei 2013


Pria dengan Muka Kantuk








PS: Tulisan ini sebagai pematik opini terhadap pelecehan seksual yang kerap terjadi di wilayah umum, terutama dalam transportasi umum. Saya menuliskannya murni untuk sesuatu hal kekaguman yang dimiliki oleh seorang manusia ciptaan Tuhan. Selain keindahan alam, keindahan sisi manusia sebagai wujud syukur kepada sang Khaliq.

Sabtu, 25 Mei 2013

Wayang Of The Shadow Theatre, Mendadak Cinta Wayang




“Hari sabtu ada wayang kulit di daerah Kebun bibit, Men. Datang yuk!.” Ajakan untuk menghadiri pertunjukan wayang di kawasan Kebun Bibit Surabaya, hanya keisengan semata. Terucap begitu saja oleh kawan saya, bernama Adit.

Sabtu malam selepas magrib, beberapa kawasan di Surabaya terguyur hujan cukup deras. Hal itu juga terdengar dari beberapa pendengar radio Suara Surabaya, yang melaporkan keadaan lalu lintas lewat sesi kelana kota. Saya hampir pesimis untuk datang melihat pertunjukkan wayang kulit. Tiba-tiba ponsel saya berbunyi, tanda sms masuk. “Santai Men, jam 21.00 WIB. Udanne mandek, disingkap karo dukun. :) ” pesan singkat dari Adit, kepada saya. Saya pun tersenyum setuju.

Hujan yang begitu derasnya hanya bertahan kira-kira satu jam lepas magrib, berganti gerimis. Kemudian langit nampak berwarna hitam keabu-abuan, memberi isyarat bahwa air langit masih tersimpan. Saya segera bergegas untuk menyiapkan diri untuk berangkat menuju rumah Adit, kami memutuskan untuk berangkat bersama.

Wayang memang tak asing bagi saya, meski di keluarga saya hampir tak pernah mengadakan pagelaran wayang atau “mengundang pak dalang dan bu sinden untuk manggung di acara saya.” Tapi di daerah saya masih sering didapati pertunjukkan wayang yang diadakan untuk beberapa acara tertentu: khitan, hari jadi desa, atau acara ulang tahun keluarga pejabat. Beda saya, beda Adit. Ia termasuk beruntung pernah duduk di deretan paling depan dalam menyaksikan pertunjukkan wayang, yang sempat ia dan keluarganya adakan di daerah Banyuwangi. Raja minyak!

Tak sampai 20 menit dari rumah Adit menuju lokasi pagelaran wayang kulit. Kami berlima segera menuju suara sinden dengan nada slendronya yang khas mengisyaratkan bahwa pertunjukkan sudah dimulai. Luar biasa, antusias warga setempat. Meski wayangan ini diadakan di kota metropolis macam kota Surabaya, tak menyurutkan animo penonton yang hadir. Tua-muda, pria-wanita, bocah-tengil tumplek-bleg.

Wayang yang telah diakui sebagai warisan budaya Indonesia pada tanggal 7 November 2003 sebenarnya bukan karena semata-mata ada begitu saja. Hal ini ada dan diakui oleh dunia, karena masyarakat kita sangat antusias dan peduli akan warisan budaya yang syarat akan makna dan edukasi. Dengan media wayang, kita tak sadar telah mendapatkan beberapa sajian seni yang beragam: meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. Dan ini semuanya Free, alias gratis-tis, yang gak gratis: kacang rebus, teh anget, kopi, lan udute. Haha

Kami berlima, terus berjalan mendekati panggung. Kami berada di sisi yang dapat melihat dalang, pesinden, dan penabuh gending. Karena kami ingin menyaksikan bagaimana seni Jawa yang komplit ini berpadu secara harmoni. Selain itu, saya penasaran dengan wajah pesinden yang nampaknya seperti bule. Sebenarnya sih, gak terlalu penasaran-penasaran amat, toh wajah bule ya gitu-gitu aja masih kalah top sama wajah pribumi (tetangga sendiri). :)

