Jumat, 29 Maret 2013

Saya Berteriak J*ncuk di Warkop!

Siang hari setelah shalat Jum’at usai, saya sempatkan untuk ke kedai kopi (itu istilah kerennya), tapi saya lebih nyaman bilang warung kopi, hehe. Hari libur membuat saya mengantuk. Saya memesan kopi dengan sedikit gula, sembari menunggu pesanan kopi saya datang. Saya membuka bungkusan kretek yang di dalamnya tinggal tiga batang, dengan sedikit sobekkan tambahan supaya kretek yang saling berhimpit itu mau keluar. Suasana di kedai kopi (ups itu lagi, panggil aku warung-kopi saja deh bang!, hehe) yang kerap ramai oleh pegawai kantor dan mahasiswa nampaknya lagi sepi, biasanya kalau jam makan siang tiba seperti sekarang, saya selalu terabaikan oleh kang Icang sang empunya warkop. Tujuh menit berlalu, begitu saja. Kemudian sosok manusia bertubuh tambun datang menuju meja saya, sambil membawa kopi pesanan saya. Lah, wong sing dirasani teko. (orang yang digosipin datang) Hehe..

Ini bos kopine. kok dewean ae?, gak preian ta?.” Sapa kang Icang kepada saya, yang sempat saya acuhkan dengan membasuh keringat di kening.
gak cak, bar ngene apene nang Jombang survey.” Jawabku lirih, kemudian sambil menghembuskan asap kretek kearah sisi celana bahanku.
eh kooon, prei-prei mborong teruuus..” sahut kang Icang, sambil tertawa.
Saya tak tertarik untuk melanjutkan guyonannya.

Kopi yang nampaknya sangat panas itu, semakin menarik perhatian saya karena berpadu bersama dengan alas berbahan beling (orang daerah saya sering menyebutnya lepek) dan penutup gelas berbahan plastik berwarna merah muda. Kemudian saya membuka sedikit penutup gelas berwarna merah muda yang menutupi bibir gelas sehingga kepulan uap air dari larutan kopi yang panas itu keluar bergantian, ini merupakan bagian awal saya untuk menikmati kopi sebelum masuk dan bercampur dengan saliva. Kemudian setelah saya puas membaui aroma larutan kopi yang membuat sebagian saraf penciuman saya berinteraksi dengan kelenjar parotis dengan mengatakan, “Hello bro!.” (gak nyambung ya) Saya segera memiringkan gelas yang berisi larutan kopi hitam ke permukaan lepek beling yang berada tepat di bawah gelas tersebut, saya melakukannya dengan hati-hati meski saya sudah sangat sering melakukannya, permukaan gelas yang saya pegang dengan tiga jari terasa menyengat sampai kelapisan dermal kulit praktis membuat saya sedikit berkrenyit genit. Saya menuangkan larutan kopi hitam tersebut kira-kira sampai berdiameter empat centi dia atas lepek beling yang transparan itu. Sambil menghisap kretek dalam-dalam, dan berharap kopi yang saya tuang barusan menjadi setengah hangat untuk segera saya minum.

Kemudian mata saya tertarik dengan tumpukkan koran yang berada di seberang meja tempat saya duduk. Tetapi siang ini saya nampak agak malas untuk banyak bergerak apalagi membaca koran. Lima menit berlalu. Kemudian setelah seruputan pertama saya dengan kopi hitam yang nyaris sempurna itu, saya beranjak dari tempat duduk untuk menuju meja dengan tumpukkan koran yang dari tadi menyita perhatian saya. Saya ambil koran tersebut membuka halaman Sport untuk membuka semangat baca saya, dengan berita tim kesayangan saya AC Milan, yang menjadi tim terbaik di 2013 di atas El Barca ataupun El Real, dengan tim yang tak terkalahkan selama kurang lebih tiga belas pertemuannya di tahun 2013. Forza Rosoneriii!!!.

Kemudian saya mengalihkan pandangan menuju halaman awal koran. Koran Jawa Pos, hari Jum’at dengan tanggal 29 Maret 2013. Saya memang sangat suka kolom paling bawah di bagian sisi kiri dan sisi paling kanan JP. Di sisi kiri ada kolom yang berjudul “ada-ada saja” biasanya berita yang dibahas merupakan kejadian atau behaviour masyarakat di seluruh dunia dengan kejadian yang tak umum (aneh) dan menarik. Kemudian di sisi paling kanan dengan kolom “Mr. Pecut” dengan komentar nyentil beraksen humor dari berita yang lagi update hari itu. Kemudian saya mengarahkan mata menuju kolom di antara dua kolom yang sudah saya baca, kolom paling bawah diantara Kolom ada-ada saja dan Mr. Pecut, biasanya jika liburan seperti ini membahas beberapa kegiatan travelling. Kebetulan tepat, saat itu saya membaca reporter JP sedang bertandang menuju Berlin, dan menuju perbatasan antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Mengunjungi kawasan checkpoint (perbatasan) yang menurut sejarah, dahulunya merupakan daerah yang sangat mengerikan dengan berbagai konflik peperangan. Kita ketahui bagaimana Jerman memiliki teknologi Tank dengan sebutan ‘The Power of Panzer’ sebagai kekuatan yang sangat berpengaruh di dunia. Tetapi reporter JP yang bertandang kesana sangat mengerti bagaimana membawa pembaca untuk memposisikan dan seolah-olah berada di sana saat itu. Sungguh saya menikmati sekali membaca alur yang disampaikan oleh reporter JP mengenai laporan travelling mengunjungi salah satu kawasan atau daerah yang menjadi bagian sejarah perang dunia tersebut. Sampailah saya kepada halaman sambungan dari cerita kawasan Berlin, dan daerah checkpoint yang dijaga oleh militer ‘tak berseragam’ dan ‘sangat ramah’ dengan berteriak meminta berfoto bersama. Saya semakin penasaran, siapa sih reporter ini?. Saya segera membalik koran untuk menuju ke halaman awal JP, saya cari tulisan dengan Bold tebal, biasanya reporter yang mengabarkan cerita perjalanan tertulis dengan tipe tulisan semacam itu. Tepat, saya menemukan namanya. Saya membaca namanya hampir tiga kali, sial sangat merepotkan!. Saya seperti pernah kenal siapa nama ini. Saya ingat-ingat berapa menit, kemudian saya teriak, “JANCUK!,” sambil mengarahkan telunjuk kearah koran yang saya baca. Sontak seisi kedai menoleh kearah saya dengan memasang raut heran dan setengah prihatin. (barang kali mereka melihat dandanan saya ala kyai, tapi medingkrang nang warkop moco koran lalu mesah-misuh), haha..

“Dan kenapa saya begitu terkejut bukan main?,”
“Memangnya siapa reporter Jawa Pos, yang sampai membuat saya mengeluarkan kata-kata sakral Arek Suroboyo?.”

***

Berikut penjelasannya,
Saya awali dengan Salam JANCUK!, salam sesama masyarakat Suroboyo, tanpa intonasi marah, tetapi dengan aksen senyum plus rindu, tolong artikan sendiri. Saya membaca nama reporter Jawa Pos saat itu setengah mangkel, setengah bangga. Lah gimana ya?, pokoknya bingung ngatur kata-katanya lah. Saya mungkin sudah tiga kali ini dibuatnya kaget di depan koran dan di warung kopi. Lebih mangkelnya lagi, emosi jiwa ini tak tersalurkan ke manusianya langsung. Huuuuhaaaaaaaahh, saya atur frekuensi nafas dulu saudara-saudara.

