Sabtu, 27 April 2013

Pulang Bersamaku!



Waktu itu adalah sebuah malam yang sangat sepi menurutku. Malam yang hampir tergantikan oleh pagi. Begitu berulang hampir empat hari. Padahal aku sudah tak menyulut kretek, atau menyeduh kopi. Aku hanya sedikit menguranginya akhir-akhir ini. Bukan karena tak ingin, tetapi kantong lagi sangat kering. Memalukan mungkin. Entah seperti berada di alam yang berbeda, seperti tak bernyawa dan tak seimbang. Jika aku mengingatnya mungkin aku tak sanggup. Lebih baik aku menuliskannya meski amat menyakitkan. Untukmu dan untukku.

Aku masih mengingatnya saat pertama kali kita bertemu. Kau memang berbeda dari yang lain. Mungkin Tuhan membuatnya demikian, supaya aku melihatmu waktu itu. Mungkin sudah kehendaknya, membuatmu nampak berbeda atau hanya bias mataku yang berbinar menatapmu. Intinya, waktu itu aku berbunga-bunga melihatmu.

Jika ada yang berpendapat “kita harus berjuang untuk mimpi.” Mungkin waktu itu kaulah mimpiku. Bersamamu mungkin seperti tak seimbang, tapi bukankah hidup juga perlu begitu, salah satunya karena cinta. Menggelikan memang, tapi kita menang demikian. Mungkin sekarang mulai berubah, saat cinta bukan lagi dikatakan sebagai sebuah pengorbanan. Aku mulai sependapat. Karena waktu itu, aku menikmatinya disaat semua penonton mengkhawatirkan tentang kita dan cinta.

Aku lengkap, mungkin kau tak lengkap. Nampak luar jika mereka mengamatinya. Bukankah waktu itu kau pernah mengatakan tentang arti ‘berbagi’ padaku. Akupun belajar berbagi darimu. Kau sempurna dan lengkap, meski kau sesekali menangisinya. Seperti pelangi, kau menyambutku setiap pagi. Seperti kencan kita di pagi buta, menunggu mentari di sebuah pantai yang indah. Disitulah pertama kalinya aku sependapat, bahwa wanita cantik itu saat pagi hari karena bangun dari tidur malamnya.

Ada beberapa ketakutan yang aku perebutkan di dalam hatiku dan hatimu. Perkara bijak yang mengajarkan dengan ejawantahnya yang berbeda. Mungkin salah, jika aku terlalu mencintaimu. Waktu itu aku pikir mencintai adalah hal yang selalu dekat dan selalu terdekap karena jauh adalah sebuah kesakitan. Saat mencinta adalah nafas, kaulah nafas itu. Aku tak bisa jauh darimu.

Tuhan tak mau jika ia diduakan. Meski ia tak butuh aku ataupun kamu. Mencoba dengan sedikit tarikan yang membuat kita seolah terasa jauh. Membuat sebuah uluran yang sering buat kita bersinggungan. Aneh memang, apakah amarah juga bagian dari cinta. Sekarang Tuhan memberiku sebuah cinta. Kali ini sangat berbeda. Dulu cinta itu selalu dengan dekapan namun sekarang ia memberiku cinta dalam kejauhan. Jika mencintai berarti juga bisa melepaskan. Kali ini aku belum pernah mengetahuinya. Yang ku tahu sekarang kau benar-benar jauh dariku. aku mencintaimu dari kejauhan.

Ingin sekali mengetahuinya, bagaimana caranya. Hidupkan aku lebih lama lagi. Aku akan belajar banyak tentang ini. Tentang kesembuhanku dalam mencarimu. Harus berapa lama aku berjalan, harus berapa kota aku labuhkan untuk semua pengertianku tentang perjalanan mencarimu. Saat ini, aku duduk di pinggir tebing gunung Bromo yang dapat melihat malam dengan sinar malam Kasada, menyerupai taburan bintang ciptaannya. Sangat indah, tapi kuhabiskan sendiri-sayang tak besamamu. Jika dahulu Roro Anteng dan Joko Seger adalah sebuah sejarah dari perjuangan cinta suku Tengger. Mungkin mereka abadi, tapi tak semanis kenangan bersamamu. Kemudian salah seorang kawan yang bijak berkata padaku tentang perjalalanan, “bahwa kita berjalan ibarat sebuah sponge yang kering, dan menyerap sari patinya untuk kita bawa pulang.” Aku hanya bisa berkata, “aku sangat rindu padamu, pulanglah bersamaku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar