Minggu, 17 Maret 2013

Rolling In The Deep – Peak Argopuro (Part 4)


Cover Rolling In The Deep (Part 4) - Danau Taman Hidup.
 
Dua-belas Maret, pukul 6:33 merupakan pagi yang indah, saya mendengar alarm alam saat itu dengan suara kicauan burung-burung hutan membangunkan saya di dalam tenda berselimutkan sleeping-bag, ditambah lembutnya belaian udara gunung membelai tiap persendian. Kami berduabelas orang yang semalam melakukan tracking terpaksa menghentikan perjalanan. Kami berhenti di persimpangan jalur. Entah, tak ada tanda atau plat yang menjelaskan keberadaan kami. Lokasi kami berada dekat aliran sungai yang mengering, mungkin bisa dikatakan bekas sungai. Dan di daerah sekitar kami mendirikan tenda terdapat semak dan tumbuhan perdu. Pagi yang indah waktu itu sedikit tertutupi dengan perasaan was-was, apalagi kalau bukan persediaan air. Estimasi perjalanan menuju Danau Taman Hidup, mungkin masih tiga jam perjalanan. Kami memutuskan untuk sarapan cepat pagi itu, dengan mengunyah ‘roti bungur’. Roti bungur adalah roti yang berupa biskuit lebih tepatnya, dan sudah tak utuh bentuknya. Bisa di katakan roti afkir (baca: roti bekas). Salah seorang teman membelinya di Bungurasih (terminal Purabaya-Surabaya) maka dari itu dinamakan roti bungur. Melihat wujudnya, mungkin biskuit ini biskuit sisa-sisa, biskuit remek-remek bekas dimakan orang lalu daripada dibuang, mending dijual. Tapi menurut saya ini camilan paling luar biasa untuk momen pagi yang pernah saya jalani, dengan sedikit terganjal saat mengunyah, karena belum gosok gigi.

Kami melanjutkan perjalanan, yang rencana akan tiba di Danau Taman Hidup dengan estimasi waktu 3-4 jam perjalanan. Kami melewati tanjakan dengan medan kanan-kiri menjulang Rumput Gajah setinggi 1,5 meter. Kami berjalan satu jam lamanya, dengan persediaan air yang kami irit-irit. Saya masih mengira jalan menuju Danau Taman Hidup akan menurun, ternyata tak semuanya benar. Setelah berjalan cukup lama saya kemudian menghilangkan pikiran dan perasaan itu, tak disangka kami diberikan bonus pemandangan yang luar biasa indah. Pemandangan yang berada di lereng bukit yang dapat melihat beberapa dataran rendah perkotaan termasuk pantai dan lautan. Saya tamati lagi pemandangan yang melengkapi pagi indah saya, ternyata beberapa pegunungan terlihat di sana. Saya dapat melihat pemandangan yang menuju kearah antara utara dan barat, terlihat Mahameru dan pegunungan lainnya. Kami terpaksa menikmatinya terlebih dahulu, dengan sedikit pendokumentasian dan sejenak suasana hening untuk benar-benar menikmati pemandangan pagi yang luar biasa waktu itu.

Sekitar setengah jam kami berhenti untuk mencintai keindahan pagi yang memperlihatkan panorama yang sungguh luar biasa indahnya. Kami meneruskan langkah demi langkah menuju Danau Taman Hidup, perjalanan cenderung menurun melipir perbukitan. Pemandangan lereng masih saja menggoda untuk di gumuli, tetapi pandangan mata ini harus tetap terfokus pada langkah karena banyak jalan yang berlubang dan berbatu jika kita tak hati-hati tak jarang kita tersandung.

Dua jam kami berjalan, sampai pada aliran sungai yang harus ditempuh melewati batang pohon yang miring untuk dapat menikmatinya. Kami berhenti sejenak di sini, mengisi air, dan beberapa rekan menghisap kreteknya dengan sedotan yang dalam, Puaaaasss sepertinya bertemu sumber air.

Tepat pukul 10:30 kami tiba di Danau Taman Hidup, sebelumnya saya tak mengetahui kami akan berhenti di tempat seperti apa, tetapi rekan-rekan yang berada di barisan depan sudah teriak-teriak, “Tuuuu, Tuuuuu,..”. dan teriakan bersyukur tak terbendung lagi. Saya yang berada di barisan paling belakang, juga ikut-ikutan teriak, menambah maraknnya suasana. Setelah salah satu rekan berteriak Danau Taman Hidup, saya semakin mempercepat langkah untuk segera.

