Sabtu, 20 April 2013

Saatnya Berjalan


 “Salah satu cara jitu mengenal sebuah kota adalah menjelajahinya dengan cara jalan kaki. Bertatap langsung ke obyek-obyek terlupakan setelah menelisik situs yang tidak jarang terasa masih asing, berinteraksi akrab kepada warga setempat untuk menggali kisah unik, sampai menelaah betapa putaran waktu telah mengubah sebuah lokasi. Ujung-ujungnya, kecintaan dan kepedulian-pun muncul.” 

Kalau Bambang Susantono dalam bukunya yang berjudul –1001 Wajah Transportasi Kita– mengatakan, “Jangan hanya bisa mengeluh macet,” Saya pun sependapat. Karena kemacetan juga kesalahan dari kita semua. Secara tak langsung kita menjadi sumber dari kemacetan tersebut. Mungkin tak sedikit dari kita yang enggan disalahkan kalau harus dipertemukan dengan permasalahan semacam ini. Ujung-ujungnya hanya teriakan-teriakan keputus-asaan untuk berkata, “Macet sana, macet sini.” Tanpa ada solusi. “Salahin ini, salahin itu,” mungkin itu yang paling nyaman. hehe

Dari lima tahun yang lalu saat saya masuk kuliah, jumlah sepeda motor di kampus bisa dihitung dengan jari. Malah untuk memarkir motor bisa seenak kita untuk menaruhnya, saking luasnya area parkir. Memang tak secara jelas dapat dikatakan kalau lahan parkir di kampus saya seperti tempat parkir, malah menurut saya lebih mirip kebun dari pada area parkir motor. Keasrian pohon-pohon yang telah berumur tua menjadi keasyikan tersendiri buat saya untuk duduk dan menikmatinya. Apalagi saya hoby mengamati burung, burung-burung yang terbang bergelanyutan dari dahan ke ranting pohon yang berada di area parkir kampus menjadi pertunjukan yang sangat menarik untuk diamati.

Tapi tak bisa diharapkan sama seperti waktu itu. Sekarang di tahun 2013, kampus saya lebih mirip area parkir Mal yang penuh dengan beraneka macam merk sepeda motor. Tak cukup itu, dulu dua pohon Trembesi tua yang selalu nampak rindang menjadi tempat peraduan burung-burung Kaca-mata dan Cabe. Sekarang pohon tersebut telah sirna. Telah ditebang dan nampak padang-jingglang. Beraneka ragam pula alasan untuk menutupi ketiadaan pohon tersebut. Kalau dulu saya ingat, semasih menjadi tawanan mahasiswa baru. Saya dengan teman-teman mendapat tugas untuk membuat papan identitas untuk beraneka ragam tumbuhan yang ada di sudut-sudut taman kampus. Namun sekarang ironis, pohon-pohon yang dulu rindang sekarang telah kalah oleh pengendara motor.

Jika saya amati, mungkin disetiap kampus memiliki Bis antar kampus. Atau angkutan kampus yang telah disediakan untuk warga kampus. Sekarang, kampus masa kini luar biasa terfasilitasi jadi tak diragukan lagi berapa angkutan kampus yang tersedia. Tapi jika kita lihat, hanya beberapa orang saja yang menggunakan transportasi tersebut. mereka lebih nyaman menggunakan sepeda motor, dan juga mobil. Lalu pada hakikat sebenarnya, untuk apa angkutan kampus disediakan jika lahan parkir telah penuh dengan kendaraan roda dua dan empat. Angkutan kampus hanya menjadi pantes-pantesan saja.

Sekarang fenomenanya berbeda tetapi ada kesamaan yang dapat kita kaji. Sekarang, jika teman setelah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan. Mereka dapat dipastikan akan membeli kendaraan baru, entah itu mobil atau sepeda motor. Jika dilihat kembali, mereka-mereka juga sudah memiliki kendaraan sebelumnya. Dengan alasan yang beragam pula, mulai “supaya nampak keliatan hasilnya,” dan “sebagai penyemangat kerja.” Okelah, mereka semua memiliki argumennya masing-masing.