Well, begini nama reporter JP yang saya baca itu adalah rekan saya sewaktu KKN dulu. Saya dulu KKN di ‘moroseneng’, deket Tandes dan Benowo-Surabaya. Daerah yang kerap dikunjungi oleh laki-laki yang bosan dirumah dan ingin mencari kehangatan di luar. (udah ah cari aja di Google map atau wikimapia). Rekan saya ini, mengapa membuat saya kaget?, Karena namanya sudah hampir 3 sampai 4 kali terbaca oleh mata saya, yang paling saya ingat adalah waktu saya membaca kolom yang membahas dunia fotografi khususnya komunitas fotografi terkenal di Surabaya sebagai “langkah memasuki dunia enterpreneur muda”, saya memang suka banget dengan dunia foto dan segala aktivitas di dalamnya. Rekan saya ini pasti ngerti, karena saat kami KKN (Kuliah Kerja Nyata) ada beberapa momen dimana saya dengan dia ngobrol mengenai hoby dan cita-cita kami berdua sampai larut malam dan sangat asyik. Eh, gak tahunya setelah dua tahun kami tak bersua, dia tiba-tiba muncul di koran dengan berita yang membuat saya naik pitam. “Aluuuuuuuuss banget maenmu Bro!”.

Kemudian, beberapa bulan yang lalu saya memang ngidam banget sama Jerman dan semua informasi teknologinya. Bersyukur hari ini ada yang ngebahas di koran, dengan sudut pandang wisata dan travelling. Sempat dalam hati menyanjung reporter yang menuliskannya dengan apik ini. Tapi semakin emosi jiwa saat membaca tulisan rekan yang dulunya satu bulan full ngocol bareng ini, dan benar-benar deh saya gak nyangka. Karena reporter ‘gadungan’ ini yang dulu sempat saya kenal adalah pria pemalas, jarang mandi, pendiem, penghindar keramaian, seharian bisanya ngegame terus, dan masih banyak lagi kelebihan-kelebihan yang tak mungkin saya sebutkan satu-persatu. Cuma yang sangat membuat saya shock adalah, dia sekarang juga melakukan kegiatan travelling sama seperti 2 tahun yang lalu, saat saya bilang ke dia tentang rencana saya berjalan. Dan sekarang dia mencurinya, satu demi satu. Oke cukup!.

Oke bro, mungkin beberapa bulan terakhir ini, saya telah kalian kejutkan dengan banyak kondisi dari kalian yang sangat superior jika dibandingkan dari saya sekarang. Mulai dari si Bagio dengan istrinya Lina (ceritanya disini), sampai Reporter Gadungan yang saya bahas sekarang, sampai memaksa saya mengeluarkan kata sakral Arek Suroboyo di warung kopi tepat setelah Jum’atan. Semoga kabar-kabar baik ini, terus menderu perantara angin dan seperti derasnya air hujan yang membasahi keringnya bumi. Ayo Broooo, terus-teruskan nyalain gasnya, saya sudah menyiapkan apinya. NerakAAA!. \m/



Lihat saja nanti, Saya akan bikin perhitungan! (meringis licik sambil gulung sarung) hehe..

Rabu, 27 Maret 2013

Aurat yang enak, atau Aurat yang harus disembunyikan?

Aurat yang Yummy..

 Berawal dari cerita ini. Saya bertemu dengan teman saya sewaktu SMP, sebut saja dia Bagio. Bagio dulu waktu SMP memang terkenal pendiem. Tak juga memiliki sifat pendiem, si Bagio juga punya sifat yang sepaket dengan diemnya, yaitu sabar. Pernah waktu itu, Bagio dikerjai habis-habisan seperti dicomblangin dengan ‘bunga sekolah’ kami saat itu. Alhasil muka Bagio memerah bak pantat sapi yang sedang estrus. Pernah juga Bagio disembunyikan di toilet wanita, saat jam olahraga berlangsung. Bukannya marah, ia malah bikin puisi didalam toilet dan akhirnya puisi tersebut terpampang di mading sekolah dengan judul ‘sabar di dalam toilet’.

Bagio yang saat sekolah tak pernah dekat dengan wanita di sekolah kami, apalagi terlihat jalan berdua dengan seorang wanita. Bagio mungkin bisa dikatakan single 24 tahun, waktu itu. Tapi baru-baru ini saya bertemu dengannya, di salah satu mal di Surabaya, ia terlihat lebih gemukkan sambil menggendong bayi laki-laki yang sangat lucu. Sontak saya kaget melihat parasnya. Seperti sebuah metamorfosa yang tak sekalipun saya bayangkan sebelumnya. Bagio SMP dengan segala sifat penakut, dan kediemannya sekarang Bagio berubah bak seorang bapak yang superior. Kenapa superior?, karena beberapa menit sebelum saya benar-benar menyapa dan mengagetkannya, Bagio culun yang saya kenal waktu SMP ternyata juga bersama wanita. Wanita yang sedang bersamanya ternyata istrinya. Wanita ini atau istri Bagio mengenakan jilbab merah muda, dia tak pendek dan juga tak tinggi dengan setelan senada dengan jilbab yang ia kenakan terasa setiap pria yang memandangnya merasa adem. Astaghfirulllah.

Tidak ingin mengganggu acara Bagio dan keluarga, saya memutuskan untuk meminta nomer handphone karena saya yakin perasaan bangga plus kaget ini belum terpuaskan waktunya. Mungkin lain kali saya akan menghampirinya, dan ngobrol habis-habisan.

***

Bagio, Wanita, dan Aurat.

Bagio pernah bertanya pada saya tentang kaitan coklat dengan wanita. Waktu itu ia bertanya jika ada dua batang coklat yang ia miliki, satu terbungkus dan coklat berikutnya tak terbungkus. Kemudian jika kedua coklat tersebut dijatuhkan ke tanah, coklat manakah yang akan saya ambil dan kemudian memakannya?. Saya jawab, jelas coklat yang terbungkus. Begitulah Bagio mengibaratkan memilih wanitanya untuk dijadikan istri, dia memilih Lina (sebut saja begitu) sebagai istrinya karena selain terpesona dengan paras yang berhijab, dia juga mengakui seseorang yang ia nikahi satu tahun yang lalu itu mempunyai kepribadian yang luar biasa terjaga. Ibarat iklan minum tolak angin: Bagio orang yang bejo.

Man, saya dulu dikenal sama teman-teman memang orang yang luar biasa penakut dan penuh pertimbangan. Sekarangpun saya masih tetap. Tetapi ada beberapa hal yang saya rubah setelah saya dengan Lina, yaitu sebuah keberanian untuk berbuat baik dan membagikannya (pengalaman) kepada siapapun,” Bagio merasa menyesal baru melakukannya akhir-akhir ini. Keberanian itu muncul saat ia melihat Lina di bangku perkuliahan. Lina adalah salah satu orang yang membuat Bagio menjadi berani seperti yang saya lihat sekarang. Mungkin Bagio tidak cukup berani untuk membagikan hal selain pengalamannya, hehe

Bagio juga mengatakan bahwa wanita-wanita yang sekarang ia umum temui membuatnya bingung. “Lah kenapa?”, tanyaku bersemangat. “Wanita-wanita saiki man, makin wani ngetokno anune” (wanita-wanita sekarang semakin berani memperlihatkan anu-nya), komentar Bagio dengan sedikit meringis kepada saya. Mungkin inilah salah satu alasan Bagio untuk selektif memilih wanita. 

Apa yang membuat aurat bisa membuat banyak orang sangat penasaran ingin melihat? Meskipun bentuknya juga gitu-gitu aja? Sangat sederhana, karena dia selalu disembunyikan,” ucap Bagio dengan nada yang jelas. Kalau kata kang Swiss, “Semakin tinggi gunung menjulang, semakin tertantang orang untuk menaklukkannya. Seperti hukum termodinamika, semakin besar energi laju benda, semakin besar tenaga yang dibutuhkan untuk menghentikannya”. Mungkin saya sedikit bingung, karena ilmu saya untuk hal ini masih cetek jika dibandingkan dengan Bagio dan kang Swiss.

Beda Bagio dan kang Swiss, dengan pengalaman Mrs. T dalam blognya The Naked Traveller saat melakukan perjalanannya menuju Onsen yang merupakan pemandian air hangat di Jepang. Mrs. T dalam pengalamannya ‘mandi bugil’ juga beropini bahwa, “Kalau dari kecil sudah biasa melihat ketelanjangan, mungkin di sana nggak ada tukang ngintip atau bahkan pemerkosaan. Bukankah yang ditutup-tutupi justru bikin orang penasaran dan malah ingin “membukanya”?”

Ada pertanyaan, mengapa yang enak-enak itu dilarang, malah juga diharamkan?. Mungkin logika sederhananya, yang dilarang, dan sesuatu yang disembunyikan, atau mungkin sedikit berunsur kemalu-maluan, itu pasti enak.

Ah, saya masih kepikiran sama tulisan kang Swiss tentang, “Aurat adalah hal yang memang harus disembunyikan, ataukah aurat adalah sesuatu yang enak?”.

Selasa, 26 Maret 2013

Meh 800!

Statistik "Catatan Si Man!" pada bulan Maret.

Saya mulai menulis dan mempublish tulisan di blog pada pertengahan tahun 2007, itupun masih belum benar-benar konsen. Ketertarikan pada blog, berawal dari beberapa penelusuran yang di arahkan Google. Pada saat itu saya mencari refrensi untuk tiga Taman Nasional yang akan saya kunjungi pada tiap tahun kegiatan Ormawa kampus. Dan sampailah saya pada blog Baluran and Me yang merupakan milik pria bernama Swiss Winansis, sang empunya blog ternyata seorang pengendali ekosistem hutan Taman Nasional Baluran. Saat itu saya langsung mencari kata Baluran yang dapat saya jadikan informasi di dalam blog tersebut, kemudian langsung klik save page as + enter. Tak sadar ternyata, blog itu sekarang menjadi panutan saya.

Pada bulan berikutnya, saya baru ingat jika saya mengumpulkan lumayan banyak save-save-van blog sebagai refrensi bacaan saya. Disinilah saya benar-benar jatuh cinta dengan blog, dan mulai memutuskan untuk lebih dekat dengannya (ngeblog). Pada akhir tahun 2007, saya memberanikan untuk nulis ngawur di blog buatan saya. Kalau ibarat anak kecil ingin belajar sepeda, minimal ia harus bisa nyetir dulu sambil jalan kaki. Lalu hari berikutnya ia harus langsung ngebut. Jatuh? Gak masalah, yang penting ia ngerti kalau dengan cara ngebut tanpa handling yang baik ia akan nyosor. Begitulah saya saat itu dengan blog saya. Tetapi ada perasaan puas, dimana keinginan dan hasrat saya untuk menulis dan berbagi terpenuhi di blog pada saat itu. 

Pemilik blog memang tidak dituntut untuk rajin posting. Tetapi ada yang perlu diingat, bahwa sebelum saya memutuskan untuk ngeblog, ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan pada diri saya sendiri. “Apakah saya memang senang menulis? Saya jawab iya, karena dengan menulis kita pasti membaca”. Kalau om Fary SJ bilang dalam bukunya, “ngeblog itu menulis. Atau setidaknya sebagian besar diisi dengan menulis (kegiatan lainnya mengisi foto atau video)”. Jadi jika kita ingin menjadi blogger, ya syarat utama kita harus menulis. Tidak suka menulis? Memang blog bukan media yang cocok. Mungkin Facebook yang pas.

Selain menulis, kita juga otomatis suka baca. Mustahlah jika kita menulis tanpa membaca kan?. Jadi suka membaca menjadi pertanyaan kedua untuk kita yang memutuskan untuk menjadi blogger. Karena bisa dipastikan mereka yang suka membaca umumnya tidak kehabisan ide. Tanpa kita sadari, kegemaran dalam hal membaca juga sangat membantu kita untuk memperkaya wawasan dalam sebuah postingan yang diharapkan semakin hari semakin berkualitas. Ambil contoh saya sendiri, tulisan saya saat itu dan mungkin sampai sekarang masih acak-acakkan, perkara diksi dan beberapa susunan kalimat sangat jauh dari baik. Saya sangat membuka diri untuk belajar, bersyukur kawan-kawan dekat saya selalu mengingatkan ini dan itu setelah saya memposting. Saya sangat berterimakasih jika saya selalu diingatkan dan mempunyai kawan-kawan yang care. Mungkin setelah postingan ini saya dapat traktiran.

Kemudian setelah suka menulis, dan membaca. Pertanyaan ketiga tentang tujuan kita ngeblog dan apa pesan kita untuk pembaca?. Pada saat itu sebenarnya saya memutuskan untuk membuat blog, hanya untuk berbagi. Kepada siapa?, kepada siapapun yang membutuhkan. Tentang apa?, tentang apapun yang saya anggap itu ‘perlu’ untuk saya share-kan kepada pembaca. Karena dari sebuah pengalaman pribadi seseorang, dari hal sepele dan terkecil akan sangat berguna untuk proses belajar orang lain. Kalau boleh meminjam kata kang Swiss, “ilmu itu murah kalau gak bisa gratis”. Karena pada saat saya melakukan penelusuran via mesin yang bernama Google (golek ono sampek pegel) saya merasa sangat terbantu. Dan inilah salah satu hal yang mendasari saya untuk menulis dan mempublishnya melalui blog. Mungkin banyak yang ngeblog untuk bersenang-senang. Menurut saya itu tidak menjadi masalah memang, tetapi eman-eman waktumu kalau kau pakai blog untuk bersenang-senang semata. Jadi jika ingin ngeblog pertanyaan utama yang mendasarinya adalah: untuk apa ngeblog?, apa pesan yang ingin disampaiakan?, apa tujuannya? Apakah ingin membagi informasi? Apakah ingin menambah ilmu? Apakah ingin mendapatkan pengalaman lain?, ya mungkin sampeyan yang lebih paham. Monggo..

Untuk ngeblog, kalau kata blogger-blogger lain, sampeyan minimal kudu duwe (harus punya) waktu senggang atau menyiapkan waktu khusus. Umumnya berkisar pada lima hingga enam puluh menit dalam sehari. Anda tak bisa membuat posting di saat bersamaan melakukan tugas kantor. Jadi jika anda cukup sibuk untuk menjalani aktivitas lain (misalnya di kantor, sekolah, atau kuliah), sebaiknya pertimbangkan dulu keinginan anda untuk menjadi blogger.

Seorang yang tak punya waktu tak akan pernah bisa menjadi seorang blogger. –Fary SJ Oroh.

