Selasa, 02 April 2013

Pantas Untuk Diperjuangkan?

Pantas Berjuang!
Kakek, ayah dari Ibu adalah seorang pahlawan. Bukan saya yang melabeli beliau seperti itu, tetapi dua presiden RI secara langsung membubuhkan nama mereka dengan coretan tangan di kertas yang sekarang telah lusuh dan masih disebut piagam penghargaan, sebagai pahlawan RI. Belum cukup itu, Alm. Mbah kakung juga melalui prosesi pemakaman dengan peraturan militer, jenazah beliau dikawal dan dihantar menuju makam pahlawan seperti barisan pasukan infanteri yang menderu, senada dengan haru keluarga yang ditinggalkan waktu itu.

Entah apa yang membuat mbah kakung memutuskan berperang dan bergabung dengan kekerasan militer waktu itu. Ada sebuah keberanian yang muncul didarahnya serupa dengan keberanian Ayah saya yang menjadi (menantunya) dan seperti menurun pada saya. Seperti mendapatkan dua energi keberanian dari Ayah dan mbah kakung, tetapi zaman yang mengelompokkan semangat dan keberanian mereka. Jika menurut Mendel dalam buku genom dan buku yang serupa dengan itu dan masih membahas tentang genetika, menurutnya keberanian tak dapat diturunkan melalui darah atau partikel terkecil dalam tubuh manusia sekalipun. Lalu keberanian yang secuil ini berasal dari mana?. Jika saya mencoba mengamati setiap manusia, khususnya rekan, keluarga, dan orang-orang yang sering terlihat di layar kaca melakukan kejadian heroik dan nampak seperti mengesampingkan raga bahkan nyawanya sekalipun, mereka mempunyai power berupa keberanian. Mereka semua sama tanpa terkecuali, tetapi kadar yang membuat mereka menjadi berbeda. Bukankah Tuhan memberi porsi yang sama pada setiap manusia yang Ia ciptakan?, jika ada hal yang ‘menurutmu’ itu adalah sebuah kekurangan, Tuhan melebihkan dan menggantinya dengan sebuah kelebihan salah satunya dengan keberanian.

Sesuatu hal yang diperjuangkan sekarang, beragam versi dan tujuannya. Jika saya mendekat kepada adik saya yang sekarang duduk di bangku taman kanak-kanak, menanyakan perjuangan bisa jadi ia akan plonga-plongo. Menurut saya, fase mereka belum sampai dengan pertanyaan perjuangan ataupun pertanyaan mengenai cita-cita. Mereka adalah hasil perjuangan para orang tua, dan mereka adalah salah satu yang ‘hak’ untuk selalu diperjuangkan. Saat saya bersama dengan adik saya yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas, saya berusaha menyelipkan pertanyaan, “apa yang wajib diperjuangkan pada masamu sekarang?”. Dia bilang, “saya berjuang untuk perguruan tinggi yang mampu memfasilitasi saya”, jawabnya dengan sedikit ketus. Lain halnya saat saya menayakan perjuangan pada rekan saya yang sedang kasmaran, rata-rata mereka berjuang untuk seorang kekasih yang mereka anggap sebagai boster-power semangat mereka.

Apapun bentuk dan niatan mereka dalam berjuang, satu sisi yang saya soroti adalah mereka wajib mempunyai keberanian. Tanpa keberanian, mustahil seorang Hawa dan Adam turun ke bumi merasakan pesakitan dan berusaha melawan zona nyaman surgawi yang Tuhan janjikan. Tanpa keberanian, bagaimana bisa seorang Napoleon mengarungi samudra dengan kapal ringkihnya, hanya untuk mengetahui bumi ini ternyata tak datar. Banyak hal dari sebuah kata keberanian secara tidak langsung membuat kita menjawab pertanyaan besar dari hidup kita.

Beranilah dulu, panasi batinmu dengan kata wani, kemudian lakukan!. Perkara itu gagal atau tak sesuai, biarlah Tuhan yang mengeksekusi”. –Arek Suroboyo.

Karena manusia hanya dikenal sebagai dua kata dalam asumsi sesama manusia sendiri, baik dan buruk, sesuai dengan tak sesuai. Lain halnya jika kau memutuskan untuk membuat predikat lain sebagai manusia pengecut, penakut, atau manusia abu-abu. Sebagai manusia yang berada dipersimpangan. Maka lakukanlah!

2 komentar:

  1. katanya ada 3 hal yg "menggerakkan" manusia: LOVE, HOPE, AND COURAGE

    Semoga kalau kita berjuang melakukan apa saja berdasarkan 3 hal itu, kita akan memperoleh hasil yang maksimal dan mungkin disebut sebagai pahlawan. Yaaa... siapa tahuu...

    BalasHapus