Selasa, 31 Desember 2013

Kuciut Kerbau, Before Midnight, Ibu, dan Akhir Tahun.



Mungkin saya sedang sial. Karena keberangkatan menuju Flores yang saya rencanakan berangkat pada tanggal 27 Desember 2013 ternyata batal begitu saja. Seorang teman yang memutuskan untuk berangkat sendiri tanpa mengabari saya, tiba-tiba tidak dapat dihubungi.

Padahal jika keberangkatan saya ke Flores benar terjadi, saya akan menghabiskan akhir tahun di sana. Mungkin bisa jadi ini karma.

Tiga hari sebelum hari Natal, saya berada di Bandung untuk membantu kawan-kawan birder dari Selangor Malaysia melakukan meeting converence bersama beberapa komunitas yang berada di Kota Kembang. Kebiasaan buruk yang orang lain sering sematkan kepada saya adalah mengatakan bahwa saya jarang sekali melihat handphone saat bekerja atau sedang sibuk. Menurut saya, jika ada hal yang amat penting, pastilah ada dering seluler yang terdengar oleh saya. Sisanya seperti pesan singkat, mungkin baru benar-benar mendapat perhatian, saat rehat atau saat tiba di penginapan.

Sudahlah saya tidak ingin membahas lebih jauh mengapa saya jarang memegang seluler terlalu lama. Karena mungkin hal itu bisa jadi hal yang sangat sensitif bagi saya. Saya hanya ingin menceritakan beberapa kejadian di akhir tahun 2013 yang saya putuskan untuk melewatinya di Kota kelahiran saya: Surabaya.

Mungkin tulisan ini berawal dari perasaan tergelitik, dengan pesan singkat dari seorang kawan perempuan yang saya terima beberapa hari lalu. Ia menanyakan, “tumben kamu gak kemana-mana?”

***

Setelah acara meeting converence usai diadakan di Bandung. Saya kembali melakukan aktivitas normal seperti biasa. Berkeliling kota setiap pagi. Kemudian siang hari, sesekali singgah di kedai kopi untuk browsing dan membalas email, kemudian sore hari sampai petang menyempatkan untuk menengok kumbung jamur yang memang sering saya tinggalkan akhir-akhir ini.

Mungkin setelah perpisahan dengan birder Selangor di Bandara Bandung (yang kata orang Malaysia, bandara itu hampir menyerupai kedai kopi atau rumah toko jika dibanding bandara internasional). Saya tertawa jika mengingat perkataan Tuan Lecimanan itu. Saya kembali menghabiskan waktu libur, atau senggang bersama rekan-rekan. Kebetulan beberapa diantara kami memiliki hobi yang sama, yaitu mengamati burung liar.

Tanggal 28 Desember 2013

Setelah bersahabat dengan perasaan mangkel, gara-gara tak jadi berangkat ke Flores. Saya memaksa membuang perasaan mangkel itu, untuk kemudian pergi ke tambak wonorejo. Seperti biasa, saya melakukan pengamatan rutin dan beberapa mencoba peruntungan untuk foto burung.

“Siang ini memang cerah,” kata mas Lukman sambil memasang lensa.

Perkataan itu diamini oleh Pak Boeseth.

Dan kemudian meneruskan perkataannya dengan kalimat optimis,

“Cuaca seperti ini baik untuk pencahayaan foto satwa mas.”

Waktu itu kami memang memilih pinggiran bosem sebagai lokasi pengamatan. Kami menunggu dengan santai sembari bertukar pengalaman tentang cara menunggu burung yang baik dan sopan. ‘Sopan’ seperti tidak memakai pakaian yang berwarna mencolok, sampai setiap melakukan pengamatan haram hukumnya memakai wewangian.

“Burung juga mempunyai saraf penciuman, jadi saat ingin mengamatinya carilah lokasi yang tidak membelakangi arah angin ke arah obyek (burung), burung bakalan kabur saat kita membelakangi arah angin.”

Kalimat itu yang sering saya dengar dari senior bird watcher.