Kata blogger kawakkan, ngeblog itu mudah. Banyak kemudahan yang ditawarkan. Tapi tetap saja sebuah posting tak akan terjadi dengan sendirinya. Sebuah posting hanya bisa tercipta jika pemiliknya punya inisiatif. Jika anda tak mudah berinisiatif atau terbiasa menerima perintah atau saran dari pihak lain, maka blog mungkin tidak tepat untuk anda, untuk bisa ngeblog, anda harus punya inisiatif sendiri. Oh, blogger kawakkan, kenapa bahasamu terlalu pedas, sepedas harga cabe saat ini, hehe..

Yah, sebenarnya saya tidak sepenuhnya mengamini kata-kata mereka (blogger kawakkan), tentang dan bagaimana alasan untuk ngeblog. Menurut saya biarlah seleksi alam yang ngatur. Toh belajar dan suka itu berawal dari nyoba dulu toh, kemudian ia tau mana yang membuat mereka sendiri nyaman untuk melakukan dan meneruskannya. Keep trying!

Pada awalnya, di postingan kali ini saya cuma mau bilang, “matur-nuwun sanget” untuk rekan-rekan pembaca yang sudah sudi mampir ke blog saya. Karena dari pesan email dan komentar (meski masih amat minim) yang masuk ke blog saya, menjadikan saya terus semangat untuk menulis dan menceritakan apa, dan bagaimana berbagi tentang sebuah pengalaman hidup yang saya: lihat-dengar-pikirkan, dan saya lakukan. Kemudian saya berusaha mengejawantahkannya melalui tulisan yang sederhana. Oya, pada Maret 2013, pengunjung “Catatan Si Man!” meh (hampir) mencapai angka 800 pengunjung. Bukan apa-apa, malah ini yang membuat saya was-was dan mawas untuk terus belajar memperbaiki ini dan itu. Keep writ*ng Guys!.

Minggu, 24 Maret 2013

Happy Peksia Day


Happy Peksia Day!. Foto: Radityo Pradipta.

 
Sabtu siang dengan mendung di musim penghujan, kami berkumpul bersama seperti saat 5 tahun silam. Serupa tapi tak sama, berusaha mengingat kembali saat pertama kali saya dan kalian bertemu di tambak, kita belajar mengenai burung dan cara membedakannya. Mengenal satu-persatu burung air dan bagaimana kebiasaannya. Sungguh menyenangkan, lebih lengkap jika hal itu kita lakukan bersama.

Lima tahun silam, saya dengan rambut cepak berukuran satu centi dan hampir gundul. Pada waktu itu rambut kami sering jadi mainan ataupun taruhan, khususnya taruhan bola dan asmara. Potongan yang mirip napi itu, sering terlihat di angkatan kami dan berbagai kegiatan Peksia. Sungguh sangat melekat dengan beberapa kejadian-kejadian lucu dan konyol dengan tatanan rambut macam itu. Itulah kenangan bersama kalian. Saya juga masih bisa mengingat, dengan rambut satu centi melakukan pengamatan burung di tambak yang sangat panas di musim kemarau. Saya tak memakai topi atau penutup kepala, “uh benar-benar mirip telur rebus”.

Bosan dengan penampilan napi, kami berontak dengan memanjangkan rambut secara berjamaah. Waktu itu Peksia benar-benar telihat seperti bra-mo-co-ra dari pada pengamat burung. Muka hitam-kecoklatan, dan berambut gondrong awut-awutan, malah ada rambut salah satu rekan kami yang menyerupai sulur daun. Sungguh konyol, tapi inilah Peksia.

Kemudian tren berubah, dengan tetap bermain di area wajah. Sekarang giliran kumis dan jenggot yang kami panjangkan. Mungkin pada waktu itu burung Dara-laut Kumis (Chlidonias hybridus) lagi banyak-banyaknya di tambak, tanpa kami sadari tren tersebut juga menjadi isu hangat bagi kami. 

Kemudian kami sadar, bahwa kami dulu khilaf. Sekarang kami berubah menjadi diri kami seutuhnya, dengan gaya dan jati diri masing-masing anggota Peksia yang heterogen. Kalau sekarang Timnas kita punya slogan “One nation of Garuda”. Kami juga sudah memakainya jauh sebelum itu, “One nation Tahu-ne Bu Rum”.
Pencapaian-pencapaian yang Peksia dapatkan sungguh membagakan bagi kami semua. Kalau boleh sedikit pongah, Peksia adalah kelompok studi yang terus berupaya untuk keluar dari kotak (Out of The Box). Hal ini yang memicu golongan tua dari Peksia semakin bersemangat untuk berkarya dan tetap menjaga ikatan Peksia supaya tetap saling bergandengan tangan. Seperti aliran darah yang Tuhan ciptakan, energi dari bawah menuju keatas, begitu juga sebaliknya saling menguatkan satu dengan lainnya. 

Peksia Day, beberapa tahun silam.
 
Sekarang Peksia memasuki angka tujuh belas tahun. Sweet seventeen. Ibarat anak muda, kawan-kawan Peksia sekarang lagi banyak-banyaknya. Petualangan demi petualangan yang Peksia sebelum ini lakukan, dapat diibaratkan sebagai pemanasan untuk berjalan lepas dari tujuh belas tahun dan menuju kematangan. Kalau di tujuh belas tahun, Peksia sudah ikut andil dalam berbagai kegiatan lomba pengamatan burung skala nasional sampai internasional dan sempat merasakan bagaimana berada di podium memegang prestasi. Kalau di tujuh belas tahun, Peksia sudah punya andil sebagai pembicara dengan topik burung dan isu lingkungan. Sekarang kami semua ingin Peksia mempertahankannya. Karena kami tahu mempertahankan jauh lebih sukar daripada memperebutkan. Karena dengan angka tujuh belas tahun, Peksia memasuki era-puber. Kalau anak muda bilang, “isik anget-angete gawe makaryo”. Berkaryalah, Berprestasilah, dan jangan lupa untuk tetap Bersahaja. Semangat terus kawan-kawan Peksia!.

Selasa, 19 Maret 2013

Belajar Bagaimana Career Break ala Nona Ransel

Foto: Abdurrahman A.

Pada sebuah kesempatan, saat saya membuka blog dan memutuskan memutar daftar bacaan di list blog saya. Ada beberapa bacaan dari acara blogwalking yang saya lakukan, terutama dari blog Nona Ransel yang sangat menyita perhatian. Nona Ransel pada kesempatannya menuliskan sebuah opini berjudul ‘Career Break’ lebih tepatnya ‘Arti Penting Sebuah Career Break. Saya tertarik untuk membacanya sampai habis dan mencoba memahami inti dari tulisan tersebut. Nona Ransel atau boleh saya sebutkan dengan inisial (NR), menceritakan bagaimana ia merasakan sebuah kejenuhan dari pekerjaaan yang selama ini ia jalani. NR memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan meneruskan mimpinya dalam dunia travelling yang sempat tertunda, menurut saya ini adalah keputusan yang gila.

NR adalah seorang wanita yang melakukan passion-nya di bidang solo travelling, dan ia bukanlah wanita satu-satunya yang menganut paham female solo travelling. Ada banyak wanita di luar sana yang memiliki passion serupa, seperti Trinity yang sudah sangat meracuni pembaca dengan seri buku garapannya ‘The Naked Traveller’. Sampai sekarang, saya masih bertanya-tanya: “Ide gila dari mana yang mereka dapat, sampai benar-benar memutuskan berpergian seorang diri?”. Beberapa opini yang mereka katakan kepada pembaca adalah perlawanan dari ‘zona nyaman’, dan penggapaian mimpi dalam sebuah passion travelling yang merasa ‘terkungkung’ jika hanya ditentukan dengan kalender libur dan cuti yang menurut mereka terlalu singkat.

Kembali ke sebuah pikiran career break seorang NR, yang beranggapan bahwa dengan melakukan solo travelling selama kurang lebih 14 bulan mengelilingi beberapa belahan bumi dan hidup dalam sebuah ketidakpastian (jika saya boleh mengatakan seperti itu). NR meyakini proses solo travelling-nya sebagai sebuah kedamaian personal dan merupakan bagian dari kehidupannya.

Pertama kali membaca, saya mempunyai pemikiran bahwa NR sedang punya masalah yang sangat serius. Masalah keluarga, masalah pekerjaan, atau masalah asmara, mungkin? Haha.. 
 
Tetapi personal passion seseorang menjadi hal yang sangat mutlak dimiliki. Karena menurut saya kita sudah sangat jengah dijejali rasa dan pikiran yang sama. Ambil contoh saat saya merayakan ultah yang ke 4, banyak orang tua dan keluarga menanyakan cita-cita kepada saya. Padahal saya pada saat itu hanya ingin bermain dan mengenal lebih banyak teman. Malah ada hal lucu, saat saya datang ke acara ultah teman semasa kecil, saat Ayah dan Ibunya menanyakan cita-cita kepada teman saya. Teman saya menjawab ingin menjadi Power Ranger sambil menangis, kemudian Ayah dan Ibunya malah tertawa terbahak-bahak, kemudian menimpali kalau buah hatinya lebih cocok menjadi seorang dokter. Seandainya Ayah dan Ibunya mengerti perasaan anaknya. Kalau teman saya ini, ingin sekali mendapat hadiah Power Ranger di hari saat ia ultah. Karena pada saat saya ultah, saya mendapatkan hadiah Power Ranger warna merah dan ia sangat menginginkannya. Menurut dia, saya tak pantas mendapatkan Power Ranger jika saya selalu mengidolakan Kesatria Baja Hitam. Berdamailah dengan diri sendiri, maafkanlah dirimu!.

Dari keputusan career break seorang NR. Saya menjadi orang yang terbelajar bagaimana kita dengan impian, passion, dan melawan kenyamanan. NR sekarang sudah kembali ke tanah air menjalani sebuah refleksi diri dengan membuat buku yang berisikan pengalaman perjalanannya. Berbagi pemikiran-pemikiran dan pengalaman saat perjalanannya. Inspiratif sekali!. Mari keluarlah dari kotakmu, kalau saya boleh meminjam bahasa keren dari itu: “Out Of The Box-Lah Saudara-saudara sekalian!”

Senin, 18 Maret 2013

Agama Warung Kopi ala November

Angin surga dalam pekat larutan kopi - November.

Pada pertengahan Maret, saya membaca blog yang membahas tentang Agama Warung Kopi, sebut saja author-nya November. Si November di dalam blognya menuliskan tepat di bawah kata ‘November’ yang merupakan Judul pembuka Blog dengan kalimat ‘Angin Surga Dalam Pekat Larutan Kopi’. Kesan pertama saat membacanya, saya sedikit bingung apa yang ingin ia sampaikan di dalam blog bikinannya, mungkin minum larutan kopi, sama halnya dengan berada di surga dengan semilir angin sepoi-sepoi, saya sendiri terlalu sulit membayangkan bagaimana rasanya dikipasi dengan angin suargo?, haha.

Sebelum saya membahas tulisan si November tentang Agama Warung Kopi. Sekedar info saja, blog si November dulu berdisain dengan warna hampir semuanya hitam kecuali tulisanya berwarna putih, mungkin hitam yang ingin ia sampaikan mirip warna kopi yang misterius. Tetapi jika kita lihat baru-baru ini, si November mengganti hampir sebagian besar disainnya dengan warna putih, mungkin pikiran saya kopi yang hitam sekarang ditambahi susu, cukup variatif sekali November mengubah cita rasanya. Kopi susu, supaya gak misterius-misterius amat. Oya satu lagi, font size yang November sajikan terlalu tiny untuk manusia berkacamata seperti saya. Sangat menyiksa. Kalau orang psikolog mengatakan bahwa pada sebuah tulisan yang berhuruf kecil, terdapat sebuah ketakutan yang amatlah besar. Bisa jadi November adalah penakut.

Dari paragraf pertama si November berusaha menceritakan setting lokasi dimana ia berada pada awal Maret. Ia memperjelas dimana lokasi yang ia ingin ceritakan adalah warung kopi premium. Dari bahasanya terasa aneh untuk dibaca, disatu sisi mungkin si November benci untuk ngopi, disatu sisi ia berada disana mendiskripsikan dengan baik bagaimana gedung pongah dan lain sebagainya, menunjukkan ia teramat sering mendatanginya. Tetapi dari segi pencitraan lokasi warung kopi yang ia sampaikan kepada pembaca, nampaknya ia cukup paham sikon warung kopi tersebut. Mungkin ia seorang penikmat kopi sejati, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain mencari larutan kopi yang paling terkenal dan Top di daerahnya.
Ada kalimat yang tidak saya sepakati, bahwa si November mengatakan, “kedai kopi jauh lebih dihormati daripada gereja, mesjid, vihara, klenteng, dan ikon lain  yang seharusnya jadi pemersatu namun kerap kali menjelma sebagai sumber pemecah nomer satu”. Menurut saya, ini opini yang keliru dan kurang tepat. Kedai kopi tetaplah kedai kopi yang berisikan heterogen profesi dan latar belakang para pengunjungnya. Setiap manusia yang duduk di kedai kopi pun juga tidak dapat disamakan tujuan dan visinya. Berbeda dengan tempat ibadah, mereka yang datang memang sudah mendapat hidayah dan memang menjadikan kewajiban utamanya untuk datang ke tempat ibadah, tujuan mereka datang ke tempat ibadah haruslah satu, untuk beribadah kepada Tuhan, tidak ada yang lain. Berbeda sekali dengan tujuan orang datang ke kedai kopi, kita sendiri tak tau dan tak pernah tau isi hati dari tamu-tamu kedai kopi. Kalau si November bisa menjelaskan kepada pembaca tujuan tamu-tamu kedai kopi datang untuk apa?, saya yakin penjelasan tak dapat gamblang dan jelas, dan berputar-putar disitu-situ saja. Untuk kalimat ‘jauh lebih dihormati’ yang November maksud, apa mungkin sering didatangi (dikunjungi) atau dijunjung tinggi?. November menyajikan kalimat yang ambigu, bagi pembaca seperti saya.

Jadi untuk paragraf pertama, saya tak sepakat jika menduakan tempat ibadah dengan kedai kopi. Saya menjunjung tinggi tempat ibadah dengan segala hormat saya. Karena pembaca akan mendapat sebuah informasi yang bisa jadi keliru, pembaca dapat beropini bahwa keretakan umat beragama bermula dari kedai kopi, dan mungkin bagi sebagian masyarakat tidak ingin kejadian orde baru terulang kembali, ‘pengarungan’ generasi-generasi yang jika saya dapat katakan adalah generasi kedai kopi jaman dahulu. Janganlah, jangan sampai hal hina itu terulang kembali.