Memang untuk mencintai dalam hal ini budaya, kita harus mirsani rumiyin (baca: lihat dahulu). Kalau istilah anak muda, adalah ‘pandangan pertama’. Saya memang jatuh cinta pada pagelaran wayang karena saat saya duduk di bangku sekolah dasar, saat membaca buku Mahabarata. Secara ringkas diceritakan bagaimana kisah pandawa lima berperang dengan kurawa yang memiliki jumlah yang lebih banyak, “seribu orang yang melambangkan sifat manusia dari sisi kejahatan.” Sangat seru untuk mengikuti kisahnya waktu itu. Dari sini saya tertarik untuk melihat pagelaran seni wayang kulit, dulu televisi nasional sering menayangkan pagelaran seni wayang. Ya semoga masih ada acara semacam itu, daripada anak muda disuguhi kisah drama televisi pria naik vespa bonceng wanita berwajah rupawan. Toh jaraaaaanng banget dikehidupan real, pria bervespa yang dibonceng wanita rupawan. Yang ada mah bawa sapu lidi, baliho bekas dicantolin di sespan. Sambil teriak woyo, woyoo..

Beberapa hal yang saya tunggu-tunggu dalam pagelaran wayang ini, yaitu saat pak dalang memunculkan punakawan. Punakawan adalah tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Punakawan ada diantaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa.

Saya sempat tersindir oleh beberapa dan banyak hal. Terutama tentang pemahaman saya akan budaya dan wawasan akan berbudaya. Ada yang bilang begini, “Sampeyan tiang Jowo, tapi mboten ngerti Jawane.”  Tujuh kata yang singkat namun memiliki arti yang sangat luas dan kompleks. Sangat kompleks menohok bagi saya. Bisa jadi kalimat tersebut, mengatakan secara lirih di telinga saya: “kamu harus tahu asal-usulmu, dari atap atau palimbahan?.” 
______________________________________________________________________________

Radityo Pradipta adalah pecinta fotografi alam liar khususnya burung, yang masih melakukan studinya di salah satu universitas negeri di Surabaya, dengan program pasca sarjana bidang imunologi. Pria yang lahir bulan Desember ini lahir di Jakarta, selain memilki hobi fotografi ia sangat gemar baca dan menelaah budaya dan film.

Pria yang sekarang sedang melakukan program pelangsingan badan ini juga telah membukukan karya fotografinya yang berjudul "Burung Pantai Wonorejo." bersama kedua rekannya Lukman Nurdini dan Cristian Agung, yang merupakan pengamat Burung asal Surabaya.

berikut adalah foto-fotonya saat kami mengikuti pagelaran wayang bersama.

foto oleh Radityo Pradipta.
foto oleh Radityo Pradipta.
foto oleh Radityo Pradipta

Maluku dan Kepulauan Aru yang Membiru

Tiga kata pertama untuk Maluku adalah ‘Oh My God’. Alfred Russel Wallace membagi Kepulauan Nusantara menjadi lima kelompok, saya begitu mengagumi apa yang telah ia temukan, mungkin begitupun kalian. Wallace memasukkan Kepulauan Aru ke dalam bagian Papua, yang pernah bersatu dengan daratan Australia pada zaman es. Kepulauan Maluku menjadi bagian tersendiri.

Maluku. Gambar diambil dari sumber ini.
 
Semua berawal dari penjelajahan, atau yang sering kita dengar saat ini dengan istilah lain yang cukup beragam. Belakangan, ilmuwan sepakat untuk menyetujui teori yang dikemukakan naturalis asal Inggris itu. Kawasan Wallacea: Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara terpisahkan laut dalam di antara dua lempeng benua. Alam Maluku kian tersibak. Dari sanalah ketertarikan berwisata bergulir. Kian ramai. Sejatinya, wisata melibatkan partisipasi warga. Jadi, mengapa tidak mencicipi alam gugusan pulau di timur Nusantara?

Saya pernah berkesempatan mengunjungi Maluku, walau tak lama namun sangat berkesan. Pesona Wallacea terbawa hingga saya tiba di rumah. Saya berpikir, keindahan alam Nusantara tak akan pernah pudar selama kita masih peduli untuk menjaganya. Menjaga dengan cara yang arif, dengan rasa cinta pada Nusantara.

Saya akan memulainya dengan Kepulauan Aru, yang merupakan wilayah Austro-Malaya. Kepualauan Aru pernah bersatu dengan Australia dan Papua pada zaman es. Dan Alm. Alfred Russel Wallace pada penjelajahannya pada tahun 1857 tidak memasukkan Aru ke dalam kawasan Wallacea. Dan kini, Aru termasuk wilayah administrasi dari Provinsi Maluku.