Setelah menunggu lama, buah kesabaran kami menunggu burung kuciut kerbau menampakkan hasil. Burung dengan nama latin Motacilla flava resmi kami dapat penampakkannya. Cekrikk, cekrrikk, cekrriikk..

Tanggal 29 Desember 2013

Entah bisa dibilang waktu itu adalah minggu teraneh. Saya yang menghabiskan waktu setelah shubuh dengan kembali berbaring di kasur. Memutar mp3 dengan lantunan suara Sting dan kemudian sesekali berganti dengan suara dentingan gitar yang dibawakan Adhitia Sofyan dengan Blue Sky Collapse. Sangat slow. Begitu seterusnya, sampai menjelang pukul 9:00, dan kemudian saya bangun dengan perasaan enggan.

Sore hari, saat ingin mengakhiri kunjungan rutin kumbung jamur kesayangan, ban belakang motor saya kempes. Saya tidak langsung berhenti untuk mengeceknya, saya malah memutuskan untuk memacunya lebih cepat, karena di belakang motor saya beberapa kendaraan yang tidak sabar menyalakan kelakson dengan nada tanpa ampun. Sial benar. Ban saya bocor, tertusuk kawat besi dan harus berjalan dengan perut lapar untuk mencari bengkel.

Setelah tiba di rumah, saya memutuskan untuk segera berbaring di kasur, sembari menyalakan kipas angin. Sayup-sayup angin dari kipas membuat saya mengantuk.

Mungkin intinya adalah 5 menit sebelum saya memutuskan untuk tidur. Saya mencoba menghubungi seorang kawan perempuan yang saya kenal saat kami berdua bertemu di SMA. Dulu sebelum ini, kami berdua adalah dua orang yang sangat jarang berkomunikasi satu sama lain. Apalagi bertemu. Mungkin juga dulu kami belum mendapat frekuensi ini, mungkin juga sekarang pun masih berlaku. Entahlah.

Anehnya, ada beberapa perbincangan yang mengalir begitu saja. Seperti bertemu dengan kawan lama, dan malam itu seperti dua karib bertemu, kemudian mencurahkan apa saja dan tentang apa saja yang selama ini kami lalui. Entahlah aneh rasanya, perasaan apa ini? Jika Alvin Zirtaf menulisnya, saat cupid datang tanpa batas waktu, apakah cupid datang malam itu? Mboh wes.

Tanggal 30 Desember 2013

Mamak datang menemui saya. Mungkin perasaannya akhir-akhir ini begitu cemas saat mengingat saya. Keluar masuk hutan, keliling pulau seorang diri, dan jarang sekali pulang. Kalaupun pulang hanya tidur seharian karena saya begitu kelelahan.

Saat beliau datang, saya langsung memeluknya. Saya tidak banyak melakukan pembenaran ataupun mengawali untuk bercerita tentang pengalaman saat travelling. Menurut saya, itu tak penting. Baginya, melihat saya berbahagia dan selau sehat, itu sudah cukup membuat tidurnya pulas.

“Bunda, Maafkan saya yang selalu lupa untuk mengucapkan selamat hari Ibu padamu.”

Tanggal 31 Desember 2013

Sore tadi saya putuskan ke toko buku (lagi). Memang saya akui, selain menulis saya paling bodoh untuk memilih bahan bacaan. Bukan berarti saya tidak menghargai karya orang lain, bukan seperti itu. Niat awal dari rumah, saya ingin membeli beberapa bahan bacaan (buku) untuk teman pergantian tahun baru. Namun setelah tiba di lokasi, saya malah memilih novel romance.

Entahlah, apa yang sedang saya pikirkan semua nampak random tak karuan. Sekarang pun saya kembali berkirim pesan singkat kepada kawan perempuan yang kemarin saya telpon. Argh, semoga nanti malam turun hujan dengan lebatnya. Saya terlalu cemburu dengan muda-mudi yang keluar saat ini dan membuat harapan baru sambil berpelukan. Hahaha, kopi mana kopi?

Goyah. Akhirnya keluar gowes ke tengah kota.