Beralih ke paragraf kedua masih di dalam November. Ada kebingungan lagi jika saya membaca paragraf kedua dari November, pada paragraf pertama ia mengejek gedung pongah kedai kopi premium, sekarang ia nampak menjadi manusia paling memerlukan belas kasihan dengan menjadi manusia ‘hemat’ dan mungkin tak tega untuk mengeluarkan budget lebih untuk menikmati secangkir kopi (saja). Memakai embel-embel Wifi dan ruangan ber-AC untuk sebuah kenikmatan dalam tradisi medang (baca: ngopi). Berarti dugaan saya tentang November sebagai penikmat kopi adalah salah, penikmat kopi sejati bukan November. Oya, ada beberapa hal yang lucu pada kalimat, “Tapi ada beberapa kedai yang juga menawarkan fasilitas lain, seperti kursi sofa, kamar mandi yang bersih, dan mushola kecil. Benar sekali, ini sindiran halus untuk beberapa kedai kopi yang pernah saya datangi.” Saya mulai ragu pada November, apakah ‘angin suargo dalam larutan kopi’ yang macam ini yang ia maksudkan? Menghabiskan waktu berjam-jam di kedai kopi, saya rasa penikmat kopi tak butuh itu. Kalau kau mau kursi yang nyaman datanglah ke XXI karena pemutaran film harus ditunjang sofa yang empuk. Kalau kau mau ke kamar mandi yang bersih pulanglah, di sana ada kamar mandi untuk kau mandi dan gosok gigi, bukan di kedai kopi. Kedai kopi untuk kopi dan damai, selebihnya kau yang urus sendiri. Kemudian, syukur-syukur ada beberapa kedai yang menyiapkan mushola, terasa timpang saat di paragraf pertama November bilang, “kedai kopi lebih dihargai dari tempat ibadah”. Bagaimana bisa menghargai tempat ibadah, jika di kedai kopi masih ada mushola, kenapa tak sekalian gereja, klenteng, dan vihara dibangun juga di kedai kopi?. Haha.

Jika dalam agama Islam ada pemeluk agama yang baru saja masuk dikatakan mualaf, saya bisa menyebutkan bahwa si November adalah mualaf agama warung kopi. Pada paragraf terakhirnya ia berusaha mengomentari beberapa anak muda, ia mengatakan anak muda berwajah bayi sedang merokok. Dengan kalimat lengkapnya seperti ini, “Ah, kali ini pandangan saya sedang tertuju dengan 6 pak rokok putih berbagai merk yang tertumpuk di meja seberang. Setengah lusin penikmatnya adalah anak-anak berwajah bayi. Asap putih membubung tinggi di ruangan ini dan rokok putih menjadi alat eksistensi, bukan lagi sebagai bahasa keakraban atau nilai kesederhanaan. entahlah, tapi saat itu saya melihat para perokok amatir itu duduk dengan pongah, sepongah gedung ini.” Kalau boleh saya menyebutkan bahwa November mungkin mengalami sebuah kecemburuan tingkat dewa, untuk secangkir kopi dan hisapan kretek yang saat itu dilakukan anak muda berwajah bayi di gedung pongah.

Mungkin sekian dulu tulisan dari saya untuk si November sang mualaf agama warung kopi, yang sekarang tak lagi minum kopi dan hisap kretek. Jika itu adalah benar, dengan segala hormat kepada November untuk mengganti kalimat dalam blog buatannya yang bertuliskan, “Angin surga dalam pekat larutan kopi” diganti dengan “sementara berada di neraka, bersama teh hangat buatan kekasih”. Jika suatu waktu November membaca dan merasa ini hal yang buruk baginya, mari kita hormati warung kopi untuk membuat janji di sana, kita selesaikan secara damai dengan larutan kopi terbaik, (jangan pikirkan harga) yang lebih penting bagaimana kau bisa berdamai dengan hidupmu dan kembali menghisap kretek terbaikmu, tunjukkan pada pemuda berwajah bayi tentang bahasa keakraban dan nilai kesederhanaan, dan ajari perokok-perokok amatir itu bagaimana merokok dengan baik dan benar?. Terima kasih.

Minggu, 17 Maret 2013

Rolling In The Deep – Peak Argopuro (Part 4)


Cover Rolling In The Deep (Part 4) - Danau Taman Hidup.
 
Dua-belas Maret, pukul 6:33 merupakan pagi yang indah, saya mendengar alarm alam saat itu dengan suara kicauan burung-burung hutan membangunkan saya di dalam tenda berselimutkan sleeping-bag, ditambah lembutnya belaian udara gunung membelai tiap persendian. Kami berduabelas orang yang semalam melakukan tracking terpaksa menghentikan perjalanan. Kami berhenti di persimpangan jalur. Entah, tak ada tanda atau plat yang menjelaskan keberadaan kami. Lokasi kami berada dekat aliran sungai yang mengering, mungkin bisa dikatakan bekas sungai. Dan di daerah sekitar kami mendirikan tenda terdapat semak dan tumbuhan perdu. Pagi yang indah waktu itu sedikit tertutupi dengan perasaan was-was, apalagi kalau bukan persediaan air. Estimasi perjalanan menuju Danau Taman Hidup, mungkin masih tiga jam perjalanan. Kami memutuskan untuk sarapan cepat pagi itu, dengan mengunyah ‘roti bungur’. Roti bungur adalah roti yang berupa biskuit lebih tepatnya, dan sudah tak utuh bentuknya. Bisa di katakan roti afkir (baca: roti bekas). Salah seorang teman membelinya di Bungurasih (terminal Purabaya-Surabaya) maka dari itu dinamakan roti bungur. Melihat wujudnya, mungkin biskuit ini biskuit sisa-sisa, biskuit remek-remek bekas dimakan orang lalu daripada dibuang, mending dijual. Tapi menurut saya ini camilan paling luar biasa untuk momen pagi yang pernah saya jalani, dengan sedikit terganjal saat mengunyah, karena belum gosok gigi.

Kami melanjutkan perjalanan, yang rencana akan tiba di Danau Taman Hidup dengan estimasi waktu 3-4 jam perjalanan. Kami melewati tanjakan dengan medan kanan-kiri menjulang Rumput Gajah setinggi 1,5 meter. Kami berjalan satu jam lamanya, dengan persediaan air yang kami irit-irit. Saya masih mengira jalan menuju Danau Taman Hidup akan menurun, ternyata tak semuanya benar. Setelah berjalan cukup lama saya kemudian menghilangkan pikiran dan perasaan itu, tak disangka kami diberikan bonus pemandangan yang luar biasa indah. Pemandangan yang berada di lereng bukit yang dapat melihat beberapa dataran rendah perkotaan termasuk pantai dan lautan. Saya tamati lagi pemandangan yang melengkapi pagi indah saya, ternyata beberapa pegunungan terlihat di sana. Saya dapat melihat pemandangan yang menuju kearah antara utara dan barat, terlihat Mahameru dan pegunungan lainnya. Kami terpaksa menikmatinya terlebih dahulu, dengan sedikit pendokumentasian dan sejenak suasana hening untuk benar-benar menikmati pemandangan pagi yang luar biasa waktu itu.

Sekitar setengah jam kami berhenti untuk mencintai keindahan pagi yang memperlihatkan panorama yang sungguh luar biasa indahnya. Kami meneruskan langkah demi langkah menuju Danau Taman Hidup, perjalanan cenderung menurun melipir perbukitan. Pemandangan lereng masih saja menggoda untuk di gumuli, tetapi pandangan mata ini harus tetap terfokus pada langkah karena banyak jalan yang berlubang dan berbatu jika kita tak hati-hati tak jarang kita tersandung.

Dua jam kami berjalan, sampai pada aliran sungai yang harus ditempuh melewati batang pohon yang miring untuk dapat menikmatinya. Kami berhenti sejenak di sini, mengisi air, dan beberapa rekan menghisap kreteknya dengan sedotan yang dalam, Puaaaasss sepertinya bertemu sumber air.

Tepat pukul 10:30 kami tiba di Danau Taman Hidup, sebelumnya saya tak mengetahui kami akan berhenti di tempat seperti apa, tetapi rekan-rekan yang berada di barisan depan sudah teriak-teriak, “Tuuuu, Tuuuuu,..”. dan teriakan bersyukur tak terbendung lagi. Saya yang berada di barisan paling belakang, juga ikut-ikutan teriak, menambah maraknnya suasana. Setelah salah satu rekan berteriak Danau Taman Hidup, saya semakin mempercepat langkah untuk segera.

Subhanallah, hamparan rumput yang berbaur dengan air, becek-becek gitu. Dan kami berlari mendekati bibir danau, menyerupai adegan berlari tentara-tentara di film Band Of Brother dan Saving Private Ryan dengan settingan becek-becek dan benar-benar gak ada ojek, apalagi Cinta Laura. Danau Taman Hidup adalah danau yang menurut pengamatan saya luar biasa magis, pada pengamatan awal saya danau tersebut awalnya sangat jelas tanpa kabut, setelah kami berdua-belas datang dan sangat norak (teriak-teriak ala ceribelle), tiba-tiba mendung datang dan pemandangan tak lagi jelas untuk dilihat. Mungkin sudah waktunya mendung dan turun hujan. Tapi menurut sebagian rekan, yang sudah pernah menikmati dan mencintai Danau Taman Hidup mengatakan serupa, seperti yang saya alami. Malah ada beberapa hal yang ekstrim, sampai turun hujan saat mereka gaduh di area Danau Taman Hidup.

Perjalanan saya di Gunung Argopuro memberikan banyak edukasi yang sangat mengena pada pribadi ini, selain kekuatan fisik dan mental. Argopuro mengajarkan bagaimana cara untuk bersabar dan mengerti rekan sesama perjalanan, walau bagaimanapun kesiapan kita untuk berjalan dan melewati medan yang luar biasa menantang, tetap kita tak bisa meninggalkan dan mengerti kesiapan rekan kita yang bersama kita. Ambilah contoh saat kami melakukan tracking malam menuju Danau Taman Hidup, ada rekan yang mengalami permasalahan dalam sandal dan bagian kaki yang lecet karena gesekan sandal akibat licinnya medan yang kami tempuh. Kami terpaksa berhenti dan menunggui dia untuk mengganti sandalnya yang penuh dengan lumpur dengan sepatu. Padahal pada awal saat sebelum melakukan perjalanan kami menganjurkan untuk memakai sepatu, karena daya cengkram tapal sepatu lebih kuat jika dibandingkan dengan sandal, tetapi rekan saya mungkin merasa nyaman menggunakan sandal saat itu. Mungkin sebuah kenyamanan pribadi tak selamanya menjadi pilihan bijak untuk sebuah kenyamanan tim/orang lain.

Selain itu, Argopuro memberikan makna dalam menggapai sebuah tujuan dalam kehidupan. Bagaimana saya harus menuntaskan perjalanan dengan track yang menantang naik dan turun seperti jalur rollcoaster, dan bisa kita bayangkan saat musim penghujan yang dapat dipastikan perjalanan bakal licin luar biasa. Jalan sebelum menuju Cikasur menurut saya adalah jalur pemanasan mental yang sangat berarti, kami melewati jalan setapak yang ukurannya selebar roda sepeda motor memaksa kita untuk berjalan layaknya peragawati dengan medan hutan yang lebat dan membawa tas yang lumayan berat. Perjalanan ini membuat perasaan saya bercampur aduk, antara ingin melanjutkan dan berputar arah untuk balik. Ada beberapa kesamaan dalam hal mencapai tujuan dalam kehidupan, mungkin tak jarang dari kita untuk berhenti ditengah jalan untuk sebuah mimpi dan gapaian hidup karena perasaan ragu dan kurang tatag (baca: teguh).

Dari memulai perjalanan sampai kondisi saat kami akan mengakhiri perjalanan (pulang), kami mendapatkan ujian dalam keteguhan hati. Setelah kami menuntaskan momen di Danau Taman Hidup, kami bergerak meninggalkannya dengan satu visi di depan mata yaitu pulang. Tetapi tunggu dulu, Argopuro memberikan pengalaman kontemplasi tersendiri untuk mencapai jalanan beraspal dan bertemu kearifan lokal warga desa Rengganis, kami harus menuntaskan perjalanan melewati jalanan yang menurun dan dipaksa melewati jalan yang tertutupi semak belukar dan batang pohon besar yang roboh menutupi jalur track. Jalur menuju desa Bremi, jika kita melaluinya dari Danau Taman Hidup banyak sekali percabangan jalan, kepercayaan tim dan mental tim diuji di jalur ini. Sama halnya dengan saat kita memutuskan untuk mencari jalan keluar untuk permasalahan kehidupan kita, tak jarang opsi jalan keluar yang ada sangat beragam. Jika kita salah memilih jalan keluar, tak jarang kita terjerumus dan menyesal. Tapi saya berprinsip lebih baik gagal daripada kau tak mencobanya sama sekali. Atau matilah dengan keyakinanmu, daripada kau hidup dari sebuah keraguan.

Butuh satu hari setelah perjalanan Argopuro saya memulihkan persendian yang njarem-njarem, sungguh luar biasa perjalanan kemarin. Saat ini saya sedang mengulang kembali momen-momen pendakian bersama rekan-rekan di sebuah warung kopi, bercerita dan bersyukur atas pembelajaran yang Tuhan berikan pada kami, sungguh sebuah perjalanan dan pembelajaran yang tak kau dapati di bangku sekolah apalagi pembuatan skripsi. Bagaimana sebuah perjalanan dapat sangat berarti bagi proses kehidupanmu?.

Sabtu, 16 Maret 2013

Rolling In The Deep – Peak Argopuro (Part 3)




Cover Rolling In The Deep (Part 3) - Foto Puncak Argopuro.

Sebelas Maret, pukul 6:16 diawali dengan Berdoa dan membuat lingkaran kecil, serta menyatukan tangan dan berteriak, “HUUUYYAAAAA!!”. Kami berangkat menuju Puncak. Rencana kami akan mengibarkan bendera Merah Putih di Dua Puncak yaitu Puncak Argopuro dan Puncak Rengganis. Sebelum menuju Puncak, kami singgah sebentar di Pos Rawa Embik untuk isi air dan ‘Krosing’ (Kroso ngising, Baca: Perasaan Buang Air atau Be’ol). Perjalanan dari Cisentor menuju Puncak memang melalui jalan yang menanjak dengan kemiringan rata-rata 30 derajat. Untuk pendakian menuju Puncak kami hanya membawa one-daypack yang berisikan air dan beberapa camilan, sedikit sobekkan tissue untuk be’ol darurat (ini penting). 

Suasana pendakian menuju Puncak cenderung lebih khidmat, maklum sebagian besar dari kami belum pernah mendaki Argopuro sebelumnya, dari jumlah dua belas orang yang sudah pernah mendaki hanya dua orang saja. Ditambah lagi referensi yang kami dapat untuk pendakian Argopuro rata-rata berinformasikan kejadian mistis, dan jalur tempuh yang sangat panjang (banget). Tak jarang para pendaki yang telah tuntas mendaki puncak Argopuro dan dua Puncak lainnya seperti P. Rengganis dan P. Arca, semakin kuat untuk mendaki gunung-gunung lain di Jawa. Mungkin secara fisik dan mental mereka terbentuk di perjalanan ini.