Kota Dobo, kota yang terletak di Pulau Wamar yang menjadi ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru. Wilayah yang terdiri dari 187 pulau ini terbagi menjadi tiga kecamatan. Dari sini segala macam logistik didistribusikan ke pulau-pulau lain. Geliat masyarakat pun bergerak di sini. Pergerakan dan aktifitas perekonomian terjadi bak bandar judi. Ramai dan sangat mengasikkan.

Mungkin kita sudah mengerti ada delapan pulau terdepan yang berbatasan dengan negara kangguru. Dan salah satunya adalah Pulau Penambulai di Kecamatan Aru Tengah Timur, termasuk salah satu teras depan Nusantara yang berbatasan dengan Australia. Pada tahun 2010 telah terpasang tanda Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sayang sekali, saat itu saya tak memiliki perangkat canggih seperti saat ini. Kamera atau pun ponsel dengan widget piksel pun belum saya miliki. Sehingga, hanya cerita singkat untuk mengingatnya, bagaimana keindahan alam dan perjalanan ke Maluku. Berbatas kata, dengan diskripsi sempit yang saya miliki. Saya mohon maaf.

Tetapi saya masih mengingatnya saat saya menaiki pesawat Triagana dari Bandara Patimura, Ambon. Pada saat itu musim libur, harga tiket satu kali jalan lebih dari 1,5 juta pada musim libur. Singgah sejenak di Kota Tual lalu berlanjut ke Bandara Rar Gwamar, Dobo. Ya, pulau kecil dengan kenangan yang luar biasa. Sayang, untuk menghemat tenaga saya memaksakan diri untuk tidur di dalam pesawat. Teringat saat Ayah saya mengatakan bahwa ada cara lain untuk menuju Aru: melalui perjalanan laut. Menggunakan Kapal Pelni melalui Ambon dengan beberapa kali transit di Halmahera, Banda, dan Tual. Tersedia pula KMP Lobster yang melayani beberapa rute untuk berwisata alam ke puluhan pulau yang menarik dan tak usai untuk dikagumi di sekitar Dobo, antara lain Ararkula, Karaweira, Penambulai, Kultubai Utara, Kultubai Selatan, Karang, Enu, dan Batu Goyang. Saat itu, tarif untuk perjalanan tersebut sekitar 500 ribu. 

Selain tempat yang menawan dan nampak tak biasa bagi saya. Kekayaan satwa endemik dari Kepulauan Aru, menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan serta beberapa informasi yang saya dapat, Kepulauan Aru memilki hutan yang mejadi rumah bagi Cendrawasih Raja, Manukodia Kilap, dan Manukodia Terompet. Aru telah membuat hati saya tergerak untuk mengulanginya kembali, karena Aru merupakan budaya bahari khas timur Nusantara yang menawan. Semoga kelak saya dapat kembali kesana, dapat bercerita banyak bagaimana kain cantik Aru dengan manik-manik dan penutup kepala berpadu dengan indah, sebagai pakaian adat dan juga digunakan sebagai pakaian seragam anak-anak sekolah. Melakukan birdwatching dengan obyek Cendrawasih Raja dan satwa endemik Aru lainnya. Berharap lebih dekat lagi dengan masyarakat Dobo, bertukar cerita dan pengalaman bagaimana kearifan Nusantara terjaga di sini diantara zaman yang semakin arogan. Lebih dari itu semua, semoga pesona alam bahari dan senyum masyarakat tetap menghiasi Kepulauan ini. Tolong jangan di rusak ya kawan-kawanku para pelancong, dan para backpacker sekalian. Mengarahkan telunjuk pada cermin.

Post-scriptum: tulisan singkat ini sengaja tidak disertai foto-foto lokasi dan obyek menarik lainnya. Karena pada saat itu perjalanan kami belum dilengkapi perbekalan dokumentasi digital. Untuk mengetahui beberapa lokasi dan beberapa tempat yang menarik di Dobo, Kepulauan Aru Maluku, saya sepakat bahwa para pembaca sudah cukup cerdas untuk mencarinya sendiri. Sekaligus saya berterima kasih kepada Heidi Gunarto untuk ajakan menuju Kepulauan Aru Maluku. Tabik!