Sabtu, 20 April 2013

Alasan Mengapa Hidup Lebih Lama?



Jarang sekali untuk menuliskan resensi film, mungkin saya pikir “500 Days of Summer” adalah resensi pertama dan terakhir saya. Menurut saya resensi film gak segampang jika dibandingkan dengan membuat intenary perjalanan, alias susah-susah gampang. Apalagi saya bukan tipe orang yang suka nganalisis film dengan apik dan jauh dari harapan. Jadi sekalinya nulis resensi film, bisa dibilang saya sedikit ‘ngena’ dengan film tersebut, yah ujung-ujungnya curcol deh. Hehe.

Film ini memang gak bisa dikatakan film baru, film yang awal release sekitar tahun 2001. Saat saya masih duduk dibangku SMP dan baru dapat film ini, awal masuk kuliah. Sangat lama. Film Korea yang terkenal dengan drama romance-nya yang bisa ngumbah (red: mencuci) perasaan kita luar dan dalam. Saking ngenanya, saya lebih dari lima kali menontonnya: “My Sassy Girl.”

Adalah Kyun-woo laki-laki lugu, lucu, dan bodoh untuk bisa menyebutkannya dalam karakter ini. Bertemu dengan Ji-hyun Jun wanita keras kepala, pemarah, galak, dan tak mau pernah mengalah dengan siapapun. Pertemuan mereka berawal dari stasiun kereta yang cukup aneh dan menggelikan. Saat itu ada seorang wanita yang berdiri melebihi garis kuning—batas tanda larangan berdiri atau menunggu kereta tiba—di stasiun kota di Korea. Seperti teler atau mabuk. Mungkin lebih pas untuk dibilang mabuk. Wanita tersebut terlihat hampir jatuh ke perlintasan kereta saat kereta terlihat meluncur dari arah kiri ia berdiri. kemudian wanita—Ji-hyun Jun—ditarik kebelakang supaya terhindar dari kereta yang hendak melintas oleh seorang pria—Kyun-woo—yang mengenakan tas selempang berwajah lugu. Bukannya berterima kasih, si wanita ini malah melihat si pria dengan tatapan teler yang sangat aneh.

Kejadian ini berlanjut kedalam kereta, si wanita mabuk ini bertingkah dengan menahan rasa mual akibat goyangan laju kereta. Dengan keadaan berdiri tepat di hadapan seorang pria yang duduk mengenakan kaos berwarna merah-muda. Kemudian ada seorang kakek tua yang berdiri tepat di hadapan pemuda yang mengenakan kaos warna merah-muda, pemuda berkaos merah-muda ini tak menghiraukan kakek tua yang berdiri dihadapannya. Kemudian spontan wanita yang diperankan oleh Gianna Jun ini, mengeplak kepala pemuda berkaos pink sampai ia mengeluarkan permen karet yang dikunyahnya, tak cukup sampai disitu dia memaki pemuda tersebut supaya berdiri dan mempersilahkan kakek tua yang berada dihadapannya untuk duduk.

Akibat teler yang hebat, si wanita ini tak sadarkan diri. Sebelum ia pingsan di dalam kereta, wanita ini—Ji-hyun Jun—memanggil—Kyun-woo—dengan panggilan “sayangku” atau “kekasihku”. Sontak seisi kereta mengetahuinya, alhasil Kyun-woo menggendong Ji-hyun keluar dari kereta karena pingsan. Kyun-woo paling benci dengan wanita mabuk, tetapi ia tak cukup tega untuk meninggalkannya sendiri. Sempat ia benar-benar ingin meninggalkannya di bangku tempat penumpang menunggu kereta, tetapi ia kembali dan menggendong Ji-hyun keluar dari stasiun kereta. Bingung karena wanita yang ia gendong belum juga sadar dan terbangun dari telernya, ia terpaksa mencari penginapan untuk mengistirahatkan punggungnya dan membaringkan wanita teler tersebut. 

Kejadian semakin rumit disini, setelah Kyun-woo mendapatkan penginapan untuk mereka berdua. Bukannya terbebas dari wanita teler yang ia gendong. Melainkan ia sempat merasakan sel didalam penjara bersama segerombolan preman yang berada satu sel bersamannya. Akibat ponsel Ji-hyun Jun berdering saat mereka berdua di sebuah motel. Ternyata orang tua Ji-hyun menelpon untuk menanyakan keberadaan putrinya. Dengan kondisi Ji-hyun yang masih tak sadarkan diri, dengan terpaksa Kyun-woo mengangkat ponsel milik Ji-hyun dengan mengatakan lokasi keberadaan mereka secara ditail. Setelah Kyun-woo merampungkan acara mandinya yang sempat tertunda dengan suara ponsel milik Ji-hyun, tiba-tiba polisi datang mendobrak pintu kamar mereka. Kyun-woo yang tak mengenakan handuk atau sehelai kainpun kaget dan mengangkat tangannya, yang tanpa sadar bagian “itu-nya” tak tertutupi oleh tangan. Mendekamlah sementara Kyun-woo kedalam sel penjara akibat tuduhan pelecehan seksual.

Tak butuh waktu lama, keesokan harinya Kyun-woo bebas. Dan Kyun-woo memutuskan untuk pulang kerumahnya. Tak sesuai harapan saat ia sampai dirumah, dengan kondisi awut-awutan—hanya memakai kaos dalam dan dengan rambut yang kucel—Kyun-woo bertemu Ibunya yang sedang membersihkan lantai rumah dengan vacum. Malah gagang pembersih lantai (vacum) menjadi pemukul yang empuk untuk Kyun-woo, karena ia telah berbohong pada Ibunya karena tak datang menemui bibinya kemarin. Kyun-woo menggerutu, “semua ini gara-gara gadis mabuk.” Sambil berlari menghindari Ibunya yang juga berlari mengangkat tongkat pembersih lantai yang terus tertuju untuknya.

Saat ia tiduran dikamar sambil membayangkan kisah hidupnya sewaktu kecil, ia mengingat kembali bagaimana ia dibesarkan oleh keluarganya.
   
   “Aku tahu sekarang, aku pelajar biasa. Mahasiswa Teknik. Belajar?” Kyun-woo terbaring sambil menggaruk-garukkan tangganya kedalam selimut yang menutupi dada dan bagian bawah tubuhnya.
   “Aku pintar, tapi tidak pernah belajar. Orang tuaku bisa membuktikannya.” Sambil cengar-cengir menikmati garukan tangannya.

Ia ingat, saat ia masih kecil dan nilai ujiannya mendapat nilai dengan tulisan merah ‘dua puluh’. Ia mendapat hukuman dari kedua orang tuannya dengan mengangkat barbel dengan posisi tangan keatas. Sambil diomeli oleh Ibunya.
   
   “Kau pintar sepertiku, masalahmu hanya belajar.” Ujar Ibunya kepada Kyun-woo yang masih mengangkat barbel dengan kepala tertunduk.

Kemudian Ayah Kyun-woo yang duduk disamping Ibunya juga ikut geregetan, kemudian berkata sambil mengangkat tangan kearah Kyun-woo, “Karena Kau mendapatkan kecerdasan dariku, Kau akan mendapat nilai lebih bagus jika belajar lebih rajin.”

Kemudian ia kembali mengingat saat tiga tahun setelah itu, ia duduk dibangku sekolah menengah. Dan setelah ia menyelesaikan ujiannya, ia-pun masih mendapat nilai merah dan masih tetap mendapatkan omelan dari sang Ibu dengan ritual serupa—mengangkat barbel dengan tangan diatas—.

   “Naik empat angka dalam tiga tahun.” Kata Ibunya dengan ekspresi kecewa.
   
   “Kau namakan ini kartu raport?” sang Ayah juga menimpali dengan menunjuk-nunjuk kertas yang ia bawa dengan angka merah bertuliskan angka ‘duapuluh empat’.

Kemudian kata-kata yang sama diutarakan oleh Ayahnya kepada Kyun-woo, “Karena Kau mendapatkan kepintaran dari Ibumu, Kau akan mendapat nilai lebih bagus jika belajar lebih rajin.”

Dalam lamunan-mimpinya Kyun-woo berkata, “Ketika kau membesarkan seorang anak, jangan pernah katakan dia pintar. Mereka tidak akan pernah belajar.”

   “Tujuan hidupku?”
   “Belum ku pikirkan.”
   “Benar sekali, Aku Mahasiswa yang tak mempunyai masa depan.”

Kemudian suara ponsel berdering dibalik bantalnya, yang membangunkan lamunan-mimpinya. Tak disangka, ternyata telpon yang Kyun-woo angkat bukan seperti yang ia harapkan. Suara galak nan cempreng itu dari seorang gadis. Ya gadis mabuk yang ia temui di kereta, yang membuat Kyun-woo merasakan bagaimana bermalam di dalam sel. Wanita itu adalah Ji-hyun. Begitulah awal mula bagaimana kisah cinta mereka ditulis dalam manuskrip hidup mereka.

Selanjutnya saya tak ingin berkata banyak lagi tentang film ini, biarkan anda melihatnya dan biarkan perasaan anda terumbah (baca:tercuci) dengan beberapa kejadian di film ini. Terutama saat wanita (Ji-hyun) berkata kepada salah seorang prajurit yang telah patah hati dan benar-benar putus asa kemudian hendak bunuh diri,

“Jika kau mati, dia akan cepat melupakanmu.
Apakah kau benar-benar mencintainya?, coba tanyakan pada dirimu sendiri.
Jika kau benar-benar mencintainya, kau harus bisa melepaskannya.
Jika tidak, itu bukan cinta.
Apa yang salah membiarkan seseorang yang kau cintai menikah?.
Orang sepertimu harus belajar lebih banyak tentang cinta.
Jika kita ingin belajar,
maka kita harus tetap hidup!.” –Ji hyun–

Takdir adalah memberi jembatan kesempatan buat orang yang kau cintai“–My Sassy Girl, 2001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar