Selasa, 01 Januari 2013

Rumah adalah kalung kerinduan

Saya sering membayangkan berjalan mengelilingi nusantara, sampai pada akhirnya saya tertidur dengan memimpikannya. Beberapa tempat yang datang di mimpi itu, sering menjalar menjadi semangat untuk keluar rumah. Mengunjungi beberapa tempat dengan melepas-bebaskan panca indra untuk berlari memungutnya untuk saya bawa pulang. Saya sempat menjadi seorang superior saat tiba di rumah, setelah menempuh bermil-mil perjalanan dan pulang dengan ribuan cerita. Bercerita dengan keluarga dan rekan-rekan bagaimana tempat tersebut saya kupas di depan telinga mereka. Maklum beberapa dari keluarga saya (kecuali Ayah dan kakak-kakak sepupu), mereka hanya tertarik dengan rutinitas dan memilih untuk menghabiskan sebagian waktunya di rumah. Saya bisa mengatakan bahwa ini, “perbedaan yang indah dalam keluarga kami”. 
 
Jika Roy Boy H, mengatakan bahwa ia selalu merindukan rumah kala berpergian. Setelah lelah di jalan, maka ia kembali menyeret kakinya. Menuju rumah. Di rumah, segala kasih untuknya tercurah. Sungguh indah mendengarnya.

Jika rumah adalah sejuta dari kenangan yang membuat kita untuk merindunya, saya pun mengamini. Saat di sebuah sore saya membaca ‘Foi Fun’ blog milik Nuran dengan judul “Rumah yang hilang”, saya jadi teringat bagaimana saya di besarkan dulu. Pada rumah tua yang didirikan kakek saya pada pertengahan tahun 60an. Selain saya, ada beberapa dari anggota keluarga yang dibesarkan di rumah dengan cat hijau yang meberi aksen menyejukkan. Warna hijaunya sangat magis, menurut saya.

Rumah tempat saya dibesarkan ini, mungkin tak terlalu istimewa menurut sebagian orang. Letaknya yang berada dipaling ujung sebuah gang kecil yang buntu. Rumah yang berada di pinggiran kota Pahlawan, yang terkesan panas telah tersulap menjadi miniatur-miniatur taman, yang paling tidak dapat membuat mata menjadi sedikit lebih segar. Memang dan sangat gemar bertaman. Mungkin mereka ingin suasana pedesaan tetap ada, mereka adopsi saat awal datang ke Surabaya. Sepertinya Kakek dan Nenek saya, ingin memberikan kesan bagaimana mereka dulu tumbuh, dengan menghadirkan suasana desa yang berada di sudut kota metropolis ini.

Menolehlah pada akar sejarah. Temukan diri Anda sendiri. Hanya dengan menemukan akar diri, kemudian kita manusia bisa bertumbuh.” Gede Prama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar