Rabu, 30 Januari 2013

Disiplin diri?

Pada sebuah sore, saya dan kedua teman saya panggil saja: Doski dan Bastad. Berpindah tempat ngobrol karena hujan yang sudah mulai mereda. Kami berpindah untuk mencari tempat makan, karena tempat kami semula kurang pas buat kami, bukan karena tidak ada menu makanan, tetapi menu makanan disini untuk ‘manusia tanggal muda’ sedangkan kami hanya mahasiswa muda yang menua di akhir bulan. Selain itu kami bertiga adalah sosok ‘predator’ jika sudah di depan sajian makanan. Dan pada akhirnya kami memutuskan menuju ‘warung penyetan’ untuk memuaskan perut yang sudah keroncongan. Murah dan meriah.


Singkat cerita, kami sudah menuntaskan sajian yang ada. Seperti biasa kami menyalakan kretek sebagai penutup acara makan sore kami. Sambil membuka pembicaraan dengan topik yang sepele, sederhana, kemudian berujung pada cerita masing-masing dari kami yang sedikit ‘berbobot’. Mulai dari pembicaraan bagaimana ikatan kimia dari obat yang digunakan para aktris yang akhir-akhir ini lagi santer. Dan seperti biasa, penguasa di negeri kita selalu telat untuk membuat peraturan. Membuat polemik yang membuat masyarakat awam bingung. Tak luput juga media yang seolah-olah membuat sensasi dengan bahasa ‘lebay-nya’ seperti berita di negeri ini tak lagi ekslusif untuk didengar, dilihat, dan dibaca.

Sampai pada pebincangan mengenai masa depan. Beberapa hal yang saya tangkap dari kejadian sore ini adalah kami bertiga memasuki beberapa momen yang membosankan apalagi dengan rutinitas. Saya tak akan mengulas bagaimana permasalahan kedua rekan saya di sini. Lebih tepatnya saya akan mengangkat beberapa hal dari diri saya untuk saya ceritakan, mungkin sedikit aneh tetapi itu lebih baik, daripada kita memperbincangkan orang lain. 

***

Mari kita mulai,
Pada kesempatan lain, saya sempat menanyakan beberapa hal yang membuat saya bingung kepada kedua orang tua saya. Mengenai studi, dan beberapa hal mengenai masa depan. Pertanyaan yang sangat sepele, tetapi percaya atau tidak, mungkin kita sempat terbesit untuk memikirkan dan mempertanyakannya. Pertanyaan ini, dulu waktu saya masih duduk di bangku SMA ada beberapa pertanyaan yang sering membuat resah.

Saya: “Ayah, kalau nanti saya nerusin kuliah di jurusan Biologi. Memangnya nanti saya jadi apa? Kerja dimana?, kalau mau dagang, yang sesuai dengan ilmu itu apa?”
Ayah: “Sebelum ayah jawab, Ayah mau tanya dulu. Selama kamu sekolah di SMA, apa yang kamu dapat? Dan apa yang paling kamu sukai dan kuasai?”

(Saya sedikit bingung waktu ingin menjawab. Tapi daripada saya terlalu lama memikirkan itu, sedangkan ada sebuah kebingungan yang butuh perhatian khusus)

Saya:  “Ya banyak yah yang saya dapat. Yang paling saya sukai: menggambar, beberapa hal kuat dalam hafalan, dan yang paling saya nanti adalah kegiatan yang ‘berbau’ outdor.”
Ayah: “Sebenarnya apa yang kamu takutkan itu hanya ‘bayangan’. Entah besok kamu mau jadi apa dan bagaimana? Itu urusan belakang. Yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana kamu belajar untuk ‘disiplin diri’. Dan bagaimana porsi dari sebuah pikiran negatif dan positif yang kamu miliki saat ini.”
Saya: (Saya diam dan tak meneruskan pertanyaan). Kemudian saya langsung mencium tangan ayah, meminta restunya. Saya ingat kata Walter Pitkin: “Rencana hidup memerlukan rencana energi”. Dan inilah salah satu yang saya lakukan untuk refill energi.

***

Kemudian beberapa tahun setelah saya menjalani itu semua, saya menemukan sebuah artikel yang menjawab apa arti dari sebuah “Disiplin Diri”. Artikel ini dari sebuah buku yang usang di perpustakaan kampus. Karya dari Robert Anthony. Dan semakin memperkuat bagaimana saya akan melangkah.

Konon di Wadi Natrun, terdapat Gurun pasir Thevayid di Mesir, di tengah-tengah gurun pasir, bermil-mil jauhnya dari air atau manusia hidup, tumbuhlah sebatang pohon amandel. Sebatang pohon amandel, tepat di tengah-tengah gurun pasir yang paling kosong dan paling suram yang dapat anda bayangkan, dan pohon amandel itu sampai di sana sebagai hasil disiplin diri.

Menurut yang saya baca pada artikel tersebut: Pada tahun 346 M, ada seorang pendeta tua berrnama Abba Amoy, dan ia di gurun pasir sedang berdoa dengan salah satu muridnya, dan Abba Amoy mencoba untuk mengajar murid itu tentang hasil disiplin diri, dan murid itu mengalami kesulitan untuk mengerti prinsip-prinsip yang diajarkan oleh pendeta tua itu kepadanya. Maka pendeta itu mengambil tongkatnya di dalam pasir. Lalu ia mengatakan kepada muridnya, yang bernama ‘Jhon, Si Pendek’.

Pendeta: “Berikan air kepada tongkat ini,” Katanya kepada Jhon, si pendek. “Sampai ia berbuah dan anda akan mengerti apa yang saya maksud.” Lanjut Pendeta itu.

Nah, tempat itu bermil-mil jauhnya dari sumur yang terdekat, namun malam itu, ketika menjadi sejuk, Jhon si pendek, berjalan menelusuri jalan ke sumur itu, mengisi gucinya dengan air, lalu berjalan kembali dan memberikan air kepada tongkat itu. Ia mengerjakan ini tiap malam selama tiga tahun dan pada akhir tiga tahun, tongkat itu mulai berbuah. Ketika itu terjadi, Jhon si pendek mebawa biji-bijinya ke biara yang terdekat dan mengatakan kepada para pendeta, “Lihatlah, buah dari disiplin diri.”

Setelah membaca artikel tersebut saya mencoba rollback pada beberapa tahun terakhir saat saya dan Ayah saya berbincang mengenai bagaimana “disiplin diri”. Memang pada saat itu saya merasa hidup seperti berada di gurun pasir mental, beberapa hal mengenai: sakit hati, beberapa momen kesepian, masalah-masalah keluarga, masalah-masalah sekolah, kesulitan keuangan. Sehingga terasa seperti saya berada dan hidup di tengah-tengah gurun pasir. Dan sekarang saya dapat mengatakan, bahwa gurun pasir itu bisa subur, seperti pohon amandel tadi, saya menjadi apa saja yang saya butuhkan, dengan disiplin diri.

Bertindaklah ‘seperti si pendek, Jhon’, dan selalu sadarlah tentang apa yang anda pikirkan dan disiplin pikiran anda untuk hanya memikirkan yang baik-baik saja. Serta jangan membiarkan kekalahan atau pikiran-pikiran yang negatif memasuki pikiran anda. Alirkan air ke pikiran anda dengan pikiran-pikiran tentang kasih sayang, kesehatan, kegembiraan, kedamaian dan harmoni, dan anda akan mendapatkan buah disiplin diri tumbuh subur dan berbunga dalam gurun pasir pengalaman anda sekarang, apapun buah itu. Insya-Allah. 

2 komentar:

  1. SubnaAllah sungguh sangat menggugah hati serta pikiran saya yang selama ini masih labil, benar-benar info yang bermanfaat..keep fight bro^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, semoga bermanfaat. paling tidak ngamalin surat 'demi-masa'. saling ingat-mengingatkan. ;)

      Hapus