Jangan pernah membandingkan sebuah destinasi Puncak satu dengan Puncak lainnya. Karena setiap destinasi yang telah kita lampaui memiliki karakter dan tingkatan tersendiri disetiap momennya. Mungkin timpang jika kita membandingkan puncak Argopuro dengan Mahameru. Mahameru di film 5 centimeter nampak luar biasa pemandangannya, dengan gulungan awan yang menyerupai ombak di Puncak tertinggi Pulau Jawa itu. Di Puncak Argopuro jangan berharap lebih, untuk mendapat pemandangan serupa dengan Mahameru. Puncak Argopuro, dan Puncak Rengganis dari cerita rakyat merupakan tempat pertapaan raja-raja di Jawa. Selain itu, jika ingin mencapai Puncak tersebut, bukan perkara yang mudah untuk dapat melampauinya, kita harus melewati beragam jalur track yang naik dan turun. Saya sendiri di dalam hati sempat bertanya, sampai kapan kami tiba?, mlakue gak mari-mari cak, TOP!.

Pukul 9:13, syukur Alhamdulillah saya tiba di Puncak Argopuro dengan ketinggian 3.088 Mdpl. Dan mencium Merah Putih dengan begitu mesra. Memanjatkan doa kepada Allah SWT, yang telah memberikan keselamatan untuk saya sampai Puncak. Mungkin terdengar sangat hiperbolis, tapi inilah saya, sang pecinta momen yang diberikan oleh Allah SWT. Puncak Argopuro mungkin tak luas, mungkin sekitar empat meter kali empat meter. Tetapi perasaan luar biasa saat berada di sana. Antara mengalahkan diri sendiri dan teramat kecil.

Satu jam di Puncak Argopuro kami rasa sudah cukup, kami segera turun untuk meneruskan perjalanan menuju Puncak Rengganis. Perjalanan turun selalu lebih cepat dari perjalanan naik, tetapi tetap sama-sama menantang. Jika perjalanan naik, kita mesti pandai-pandai mengatur pernafasan supaya asupan oksigen dan ritme jantung stabil, jika perjalalanan turun kita harus berhati-hati memilih jalur. Tak jarang, para pendaki tersesat dan terjatuh saat mereka hendak turun dari puncak. Kita memiliki kuasa penuh untuk mengatur dan memilih kemampuan yang kita punya. Dan pasrahkan pada Tuhan.

Pukul 10:27 kami tiba di persimpangan antara jalan menuju P. Argopuro dengan jalan menuju P. Rengganis. Ada perubahan rencana di sini, saya dan rekan saya Ovrie tak dapat ikut serta ke Puncak Rengganis. Ovrie merasakan nyeri pada persendian kaki kirinya, dan dengan pertimbangannya memutuskan untuk tidak ikut ke Puncak Rengganis. Saya menemani Ovrie di persimpangan tersebut, mungkin Puncak Rengganis saya simpan lain waktu.

Perjalanan rekan-rekan ke Puncak Rengganis lebih cepat jika dibandingkan perjalanan menuju Puncak Argopuro, mungkin kurang lebih 1 jam perjalanan pulang-pergi dari persimpangan menuju P. Rengganis. Setelah rekan-rekan tuntas mengibarkan Merah Putih di P. Rengganis, kami segera ke Rawa Embik. Adu Lari tak terelakkan di jalur antara persimpangan Puncak menuju Rawa Embik. Ternyata adu lari tersebut memperebutkan lahan untuk ‘krosing’, Oh ternyata!. Perilaku teritori tak hanya terjadi saat hewan mencari makan, ternyata untuk urusan bongkar-muat perut manusia juga terjadi, Menggelikan..

Setelah tiba di Cisentor, dan menuntaskan pendakian menuju puncak: Argopuro dan Rengganis. Kami berencana akan melakukan perjalanan menuju Danau Taman Hidup. Ada beberapa opsi dari tim, bermalam semalam di Cisentor dan keesokan paginya meneruskan perjalanan menuju Danau Taman Hidup dan langsung ke Bremi. Tapi opsi tim berangkat langsung menuju Danau Taman Hidup setelah makan siang.

Sebelas maret 2013, pukul 13:45 Cisentor diguyur hujan hebat. Kami bersiap melakukan perjalanan menuju Danau Taman Hidup. Kami berdoa di bawah siraman hujan yang deras, dan mas Aden sang leader menyemangati kami dengan seruan, “Ayo Kita Pulang!”. “HUUUYYAAA!”. Meow, meoooowwwng..

Kami berjalan menyusuri jalur tracking yang diguyur hujan yang cukup lebat, mungkin dalam hati kecil saya mengatakan, “Bukan pilihan yang tepat jika kita berjalan di bawah hujan dan kondisi yang hampir gelap”. Mungkin ini kali kedua saya dan tim, berjalan melewati jalur track dengan hujan dan suasana yang hampir gelap. Saya mengira setelah dari Cisentor jalur track akan menurun dan semakin menurun, tetapi itu tidak semuanya benar kawan. Jalur track masih ada yang menanjak, lebih dari tiga atau lima kali. Dengan kondisi cuaca yang hujan lebat, dan sebentar terang, kemudian gerimis memaksa kita mengurangi tempo perjalanan. Kondisi jalan yang licin, tak jarang dari kami yang terpeleset dan berjalan jongkok untuk menuruni track yang sangat TOP ini. Syukur kami belum ngesot..

Jam tangan yang menunjukkan pukul 18:00, yang sedikit tak jelas karena tertutupi oleh air hujan di permukaan kaca jam tangan. Semakin tak jelas, karena langit sudah benar-benar menjadi gelap. Kamipun berjalan dengan mengandalkan lampu-kepala dan senter untuk memilah jalan. Hujan belum menunjukkan tanda-tandanya untuk mereda. Dan kami pun belum menunjukkan keinginan untuk berhenti. Sama-sama kerasnya. Karena jalur yang saat itu kami lalui, tak ada tanda-tanda yang memungkinkan mendirikan tiga tenda dom. Kami berjalan sudah dua jam, dan beberapa dari kami sudah menunjukkan gelagat frustasi dengan keadaan tracking malam itu. Opsi-opsi yang terlontar dari tiap orang, sepertinya tak menyurutkan dan mengganggu ketenangan sang leader, Aden. Kami masih terus berjalan dengan hujan dan kabut yang mulai pekat.

Kondisi semakin memaksa kami untuk menjaga ketenangan. Saling pengertian, dan bersabar. Lampu senter satu rekan saya mulai meredup dan tak dapat digunakan. Terpaksa saya berjalan sebentar dan menengok kebelakang untuk memberi cahaya pada langkahnya. Karena jalan yang kami lewati, terdapat ranting-ranting yang melintang rendah, jika kita tak berhati-hati kami akan tersandung. Dan beberapa rekan mempunyai kendala dengan sandal dan sepatunya yang tak nyaman untuk dipakai jalan, kita sering ‘break’ pada perjalanan ini. Badan menggigil sudah pasti di perjalanan ini. Sedangkan saya, langkah yang tak karuan, dan kata rekan saya: “Saya menggigau meminta untuk segera berhenti dan mencari lokasi bermalam.” Bicara yang sudah tak jelas di ucapkan maupun didengarkan, langkah yang semakin tak berirama dan sering tersandung adalah indikator seseorang mengalami hypotermia, dan waktu itu saya mengalaminya. –bersambung

Ikuti cerita selanjutnya: Rolling In The Deep (Part 4)