Senin, 30 Desember 2013

Numpang Pamer: Satu Langkah Menuju Samatrah!

Empat tahun lalu, jauh sebelum saya memiliki beberapa perlengkapan birding apalagi perlengkapan fotografi. Saya mendambakan berada di Pulau Sumatera. Berpetualang, atau apa sajalah yang bisa saya lakukan untuk bersenang-senang di sana.

Dua minggu lalu, siapa yang menduga? Keinginan itu terwujud. Saya terbang ke pulau yang menjadi pondasi beberapa bukit barisan dengan pesonanya itu. Tentu saja perasaan meletup-letup itu muntab, seperti mamak dan nenek yang tak dinyana mendapat kocokkan nomer arisan. piye rasane dab? campur aduk gak karuan. Bingung karepe dewe.

Saat berada di dalam pesawat dengan tujuan Kota Padang, saya menengok keluar jendela berukuran 30x40 cm itu. Melihat formasi awan yang mulai menghitam dan sesekali membuat awak pesawat sedikit bergetar. Saya menguatkan diri untuk tidak tidur.

Saya mencoba menikmati momen di atas pesawat dengan mbatin, mungkin ada benarnya beberapa bacaan yang pernah saya baca tentang mimpi. "Saat seorang berani bermimpi tentang beberapa atau mungkin juga tentang banyak hal. Tanpa sadar mereka sudah memulainya."

Ibnu Batutah sang traveller asal negeri Maroko juga pernah mengunjungi pulau terbesar ke enam dunia itu pada tahun 1345. Beliau melafalkannya dengan kata Samudera menjadi Samatrah, kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera yang sampai sekarang kita sepakati bersama saat menyebutnya.

Memang tidak hiperbolik saat menyebut pulau Sumatera dengan sebutan pulau emas. Masyarakat Minangkabau dan beberapa buku sangsekerta-pun mengamini sebutan itu. Sampai sekarang pun Sumatera tetap menjadi primadona dari hasil pertanian dan pertambangan. Siapa yang tak mengenal kualitas batubara asal Sumatera, siapa pula yang tak tergiur untuk menanamkan modalnya untuk sawit dan tambang minyak di Pulau Sriwijaya itu. Tanah yang subur, cerukan bukit dan banyak jalur lintas provinsi pun menjadi primadona kunjungan wisatawan.

Kedatangan saya di Pulau Sumatera, saya awali di daerah Sungai Penuh Kabupaten Jambi. Sebelumnya saya menempuh perjalanan hampir 8 jam dengan sesekali berhenti untuk buang air kecil dan sholat. Jalur lintas Provinsi yang menghubungkan Kota Padang dengan Kota Jambi itu sungguh Subhanallah. Liukkan dan turunan tajam yang selalu ramai dengan aktivitas transportasi seperti truk, dan mobil dengan bak terbuka sering kita jumpai di jalur ini. Momen saat melewati desa Kayu Aro yang mempunyai landscape perkebunan teh yang mempunyai latar pemandangan gunung tertinggi kedua di Indonesia, yaitu Gunung Kerinci yang tak henti-hentinya membuat saya komat-kamit takjub.

Ah, Saya jadi ingat. Saat semalam saya bercerita kepada seorang kawan perempuan, tentang perjalanan dan pengalaman saya saat bersama suku Sasak, setelah merampungkan pengajian di Masjid setempat. Menjelaskan bagaimana rasa minuman (arak) suku Sasak yang membuat kerongkongan kering dan rasanya seperti buah pisang yang belum masak. Susah untuk dijelaskan toh?. Sama halnya saat saya menuliskan bagaimana satu langkah menuju Sumatera kepada kalian semua.

Yang paling mungkin, Saya berdoa semoga sampeyan-sampeyan semua mendapat rejeki dan mampir ke Sumatera, entah itu nglutus, mblusuk, ataupun ngemper. Yang paling penting jangan bikin onar atau mesum di Pulau Samudera Emas itu.

Kayu Aro - Sumatera.

Senin, 16 Desember 2013

Pendaki Gunung Itu

Pendaki gunung itu adalah orang-orang yang telah berguru pada alam. Guru yang langsung diciptakan oleh Tuhan untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kita. Jadi bisa dibilang, orang-orang yang berguru pada alam itu sesungguhnya telah berguru pada sang maha guru. Maha guru yang lebih banyak memberi dan tak pernah meminta.

Karena ilmu tanpa batas itu sumbernya dari Tuhan, maka alam adalah sebagai medianya. Nabi Musa saja harus mendaki gunung Sinai ketika akan mendapatkan kitab Taurat. Nabi Muhammad SAW juga harus mendaki bukit (jabal) dan tinggal di Gua Hiro yang tidak semua orang bisa dengan mudah menggapai tempat tersebut, sebelum akhirnya menerima wahyu yang pertama. Demikian pula para empu yang harus mendaki gunung untuk bertapa sampai pada akhirnya mendapatkan pencerahan berupa ilmu atau kesaktian.

Ada beberapa tingkatan “Tujuan mendaki gunung”, yakni sebagai berikut:

Tujuan mendaki gunung yang pertama, bisa dibilang tujuan yang paling rendah adalah ”Untuk hobi atau kesenangan pribadi semata”. Para pendaki gunung yang bertujuan untuk hobi ini, biasanya mendaki gunung untuk sekedar rekreasi, mengisi waktu luang atau melepas kepenatan. Orang-orang ini mendaki gunung untuk menikmati pemandangan alam, menghirup udara segar atau berkemah bersama teman-teman. Puncak gunung bukanlah harga mati, karena yang mereka kejar hanyalah kesenangan semata. Jadi meskipun mereka mendaki gunung tidak sampai ke puncak, sebenarnya mereka sudah cukup puas.

Tingkat kedua, tujuan mendaki gunung “Untuk prestise atau mendapatkan pengakuan”. Para pendaki yang mendaki gunung untuk tujuan seperti ini, yang mereka kejar hanya puncak. Jadi puncak gunung adalah harga mati bagi mereka. Bagaimanapun caranya, puncak harus bisa diraih, karena mereka beranggapan semakin banyak puncak gunung yang dikoleksi, maka prestise akan meningkat pula dan Ia-pun akan mendapat pengakuan dari orang lain (meskipun kenyataannya justru dianggap sombong dan kurang begitu dianggap oleh kebanyakan pendaki).

Tingkatan yang lebih tinggi yakni “ Untuk pengalaman dan Ilmu pengetahuan”. Orang-orang yang bertujuan seperti ini tidak hanya “pendaki gunung atau petualang saja”, tetapi bisa juga para ahli yang mendaki gunung untuk keperluan penelitian. Contoh: Seorang ahli “Vulkanologi” harus mendaki gunung untuk meneliti keadaan kawah sebuah gunung, Seorang pendaki yang mendaki gunung untuk keperluan membuat peta, seorang ahli yang mendaki gunung untuk keperluan meneliti jenis-jenis hewan dan tumbuhan di sebuah gunung, seorang petualang yang mendaki gunung untuk membuka jalur pendakian atau mencari lokasi sumber air dsb. Orang-orang yang memiliki tujuan ini, biasanya mengabaikan “Prestise” atau bahkan “nyawanya” sekalipun karena tujuan utama mereka adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam benak mereka. Demi ilmu pengetahuan dan pengalaman baru sehingga bermanfaat untuk dirinya dan juga orang lain.

Tingkatan selanjutnya yang lebih tinggi adalah “ Untuk pelestarian alam atau misi penyelamatan”. Biasanya banyak dari kalangan para “Pecinta alam” (Pecinta alam yang sebenarnya), Tim SAR atau polisi hutan. Mereka mendaki gunung untuk kelestarian alam, misalnya reboisasi di lereng gunung, ekspedisi bersih-bersih gunung dari coretan-coretan dan sampah gunung, perbaikan jalur pendakian untuk mencegah adanya jalur-jalur bayangan yang akan menyesatkan pendaki, Tim SAR yang mendaki gunung untuk mencari pendaki yang hilang, para polisi hutan yang mendaki gunung untuk menjaga hutan dari bahaya kebakaran atau memburu para penebang dan pemburu liar.

Tingkatan berikutnya yang lebih tinggi lagi adalah “Untuk mengasah pribadi dan menemukan hakekat diri”. Orang-orang yang memiliki tujuan seperti inilah orang yang mampu berguru pada alam. Mereka mendaki gunung untuk menyendiri dan merenung guna mendapatkan kedamaian dan pencerahan dari Tuhan dengan mengakrabi alam. Karena dengan begitu mereka akan tahu bahwa dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan alam apalagi Tuhan. Tujuan mendaki gunung seperti ini tidak hanya bisa dilakukan oleh para pertapa saja, yang biasanya mendaki gunung dan tinggal disana dalam waktu yang cukup lama sampai mendapat ilmu. Namun, sebenarnya para pendaki gunung biasa juga bisa memiliki tujuan seperti ini, kebanyakan para pendaki yang sudah cukup berpengalaman biasanya mendaki gunung untuk tujuan seperti ini. Mereka mendaki gunung bukan lagi untuk hobi atau mengejar prestise, tetapi mereka mendaki karena “panggilan jiwa” yang harus terus dipenuhi. Mereka seolah tak bisa hidup jauh dari gunung. Meskipun telah lama tidak mendaki gunung, namun keinginan untuk mendaki itu pasti akan tetap ada karena sudah menjadi kebutuhan. Mereka meyakini bahwa ada banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari mendaki gunung. Dengan mengakrabi alam, maka dengan sendirinya alam akan mengajarkan banyak ilmu kepada kita.

Jadi, jelas bahwa gunung adalah media untuk menempa pribadi manusia sebelum akhirnya mendapatkan ilmu yang berasal dari Tuhan. Ilmu yang tak terbatas dan tidak bisa didapatkan hanya dari sekolah atau kuliah saja.

Ilmu apakah itu?

Ilmu tentang “hakikat diri dan Pemahaman akan arti kehidupan”.
Bagaimana cara memahaminya?

Salah satu caranya adalah dengan “Banyak mendaki gunung”.

Jadi pastikan terlebih dahulu tujuan kita sebenarnya sebelum kita mendaki gunung, sehingga kegiatan yang kita lakukan nanti tidak akan sia-sia, dan jika nanti seandainya kita terpaksa harus mati di gunung sekalipun, maka kita tidak akan mati konyol karena minimal kita sudah memiliki tujuan yang jelas.

Tak ada pendaki yang mati di gunung, mati sia-sia. Mereka hanya manusia biasa yang telah berani menghargai hidup dan memenuhi takdirnya saja.

‘Kematian’ ketika mendaki gunung adalah resiko yang harus dihadapi dengan keberanian.

" Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah "
*Ditulis oleh: Kang Aden. Ia adalah salah satu penggiat dari tim Patas Jatim (komunitas pecinta alam yang berada di Surabaya) dan leader pendakian Gunung Argopuro 2013. Beliau dapat dihubungi di sini.

Sabtu, 30 November 2013

Selamat Datang (Lagi) Kepada Majelis Daerah Hulu Selangor Malaysia

Saya saat berada di meeting room, Hotel Surabaya Plaza.

Hari ini tanggal 30 November 2013, tepatnya di Hotel Surabaya Plaza Surabaya. Kami "Sarang Burung Surabaya" kedatangan tamu dari Majelis Daerah Hulu Selangor (MDHS) Malaysia. Kedatangan mereka ke Surabaya dengan maksud memperkenalkan beberapa potensi wisata yang berada di Hulu Selangor terutama dari segi Ekowisata, khususnya bird watching.

Acara yang berlangsung pada pukul 09:00 WIB di ruang meeting conference 1-3 HSPS, mengundang berbagai komunitas pengamat burung dan kelompok studi burung dari setiap Universitas di Surabaya. Beberapa perwakilan yang hadir pada acara "Meeting Conference Selayang Pandang Hulu Selangor" yaitu Peksia (Kelompok Studi Burung Departemen Biologi Universitas Airlangga), Kirik-kirik (Kelompok Studi Burung Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga), Srigunting (Kelompok Studi Burung Universitas Negeri Surabaya), dan Pecuk (Kelompok Studi Burung Institut Teknologi Sepuluh Nopember). Sedangkan penggiat dan peneliti burung senior dihadiri oleh komunitas "Anak Burung", pada kesempatan ini diwakili oleh saudara Iwan Londo.

Ibu Azlina Mochtar sebagai (Ketua Pegawai Perancang Bandar & Desa) Hulu Selangor yang sempat berkunjung pada bulan Oktober 2013 bersama tiga rekan dari Malaysia, sudah mengawali kunjungannya ke Surabaya untuk bird watching di Wonorejo Surabaya, yang dipandu oleh rekan-rekan dari komunitas Sarang Burung Surabaya yang diketuai oleh Lukman Nurdini (alumni mahasiswa pasca sarjana di Departemen Biologi Universitas Airlangga) dan juga aktif dalam pengamatan rutin di Wonorejo Surabaya. Pada kesempatan kali ini, beliau menyampaikan presentasi tentang potensi wisata Hulu Selangor, dengan presentasi yang begitu menarik dan persuasif. Beberapa penyajian yang diberikan terutama dari segi pengamatan burung. Beliau menampilkan beberapa jenis burung yang dapat diamati di Hulu Selangor, salah satunya yang menjadi ikon daerah tersebut adalah burung dari jenis Black-naped Oriole atau dengan nama daerah di Malaysia sering disebut sebagai burung Kunyit Besar/Dendang Selayang. (Bersambung)

Suramadu bersama dengan birder Selangor Malaysia.


Jumat, 29 November 2013

Untuk Kamu yang Takut Ketinggian



Foto oleh Radityo Pradipta
Sandi, maaf aku lupa untuk mengirim surat untukmu. Sudah tiga minggu ini aku tak mengabarimu. Bukan karena mengabaikan, tetapi aku teramat sibuk dengan ketidakpastian.

Sandi, aku tak pernah lupa ketakutanmu akan ketinggian. Mungkin kita masih mengingatnya, saat kita berada satu bis yang sama menuju bukit. Kamu duduk bersebelahan bersama kekasihmu, sedangkan aku duduk sendiri tepat di depanmu. Aku baru mengerti ternyata kamu orang yang membenci ketinggian dengan bersembunyi di balik ketiak kekasihmu. itu sangat menggelikan.

Empat hari lalu, aku mengunjungi pulau Madura. Aku berkeliling mencari suasana yang berbeda. Saat dhuhur tiba aku memutuskan untuk menepi di masjid Bangkalan, masyarakat di sana menyebutnya dengan “Masjid Emas”. Entah mengapa panggilan emas tersemat untuk masjid yang selalu ramai pengunjung itu.

Setelah rebahan sekitar lima belas menit, aku segera bersiap menuju barat. Perjalanan yang tak tentu arah itu, membawaku pada area pertambakan rakyat. Melewati kumpulan perdu yang hijau dan beberapa komunitas mangrove mayor yang sebagian telah terpangkas oleh tangan-tangan jahanam. Perjalanan saat itu mengingatkan aku pada desa Sukapura dan Ngadisari saat sore hari yang sepi, mungkin bedanya jalan yang saat itu aku lewati tidak ada tanjakan atau turunan yang menggoyang pantat kita.

Sayang kau tak ada di jok motor bersamaku saat itu.

Sandi, memang perjalanan waktu itu aku tak sendiri, aku mengajak beberapa rekan-rekanku pekerja foto untuk bergabung denganku. Mereka mengabariku secara kebetulan saat aku hampir membuat keputusan untuk memutar balik setang motorku. Mungkin tak selamanya sendiri itu mengasyikkan, terkadang kita butuh teman untuk berbagi. Mungkin Tuhan mengerti ini, dan mengirim mereka untuk mewakilkanmu.

Lengkap sudah kami berempat saat itu. Salah satu kawanku bernama Muslim menyarankan untuk mengunjungi mercusuar di daerah Sembilangan. Masyarakat Bangkalan sering menyebut mercusuar itu dengan sebutan “Mercusuar Lampu”. Letak mercusuar tersebut berada di desa Sembilangan, maka sebagian besar masyarakat luar Madura lebih mengenal dengan nama Mercusuar Sembilangan.

Kesan pertama saat aku tiba di kawasan Mercusuar Sembilangan sore itu: sepi. Tak begitu ramai dengan pengunjung berserta hiruk pikuknya. Aku juga masih ingat saat kamu mengajakku ke pos pantau mangrove Wonorejo untuk mencari inspirasi dan menghindari keramaian kota. Saat itu aku membawa binocular untuk mengamati burung, sedangkan kamu membawa tas seukuran kertas A3 dengan isi kamus bahasa Indonesia dan pensil warna-warni. Mungkin Tuhan menciptakan beberapa kesamaan untuk aku mengingat dan menghargai peristiwa.

Setelah memarkir sepeda motor, aku masih enggan untuk memasuki komplek mercusuar. Aku memandangi sekitaran sembari menarik nafas yang dalam. Teduh. Namun sayang beberapa kali mengarahkan pandangan, terlihat beberapa sampah tercercer tak karuan. Aku mengambil yang terdekat dari tempatku berdiri, kemudian berjalan kearah timur untuk melihat beberapa mangrove yang terpangkas. Perasaan miris, bercampur aduk saat itu. Mungkin sebentar lagi kawasan ini akan ramai oleh pertokoan. Tapi semoga saja tidak, karena empat warung di depanku saja sudah cukup membuat perutku berisik untuk diisi.

Sudah ah, daripada aku berlama-lama bercerita. Lebih baik aku pamerkan beberapa foto tentang Mercusuar Sembilangan itu padamu. Semoga suatu hari nanti kita dapat mengunjunginya, menikmati sunset dan berlari beradu cepat untuk menaiki anak tangga. Oh aku lupa lagi, kalau kamu takut ketinggian dan badanmu sudah tak selangsing dulu.

Mercusuar Sembilangan, dengan 16 lantai dan 1 lantai untuk lampu.
Kenalkan: Kang Agung, Adit, dan Asdi.
Dari dalam kita dapat melihat pemandangan luar dari jendela pada setiap lantai.


View dari dalam Mercusuar Sembilangan.


Tangga di dalam Mercusuar Sembilangan.


View dari belakang, Mercusuar Sembilangan.

Aku cukupkan untuk sementara tulisanku. Semoga saja tulisan kali ini, menjadi penawar rinduku padamu. Sampai berjumpa lagi Sandi. Semoga kamu selalu diberi kekuatan dan kebaikan untukmu sendiri dan untuk manusia lain di sekitarmu. Amiin. 

*Foto tambahan, (Landscape)

Seperti kataku, Mangrove sudah banyak yang ditebang di area Mercusuar Sembilangan.
Z. M. Willem III, Mercuar Sembilangan.
View dari bawah, tempat untuk menaik-turunkan barang.
Lorong untuk barang dilihat dari atas lantai tiga.
View dari lantai 16, Mercusuar Sembilangan.
Foto latar adalah pelabuhan Tanjung Perak.
Dari lantai 16, kita dapat melihat pemandangan pertambakkan.
Cheers!



Jumat, 22 November 2013

Mengganti Kerinduan



Momen saat usai pengamatan burung. Foto: Ryan

Entah sejak kapan saya mengutuk sebuah kerinduan. Barang kali beberapa pertemuan dengan sahabat dan keluarga cenderung menyebalkan akhir-akhir ini. Saya sering bosan. Alhasil dengan cara menghindar dan kabur dari rutinitas menjadi jalan pintas. Ambilah contoh pelarian saya menuju pulau Lombok beberapa bulan lalu. Ditambah lagi kegiatan mendaki gunung Argopuro yang hampir saya yakini sebagai batas akhir hidup. Miris? Dengan jujur saya katakan, “iya.”

Memang terlalu dini untuk mengatakan, “supaya orang lain mengambil pelajaran hidup dari apa yang saya lakukan.” Mungkin ini adalah kalimat paling congkak yang saya yakini waktu itu. Memangnya siapa saya, sampai orang lain mau belajar dari saya.

Mencoba memutar ulang waktu.

Pada saat itu, dibawah kekalutan dan beberapa perasaan sepi yang saya alami. Membuat saya menguji beberapa pemikiran dan buku yang saya baca. Tentang seberapa kuat, benar, sampai beberapa pertanyaan tentang seberapa rindu saya akan hal-hal yang menyakitkan. Saya berpendapat, bahwa hidup adalah membuktikan apa yang panca indra rasa.

Seperti perasaan bagaimana kita menuntaskan buku bacaan kesayangan, dan berusaha mati-matian untuk mengoleksinya hingga tuntas. Mungkin itulah hidup menurut saya waktu itu. Saya tak butuh pembenaran atau sangkalan dari orang lain, karena prinsip akan timbul dari beberapa pengalaman hidup yang kita sendiri alami. Bukankah cara kita berjalan berbeda?

Saya pernah membenci keramaian, maka saya berusaha mengujinya dengan mendatangi Gili Trawangan. Saya pun pernah membenci sepi, maka saya mengujinya dengan mengunjungi Argopuro. Kemudian pernah saya tergelitik dengan pernyataan, “Berburu pantai eksotis”. Maka saya tergerak untuk memburunya. Semua perkara pembuktian.

Saya tak ingin benar-benar membenci sesuatu hal, saat saya belum melakukannya. Entah orang lain mempunyai pendapat yang berbeda dari saya, itu adalah hak. Sekali lagi, bukankah cara kita berjalan berbeda?

Parahnya lagi, saya tak mudah percaya dengan apa yang saya dengar sebelum saya melihatnya dengan mata kaki saya. Contoh bodohnya adalah saat seorang kawan pendaki mengatakan bahwa Argopuro memiliki jalur trekking terpanjang se-Jawa, saya membuang muka di depannya dan berujar, “Saya akan kesana”. Alhasil, di pertengahan perjalanan trekking Argopuro, saya mengalami hypothermia dan kuku jari kaki hampir lepas, karena perjalanan yang tak habis-habis. Saya menyesal? Tidak, karena saya belajar.

Saya yakin Tuhan punya rencana sendiri untuk mengingatkan sikap sombong. Sebenarnya saya tak pernah suka dengan sikap yang membinasakan itu. Mana ada orang yang dipanggil sombong akan suka dan tersenyum. Fitrah manusia, ingin dipandang baik toh.

Selain membuktikan tentang ketakutan, kesepian, sampai dengan kata utuh. Saya juga ingin membuktikan apa arti kerinduan? Semua manusia berhak rindu dan dirindukan. Chandra Malik bisa saja bebas menulis tentang apa itu kerinduan dengan #fatwarindu-nya setiap malam, supaya kita tersentuh dan menangis.

Memang benar adanya, rindu adalah harapan. Saat harapan itu begitu jauh dan mungkin detik waktu tak cukup untuk menggantikannya. Lalu bagaimana kita menggantinya? Dengan diam? dengan berucap? Sampai tiap buih doa pagi hari yang kita ucap yang kita yakini sebagai antidot, mulai pupus dan membuat kita jengah dengan keadaan.

Saya pun tak benar-benar yakin, bahwa menulis adalah sebuah proses merapikan kenangan. Karena kenanganlah yang membuat perasaan rindu semakin kuat dan menyesak di celah-celah rongga dada yang membuat kering kerongkongan.

Kita hanya bisa menggantinya. Mengganti rindu yang telah usang, membuat harapan baru dengan sesuatu yang pantas dirindukan.

Seperti bermain puzzle. Kita berhak merubah letaknya, mencarinya, sampai kita menuntaskan permainan. Tapi ingat, suatu saat kita akan membuka kembali dan mengacak-acaknya. Itulah rindu.