Kamis, 14 Maret 2013

Rolling In The Deep – Peak Argopuro (Part 1)



Cover Rolling In The Deep - Foto Adib Muhammad


Bersama rekan-rekan komunitas Germo Patas Jatim, saya mengunjungi Gunung Argopuro pada tanggal 9-12 Maret 2013. Start perjalanan pada tanggal 8, pukul 21.00 WIB di Terminal Purabaya (Bungurasih) Surabaya. Jumlah kami dua belas orang, yang mempunyai profesi cukup heterogen, mulai mahasiswa sampai raja minyak. Mulai yang single sampai beristri dua, Hehe.. tapi memiliki satu visi dan hobi yang sama, yaitu mendaki gunung dan menyusuri lembah.

Tujuan pertama keberangkatan kami sebelum mendaki ke puncak Argopuro, adalah perjalanan menuju Besuki kemudian mendaki Argopuro dengan start melalui Baderan. Kami tiba di Besuki pukul 2:26 tanggal 9 Maret 2013, kami disambut dengan lantunan musik dangdut dan beberapa aktivitas pedagang kaki lima yang menjual teh hangat dan wedang kopi. Di tempat kami turun (alun-alun Besuki) terdapat pasar, jika kalian ingin membeli beberapa keperluan logistik bisa membelinya di sini. Di depan alun-alun Besuki juga terdapat Indomaret, jadi untuk pemenuhan kebutuhan sebelum mendaki kita dapat melengkapinya di sini. Saya membeli beberapa batere untuk keperluan penerangan dan persediaan cadangan daya untuk kamera digital.

Tidak terlalu lama kami di Besuki, sebagian rekan kami langsung mencari angkutan yang akan mengantarkan kami ke Baderan. Kurang dari setengah jam, kami segera diboyong oleh angkot di Besuki menuju Baderan. Kami tiba di Baderan pukul 4:50. Terlihat beberapa rekan-rekan sesama pendaki sudah tiba terlebih dulu dari kami. Dan terlihat juga lebih dari 15 orang pendaki yang berseragam biru-oranye sudah mendirikan tenda dekat Sekolah Dasar yang bersampingan dengan Resort KSDA. Sepertinya mereka adalah pendaki yang sedang mengadakan acara Diklat dari luar Jawa Timur, karena terdengar dari logat bicara mereka (cengkok sunda campur tegal). Sebelum kami menuju Resort KSDA untuk melapor, kami sarapan terlebih dahulu di warung nasi depan rumah Kepala Resort Pemangkuan Hutan, BKPH Besuki, Sumber Malang. Kuliner pagi itu, mirip nasi pecel tapi condong ke nasi campur (yang penting kami bisa kentut). Setelah sarapan dan bersih diri, kami segera menuju Resort KSDA Baderan yang berada di selatan dari rumah Kepala Resort Pemangkuan Hutan. Atau mengikuti jalanan naik menuju kearah Sekolah Dasar di Baderan.

Siapkan fotocopi KTP (Kartu Tanda Penduduk) minimal dua lembar, dan KTP asli. Atau untuk berjaga-jaga selalu siapkan materai 6.000 rupiah untuk surat ijin masuk kawasan Konservasi (SIMAKSI). Tetapi pada saat kami melakukan registrasi dan pengurusan ijin, hanya menyerahkan fotocopi KTP. Untuk memasuki kawasan dan mendapat ijin mendaki, tidak ada ketentuan besaran biaya. Tetapi tetap secara kemanusiaan, kami menyumbang untuk kesejahteraan penjaga resort yang menurut kami, dengan jumlah penjaga resort yang terbatas (hanya tiga orang) tak sebanding dengan tanggung jawabnya menjaga kawasan hutan lindung yang berada di Pegunungan Yang Timur di Baderan (Argopuro). Sekedar info, saat kita mengunjungi dan mengurus perijinan mendaki kesiapan fisik dan mental harus benar-benar menjadi prioritas utama, karena penjaga resort di Baderan tidak segan-segan melarang calon pendaki untuk melanjutkan pendakiannya.

Kami berfoto bersama, sebelum meninggalkan Resort KSDA di Baderan. Untuk kenang-kenangan dan dokumentasi Resort KSDA Baderan. Kami berdua belas langsung dijemput oleh ojek yang sudah menunggu, kemudian kami segera meluncur meninggalkan Baderan. Dari Baderan menuju shelter 3 dapat ditempuh menggunakan transportasi motor (ojek) atau dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Tergantung selera, tenaga dan budget. Untuk satu transportasi ojek, saya mengeluarkan biaya ± Rp. 25.000,-/motor, dengan pertimbangan efisiensi waktu dan tenaga. Mengingat jarak tempuh pendakian melalui Baderan sangat panjang, menguras tenaga dan mental. Kami tiba di shelter 3 pada pukul 9:27, kami sudah disambut dengan gerimis yang bercampur udara dingin, setelah bergoyang dengan jalan makadam (berbatu). Baru beberapa menit perjalanan menggunakan transportasi ojek, saya benar-benar takjub dengan pemandangan bukit-bukit dan indahnya hutan yang terhampar di sisi kanan saya. Siapkan kamera saku untuk momen-momen langka, dan sapalah para petani yang ada dengan salam dan senyuman yang paling manis.

Pukul 13:49 kami tiba di Pos Mata Air 1, beberapa dari kami langsung membuka baju untuk aklimatisasi. Dan beberapa rekan ada yang refill air di sisi timur tempat kami membuka matras. Terdapat sungai yang mengalir, tetapi kita harus berhati-hati karena pada saat cuaca hujan jalan turun menuju sumber air ini cukup licin. Sedangkan sisi barat di seberang tempat kami duduk, jika kabut tak menghalangi terlihat pemandangan beberapa air terjun yang menawan diantara celah-celah hutan dan bukit, Subhanallah..

Setelah cukup mengisi perut untuk waktu siang, kami melanjutkan perjalanan yang rencananya menuju Cikasur. Tetapi pada kenyataannya perjalanan menuju Cikasur di luar ekspektasi kami, kabut dan hujan mulai membuat badan kami gemetaran. Savana Kecil juga belum kami lewati padahal jam tangan sudah menunjukkan pukul 17:15. Kami sudah mulai menyiapkan penerangan, headlamp, lampu senter, dan beberapa cahaya yang dapat diandalkan untuk menembus kabut. Kami melewati jalanan setapak bercampur lumpur akibat hujan deras yang membuat jalanan semakin licin. Kami berjalan tanpa tendensi lagi alias pasrah, mata kami kompak melihat dua arah, bawah (jalan setapak) dan sedikit melirik kedepan memastikan arah perjalanan kami benar. Perasaan saya mengatakan, ini baru dimulai!.

Hari sudah benar-benar gelap, dan kami masih terus berjalan. Tak terhitung berapa turunan dan tanjakan yang kami lewati. Tapi yang pasti, kami telah melewati padang rumput yang dapat saya pastikan ini Savana Kecil, setengah yakin dan setengah sanksi. Saat saya melewati, saya mencium aroma yang sangat wangi hampir sepanjang ± 300 meter aroma wangi ini muncul dan kemudian lenyap begitu seterusnya. Aroma wangi ini kata salah satu seorang rekan seperti bunga lavender, tapi menurut saya lebih mendekati wangi bunga kantil (jika orang Jawa menyebutnya), atau mungkin wangi bunga Edelweis. Saya tak tertarik membahasnya saat saya masih berjalan, mungkin hanya perasaan saya sendiri. Pandangan yang terbatas, membuat saya tak dapat mendiskripsikan secara tepat wangi apa yang tercium. Kami terus berjalan, dan tak jarang teriakan, “Break!!”, Terdengar setiap 30 menit sekali. Dengan track yang tertutupi kabut, membuat jarak dari kami semakin jauh merenggang. Kami mengalami gap.

Sampai pada tanjakan setelah Savana Kecil, kami berhenti menunggu rekan-rekan yang masih berjuang melewati tanjakan yang terjal dan tertutupi kabut di malam hari. Jika saya dapat menggambarkan suasana malam itu, jarak pandang kami antara setengah meter. Sedangkan kami yang sudah berada di atas menunggu rekan-rekan yang berjuang dengan tracking yang menanjak, tak terasa jari-jari kaki yang tak terbalut dengan sepatu ternyata menjadi santapan empuk lintah (hewan penghisap darah). Beberapa rekan kami yang merokok, terpaksa mengeluarkan bungkusan tembakau untuk penawar lintah -sang penghisap darah-.

Beberapa rekan kami, dan termasuk saya berjalan sambil menggigil, hentakkan gigi geraham berdentum membuat bunyi yang khas. Langkah kami juga sudah mulai tak berirama, tak jarang kaki-kaki kami menghantam batu dan kayu yang yang melintang di jalur tracking. Pandangan terhalang oleh hujan dan pekatnya kabut, dan kami mulai kehilangan kefokusan dalam berjalan. Ditambah lagi beban bawaan kami dengan cariel berisikan lebih dari kapasitas 60 liter. Kami kehilangan kesepakatan untuk perjalanan kali ini. Tim kami yang berjumlah 12 orang terbagi dua. Delapan orang termasuk saya memutuskan untuk bermalam di antara jalur Savana Kecil dan Savana Besar. Sedangkan rekan kami yang berjumlah 4 orang yang sudah mendahului kami berdelapan, terus berjalan jauh meninggalkan kami, entah mereka akan bermalam di mana, kami kehilangan langkah dan komunikasi malam ini. bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar