Selasa, 19 Maret 2013

Belajar Bagaimana Career Break ala Nona Ransel

Foto: Abdurrahman A.

Pada sebuah kesempatan, saat saya membuka blog dan memutuskan memutar daftar bacaan di list blog saya. Ada beberapa bacaan dari acara blogwalking yang saya lakukan, terutama dari blog Nona Ransel yang sangat menyita perhatian. Nona Ransel pada kesempatannya menuliskan sebuah opini berjudul ‘Career Break’ lebih tepatnya ‘Arti Penting Sebuah Career Break. Saya tertarik untuk membacanya sampai habis dan mencoba memahami inti dari tulisan tersebut. Nona Ransel atau boleh saya sebutkan dengan inisial (NR), menceritakan bagaimana ia merasakan sebuah kejenuhan dari pekerjaaan yang selama ini ia jalani. NR memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan meneruskan mimpinya dalam dunia travelling yang sempat tertunda, menurut saya ini adalah keputusan yang gila.

NR adalah seorang wanita yang melakukan passion-nya di bidang solo travelling, dan ia bukanlah wanita satu-satunya yang menganut paham female solo travelling. Ada banyak wanita di luar sana yang memiliki passion serupa, seperti Trinity yang sudah sangat meracuni pembaca dengan seri buku garapannya ‘The Naked Traveller’. Sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya: “Ide gila dari mana yang mereka dapat, sampai benar-benar memutuskan berpergian seorang diri?”. Beberapa opini yang mereka katakan kepada pembaca adalah perlawanan dari ‘zona nyaman’, dan penggapaian mimpi dalam sebuah passion travelling yang merasa ‘terkungkung’ jika hanya ditentukan dengan kalender libur dan cuti yang menurut mereka terlalu singkat.

Kembali ke sebuah pikiran career break seorang NR, yang beranggapan bahwa dengan melakukan solo travelling selama kurang lebih 14 bulan mengelilingi beberapa belahan bumi dan hidup dalam sebuah ketidakpastian (jika saya boleh mengatakan seperti itu). NR meyakini proses solo travelling-nya sebagai sebuah kedamaian personal dan merupakan bagian dari kehidupannya.

Pertama kali membaca, saya mempunyai pemikiran bahwa NR sedang punya masalah yang sangat serius. Masalah keluarga, masalah pekerjaan, atau masalah asmara, mungkin? Haha.. 
 
Tetapi personal passion seseorang menjadi hal yang sangat mutlak dimiliki. Karena menurut saya kita sudah sangat jengah dijejali rasa dan pikiran yang sama. Ambil contoh saat saya merayakan ultah yang ke 4, banyak orang tua dan keluarga menanyakan cita-cita kepada saya. Padahal saya pada saat itu hanya ingin bermain dan mengenal lebih banyak teman. Malah ada hal lucu, saat saya datang ke acara ultah teman semasa kecil, saat Ayah dan Ibunya menanyakan cita-cita kepada teman saya. Teman saya menjawab ingin menjadi Power Ranger sambil menangis, kemudian Ayah dan Ibunya malah tertawa terbahak-bahak, kemudian menimpali kalau buah hatinya lebih cocok menjadi seorang dokter. Seandainya Ayah dan Ibunya mengerti perasaan anaknya. Kalau teman saya ini, ingin sekali mendapat hadiah Power Ranger di hari saat ia ultah. Karena pada saat saya ultah, saya mendapatkan hadiah Power Ranger warna merah dan ia sangat menginginkannya. Menurut dia, saya tak pantas mendapatkan Power Ranger jika saya selalu mengidolakan Kesatria Baja Hitam. Berdamailah dengan diri sendiri, maafkanlah dirimu!.

Dari keputusan career break seorang NR. Saya menjadi orang yang terbelajar bagaimana kita dengan impian, passion, dan melawan kenyamanan. NR sekarang sudah kembali ke tanah air menjalani sebuah refleksi diri dengan membuat buku yang berisikan pengalaman perjalanannya. Berbagi pemikiran-pemikiran dan pengalaman saat perjalanannya. Inspiratif sekali!. Mari keluarlah dari kotakmu, kalau saya boleh meminjam bahasa keren dari itu: “Out Of The Box-Lah Saudara-saudara sekalian!”

2 komentar:

  1. out of the box, bukan hal yang sederhana. tetapi efeknya sangat luar biasa bung! :)

    BalasHapus