Tapi menurut saya, kok alasannya gak masuk blas ya. Malah dalam benak saya, kalau mendengar cerita Kakek-Nenek saya yang dulu sempat merasakan bagaimana Trem Uap masih berfungsi. Dan aktifitas bersepeda masih ramai. Kemudian indahnya melihat aktifitas pejalan kaki berseliweran pinggir dalan. Saya menjadi iri, mengapa sekarang tak demikian. Sekarang jika sudah memasuki pukul 07:00 WIB, sampai pada pukul 17:00 WIB di kota metropolis bisa di saksikan bagaimana fenomenanya. Mungkin kita adalah generasi tuek nang ndalan (baca: tua di jalan). Takut di jalan lebih lama dan memaksa memacu laju kendaraan dengan kecepatan maksimal ditengah keramaian pengguna jalan lainnya. Sangat miris bukan.

Mulailah dari hal yang paling terkecil. Jika kata teman saya yang bernama Ado, “Kita ini harus merubah dunia”. Sekarang pilihanya: “Merubahnya jadi baik, atau sebaliknya. Lah tentukno dewe.”
 
Memang sangat klasik, jika berkata bahwa “Mengawali itu lebih sukar jika hanya meneruskan saja.” Saya sependapat. Untuk menjadi habit atau kebiasaan, kita harus membiasakannya. Tentunya dengan cara yang konsisten. Ada sedikit pengalaman dari saya, waktu itu saya punya ide untuk berjalan menyusuri kota metropolis ini. Ide ini saya share ke rekan saya, dengan harapan kita dapat merasakan bagaimana kondisi saat pejalan kaki di kota metropolis berusaha bertarung dengan ganasnya pengguna kendaraan motor yang terkadang sewenang-wenang memakai trotoar. Tetapi hanya tanggapan pesimistis yang saya dapat. Saya tak dapat menyalahkan, karena memang rasa nyaman mengalahkan kepekaan. Akhirnya saya mencukupkan ide dan diskusi tersebut dan memutuskan biarlah ini menjadi pengalaman personal saya sendiri.

Sebenarnya sepele, saat saya memutuskan untuk berjalan. Selain saya membiasakan diri untuk tak hanya berkata macet dan panas. Saya juga ingin mengerti bagaimana kota tempat saya tumbuh ini, melakukan perubahan dan siklusnya. Itu semua hanya dapat terekam dengan jelas jika kita berjalan. Kenapa orang-orang negara maju lebih suka berjalan, kenapa kita yang katanya, “ingin maju” tapi tak mau berjalan. Ada yang bilang, “panas” kalau kita berjalan. Haha, lupakah kita hidup di negara tropis?, kalau panas memang semestinya. Takut kulit menjadi gelap?, kita terlalu termakan iklan dan TV. Semestinya kita hitam, karena kita berada di lintang khatulistiwa. Kadar pigmen (zat warna) dalam tubuh kita sangat berbeda dari masyarakat sub tropis, yang membuat kita (kulit tropis) lebih peka dalam merespon kadar sinar matahari. Mereka (masyarakat sub tropis) ingin mebuktikan bagaimana menjadi lebih gelap dengan datang ke sini (tropis) sunning-lah, sun-bathing-lah. Tapi kita tak akan berhasil jika kita pergi ke sub tropis. Kita menjadi putih itu hanya sementara, yang paling sering terlihat lebih cerah karena tak kumus-kumus karena efek suhu yang dingin dan sejuk. Tapi tetap saja, jika sampeyan kembali ke tropis muka kumus-kumus itu akan nampak indah bagi bule-bule di sana. Percayalah itu, kemudian segera berdamai dengan dirimu sendiri.

Sekarang ada yang lebih penting untuk kita mulai dan galakkan. Yaitu bagaimana merevolusi gaya hidup yang tanpa kita sadari, jika kita terus-menerus melakukan habit seperti ini (boros berkendara motor), akan memperburuk diri kita dan orang lain. Kurangilah kendaraan pribadi, dan mulailah berjalan. Mulailah dari diri kita, dan mulailah dari yang paling dekat. Menjadi peka itu tak sulit. Mari kita berjalan, dan berhenti berkata macet!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar