Aurat yang enak, atau Aurat yang harus disembunyikan?

Aurat yang Yummy..

 Berawal dari cerita ini. Saya bertemu dengan teman saya sewaktu SMP, sebut saja dia Bagio. Bagio dulu waktu SMP memang terkenal pendiem. Tak juga memiliki sifat pendiem, si Bagio juga punya sifat yang sepaket dengan diemnya, yaitu sabar. Pernah waktu itu, Bagio dikerjai habis-habisan seperti dicomblangin dengan ‘bunga sekolah’ kami saat itu. Alhasil muka Bagio memerah bak pantat sapi yang sedang estrus. Pernah juga Bagio disembunyikan di toilet wanita, saat jam olahraga berlangsung. Bukannya marah, ia malah bikin puisi didalam toilet dan akhirnya puisi tersebut terpampang di mading sekolah dengan judul ‘sabar di dalam toilet’.

Bagio yang saat sekolah tak pernah dekat dengan wanita di sekolah kami, apalagi terlihat jalan berdua dengan seorang wanita. Bagio mungkin bisa dikatakan single 24 tahun, waktu itu. Tapi baru-baru ini saya bertemu dengannya, di salah satu mal di Surabaya, ia terlihat lebih gemukkan sambil menggendong bayi laki-laki yang sangat lucu. Sontak saya kaget melihat parasnya. Seperti sebuah metamorfosa yang tak sekalipun saya bayangkan sebelumnya. Bagio SMP dengan segala sifat penakut, dan kediemannya sekarang Bagio berubah bak seorang bapak yang superior. Kenapa superior?, karena beberapa menit sebelum saya benar-benar menyapa dan mengagetkannya, Bagio culun yang saya kenal waktu SMP ternyata juga bersama wanita. Wanita yang sedang bersamanya ternyata istrinya. Wanita ini atau istri Bagio mengenakan jilbab merah muda, dia tak pendek dan juga tak tinggi dengan setelan senada dengan jilbab yang ia kenakan terasa setiap pria yang memandangnya merasa adem. Astaghfirulllah.

Tidak ingin mengganggu acara Bagio dan keluarga, saya memutuskan untuk meminta nomer handphone karena saya yakin perasaan bangga plus kaget ini belum terpuaskan waktunya. Mungkin lain kali saya akan menghampirinya, dan ngobrol habis-habisan.

***

Bagio, Wanita, dan Aurat.

Bagio pernah bertanya pada saya tentang kaitan coklat dengan wanita. Waktu itu ia bertanya jika ada dua batang coklat yang ia miliki, satu terbungkus dan coklat berikutnya tak terbungkus. Kemudian jika kedua coklat tersebut dijatuhkan ke tanah, coklat manakah yang akan saya ambil dan kemudian memakannya?. Saya jawab, jelas coklat yang terbungkus. Begitulah Bagio mengibaratkan memilih wanitanya untuk dijadikan istri, dia memilih Lina (sebut saja begitu) sebagai istrinya karena selain terpesona dengan paras yang berhijab, dia juga mengakui seseorang yang ia nikahi satu tahun yang lalu itu mempunyai kepribadian yang luar biasa terjaga. Ibarat iklan minum tolak angin: Bagio orang yang bejo.

Man, saya dulu dikenal sama teman-teman memang orang yang luar biasa penakut dan penuh pertimbangan. Sekarangpun saya masih tetap. Tetapi ada beberapa hal yang saya rubah setelah saya dengan Lina, yaitu sebuah keberanian untuk berbuat baik dan membagikannya (pengalaman) kepada siapapun,” Bagio merasa menyesal baru melakukannya akhir-akhir ini. Keberanian itu muncul saat ia melihat Lina di bangku perkuliahan. Lina adalah salah satu orang yang membuat Bagio menjadi berani seperti yang saya lihat sekarang. Mungkin Bagio tidak cukup berani untuk membagikan hal selain pengalamannya, hehe

Bagio juga mengatakan bahwa wanita-wanita yang sekarang ia umum temui membuatnya bingung. “Lah kenapa?”, tanyaku bersemangat. “Wanita-wanita saiki man, makin wani ngetokno anune” (wanita-wanita sekarang semakin berani memperlihatkan anu-nya), komentar Bagio dengan sedikit meringis kepada saya. Mungkin inilah salah satu alasan Bagio untuk selektif memilih wanita. 

Apa yang membuat aurat bisa membuat banyak orang sangat penasaran ingin melihat? Meskipun bentuknya juga gitu-gitu aja? Sangat sederhana, karena dia selalu disembunyikan,” ucap Bagio dengan nada yang jelas. Kalau kata kang Swiss, “Semakin tinggi gunung menjulang, semakin tertantang orang untuk menaklukkannya. Seperti hukum termodinamika, semakin besar energi laju benda, semakin besar tenaga yang dibutuhkan untuk menghentikannya”. Mungkin saya sedikit bingung, karena ilmu saya untuk hal ini masih cetek jika dibandingkan dengan Bagio dan kang Swiss.

Beda Bagio dan kang Swiss, dengan pengalaman Mrs. T dalam blognya The Naked Traveller saat melakukan perjalanannya menuju Onsen yang merupakan pemandian air hangat di Jepang. Mrs. T dalam pengalamannya ‘mandi bugil’ juga beropini bahwa, “Kalau dari kecil sudah biasa melihat ketelanjangan, mungkin di sana nggak ada tukang ngintip atau bahkan pemerkosaan. Bukankah yang ditutup-tutupi justru bikin orang penasaran dan malah ingin “membukanya”?”

Ada pertanyaan, mengapa yang enak-enak itu dilarang, malah juga diharamkan?. Mungkin logika sederhananya, yang dilarang, dan sesuatu yang disembunyikan, atau mungkin sedikit berunsur kemalu-maluan, itu pasti enak.

Ah, saya masih kepikiran sama tulisan kang Swiss tentang, “Aurat adalah hal yang memang harus disembunyikan, ataukah aurat adalah sesuatu yang enak?”.

2 komentar

  1. Setau saya orang Indonesia itu punya sifat mudah penasaran dan tidak bisa lihat barang nganggur. Kalau dikombinasikan jadilah sifat tukang intip tersebut.

    BalasHapus
  2. Indonesian people are people who care. haha :D

    BalasHapus

Pasang Iklanmu di sini