Subhanallah, hamparan rumput yang berbaur dengan air, becek-becek gitu. Dan kami berlari mendekati bibir danau, menyerupai adegan berlari tentara-tentara di film Band Of Brother dan Saving Private Ryan dengan settingan becek-becek dan benar-benar gak ada ojek, apalagi Cinta Laura. Danau Taman Hidup adalah danau yang menurut pengamatan saya luar biasa magis, pada pengamatan awal saya danau tersebut awalnya sangat jelas tanpa kabut, setelah kami berdua-belas datang dan sangat norak (teriak-teriak ala ceribelle), tiba-tiba mendung datang dan pemandangan tak lagi jelas untuk dilihat. Mungkin sudah waktunya mendung dan turun hujan. Tapi menurut sebagian rekan, yang sudah pernah menikmati dan mencintai Danau Taman Hidup mengatakan serupa, seperti yang saya alami. Malah ada beberapa hal yang ekstrim, sampai turun hujan saat mereka gaduh di area Danau Taman Hidup.

Perjalanan saya di Gunung Argopuro memberikan banyak edukasi yang sangat mengena pada pribadi ini, selain kekuatan fisik dan mental. Argopuro mengajarkan bagaimana cara untuk bersabar dan mengerti rekan sesama perjalanan, walau bagaimanapun kesiapan kita untuk berjalan dan melewati medan yang luar biasa menantang, tetap kita tak bisa meninggalkan dan mengerti kesiapan rekan kita yang bersama kita. Ambilah contoh saat kami melakukan tracking malam menuju Danau Taman Hidup, ada rekan yang mengalami permasalahan dalam sandal dan bagian kaki yang lecet karena gesekan sandal akibat licinnya medan yang kami tempuh. Kami terpaksa berhenti dan menunggui dia untuk mengganti sandalnya yang penuh dengan lumpur dengan sepatu. Padahal pada awal saat sebelum melakukan perjalanan kami menganjurkan untuk memakai sepatu, karena daya cengkram tapal sepatu lebih kuat jika dibandingkan dengan sandal, tetapi rekan saya mungkin merasa nyaman menggunakan sandal saat itu. Mungkin sebuah kenyamanan pribadi tak selamanya menjadi pilihan bijak untuk sebuah kenyamanan tim/orang lain.

Selain itu, Argopuro memberikan makna dalam menggapai sebuah tujuan dalam kehidupan. Bagaimana saya harus menuntaskan perjalanan dengan track yang menantang naik dan turun seperti jalur rollcoaster, dan bisa kita bayangkan saat musim penghujan yang dapat dipastikan perjalanan bakal licin luar biasa. Jalan sebelum menuju Cikasur menurut saya adalah jalur pemanasan mental yang sangat berarti, kami melewati jalan setapak yang ukurannya selebar roda sepeda motor memaksa kita untuk berjalan layaknya peragawati dengan medan hutan yang lebat dan membawa tas yang lumayan berat. Perjalanan ini membuat perasaan saya bercampur aduk, antara ingin melanjutkan dan berputar arah untuk balik. Ada beberapa kesamaan dalam hal mencapai tujuan dalam kehidupan, mungkin tak jarang dari kita untuk berhenti ditengah jalan untuk sebuah mimpi dan gapaian hidup karena perasaan ragu dan kurang tatag (baca: teguh).

Dari memulai perjalanan sampai kondisi saat kami akan mengakhiri perjalanan (pulang), kami mendapatkan ujian dalam keteguhan hati. Setelah kami menuntaskan momen di Danau Taman Hidup, kami bergerak meninggalkannya dengan satu visi di depan mata yaitu pulang. Tetapi tunggu dulu, Argopuro memberikan pengalaman kontemplasi tersendiri untuk mencapai jalanan beraspal dan bertemu kearifan lokal warga desa Rengganis, kami harus menuntaskan perjalanan melewati jalanan yang menurun dan dipaksa melewati jalan yang tertutupi semak belukar dan batang pohon besar yang roboh menutupi jalur track. Jalur menuju desa Bremi, jika kita melaluinya dari Danau Taman Hidup banyak sekali percabangan jalan, kepercayaan tim dan mental tim diuji di jalur ini. Sama halnya dengan saat kita memutuskan untuk mencari jalan keluar untuk permasalahan kehidupan kita, tak jarang opsi jalan keluar yang ada sangat beragam. Jika kita salah memilih jalan keluar, tak jarang kita terjerumus dan menyesal. Tapi saya berprinsip lebih baik gagal daripada kau tak mencobanya sama sekali. Atau matilah dengan keyakinanmu, daripada kau hidup dari sebuah keraguan.

Butuh satu hari setelah perjalanan Argopuro saya memulihkan persendian yang njarem-njarem, sungguh luar biasa perjalanan kemarin. Saat ini saya sedang mengulang kembali momen-momen pendakian bersama rekan-rekan di sebuah warung kopi, bercerita dan bersyukur atas pembelajaran yang Tuhan berikan pada kami, sungguh sebuah perjalanan dan pembelajaran yang tak kau dapati di bangku sekolah apalagi pembuatan skripsi. Bagaimana sebuah perjalanan dapat sangat berarti bagi proses kehidupanmu?.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar