Kamis, 31 Januari 2013

Burger Buto


Musim penghujan awal Februari, kami mencoba membawa pembaca menuju kearah selatan meninggalkan Surabaya. Tepatnya di Jalan Sarangan 27, Malang. Kami mencoba sajian ‘kuliner barat’ yang disajikan untuk ‘perut timur’. Ini adalah ‘Burger Buto’, Burger porsi jumbo.
__________________________________________________

Rabu, 30 Januari 2013

Disiplin diri?

Pada sebuah sore, saya dan kedua teman saya panggil saja: Doski dan Bastad. Berpindah tempat ngobrol karena hujan yang sudah mulai mereda. Kami berpindah untuk mencari tempat makan, karena tempat kami semula kurang pas buat kami, bukan karena tidak ada menu makanan, tetapi menu makanan disini untuk ‘manusia tanggal muda’ sedangkan kami hanya mahasiswa muda yang menua di akhir bulan. Selain itu kami bertiga adalah sosok ‘predator’ jika sudah di depan sajian makanan. Dan pada akhirnya kami memutuskan menuju ‘warung penyetan’ untuk memuaskan perut yang sudah keroncongan. Murah dan meriah.

Sabtu, 26 Januari 2013

Commuter line: Madu atau Racun?


Matahari belum lagi muncul sempurna di Stasiun Depok, tapi orang-orang telah nampak berkerumun di sepanjang peron. Ada yang asyik membaca koran pagi, ada yang sibuk memainkan ponsel, dan tak sedikit pula yang mengangguk-angguk menahan kantuk. Semua menantikan datangnya kereta listrik yang akan membawa mereka ke arah Jakarta. Tak lama berselang, sebuah kereta merayap datang dari arah Citayam. Semua calon penumpang pun berdiri bak menyambut rombongan pejabat dari pusat. Seluruh kepala menoleh ke arah kanan, memandang kereta yang telah penuh sesak. Perlahan kereta berhenti, dan semua yang ada di peron merangsek maju mengerubungi pintu kereta. Beberapa yang tak sabar segera memanjat ke atas atap kereta, duduk dan menyalakan rokok. Sementara dua-tiga ibu dan perempuan muda menatap dengan masygul karena tak mungkin ikut berdesakan atau naik ke atap.

Selasa, 15 Januari 2013

Mati punya cara sendiri untuk berpesan – Part 2


Selasa, malam. punya cara untuk sekedar mengingatkan. Dalam larutnya, selasa malam berkabar duka. Waktu itu, setengah perjalanan untuk pulang. Tak penuh, tapi semakin melaju. Lepas dari pukul 22.45 WIB. Nenek yang kami cinta, telah berpulang.

Semuanya ingin melakukan perjalanan, dan sampai pada akhirnya mereka semua akan diantar untuk pulang. Sebelumnya ia berpesan kepada kami yang masih berkemas untuk memulai perjalan. Bahwa perjalanan ini adalah mencari bekal, untuk kalian bagi atau nikmati sendiri. Tak masalah bagiku, semoga kalian tenang disana. Entah dimana?, yang telah Ia janjikan kepadamu juga kepadaku.

Minggu, 13 Januari 2013

Mati punya cara sendiri untuk berpesan – Part 1


Surah ke 13, Ar-Ra’d, 13 Januari 2013 Masehi
Bukan judul yang istimewa dan bukan sengaja untuk mencari sensasi. Tapi bagi kami sekeluarga di tanggal ini merupakan peristiwa spiritual yang membuat saya merasa bahwa: “mati punya cara untuk berpesan.”

Pada 13 Januari 2013 masehi. Saya seorang cucu yang melihat seorang nenek yang dulu selalu setia menggosok punggung saya yang berkeringat, karena kebiasaan berulah sebelum tidur. Sekarang beliau hanya terbaring lemas dan semakin kurus. Saya mengingat bahwa senyumnya yang memikat, membuat seorang bocah akan merasa betah belama-lama untuk digendongnya. Tapi sekarang saya mengerti, bahwa menggendong itu tak semudah yang kita lihat. Saat kau dihadapkan dengan nenek yang kau cintai, yang sekarang sedang kritis dan untuk menggerakkan tiap persendian, ia pun merintih.

Selasa, 01 Januari 2013

Rumah adalah kalung kerinduan

Saya sering membayangkan berjalan mengelilingi nusantara, sampai pada akhirnya saya tertidur dengan memimpikannya. Beberapa tempat yang datang di mimpi itu, sering menjalar menjadi semangat untuk keluar rumah. Mengunjungi beberapa tempat dengan melepas-bebaskan panca indra untuk berlari memungutnya untuk saya bawa pulang. Saya sempat menjadi seorang superior saat tiba di rumah, setelah menempuh bermil-mil perjalanan dan pulang dengan ribuan cerita. Bercerita dengan keluarga dan rekan-rekan bagaimana tempat tersebut saya kupas di depan telinga mereka. Maklum beberapa dari keluarga saya (kecuali Ayah dan kakak-kakak sepupu), mereka hanya tertarik dengan rutinitas dan memilih untuk menghabiskan sebagian waktunya di rumah. Saya bisa mengatakan bahwa ini, “perbedaan yang indah dalam keluarga kami”. 
 
Jika Roy Boy H, mengatakan bahwa ia selalu merindukan rumah kala berpergian. Setelah lelah di jalan, maka ia kembali menyeret kakinya. Menuju rumah. Di rumah, segala kasih untuknya tercurah. Sungguh indah mendengarnya.

Jika rumah adalah sejuta dari kenangan yang membuat kita untuk merindunya, saya pun mengamini. Saat di sebuah sore saya membaca ‘Foi Fun’ blog milik Nuran dengan judul “Rumah yang hilang”, saya jadi teringat bagaimana saya di besarkan dulu. Pada rumah tua yang didirikan kakek saya pada pertengahan tahun 60an. Selain saya, ada beberapa dari anggota keluarga yang dibesarkan di rumah dengan cat hijau yang meberi aksen menyejukkan. Warna hijaunya sangat magis, menurut saya.

Rumah tempat saya dibesarkan ini, mungkin tak terlalu istimewa menurut sebagian orang. Letaknya yang berada dipaling ujung sebuah gang kecil yang buntu. Rumah yang berada di pinggiran kota Pahlawan, yang terkesan panas telah tersulap menjadi miniatur-miniatur taman, yang paling tidak dapat membuat mata menjadi sedikit lebih segar. Memang dan sangat gemar bertaman. Mungkin mereka ingin suasana pedesaan tetap ada, mereka adopsi saat awal datang ke Surabaya. Sepertinya Kakek dan Nenek saya, ingin memberikan kesan bagaimana mereka dulu tumbuh, dengan menghadirkan suasana desa yang berada di sudut kota metropolis ini.

Menolehlah pada akar sejarah. Temukan diri Anda sendiri. Hanya dengan menemukan akar diri, kemudian kita manusia bisa bertumbuh.” Gede Prama