Sabtu, 15 Desember 2012

Travel Taboos

Tamu adalah raja, tapi bukan dewa. Saat berkunjung ke negara asing, kita wajib menghormati adat istiadat setempat. Alivia Zuhadmono mengupas aneka tabu dan pantangan unik bagi wisatawan.

Pepatah mengatakan, “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Meski klasik namun kata-kata bijak ini benar adanya, dan dalam beberapa kasus, mungkin bisa menyelamatkan kita dari malapetaka. Lihat saja tragedi yang menimpa Michelle Palmer. Wanita muda asal Inggris ini ditangkap polisi atas tuduhan telah bermesraan dengan seorang pria di Pantai Jumeirah, Dubai. Menurut aturan setempat, public display affection (PDA) atau aksi mempertontonkan kemesraan di muka umum adalah haram hukumnya. Andai Michelle “menjunjung langit” Dubai, ia mungkin tak akan mendekam di dalam bui.


Tiap wilayah di bumi memiliki norma adatnya masing-masing. Apa yang wajar di Inggris bagi Michelle, bisa berarti penjara di Dubai. Beberapa kaidah lokal mungkin tidak masuk akal atau terkesan mengada-ada, tapi itulah budaya—hanya orang setempat yang mengerti apa maksudnya. Sebagai pengunjung, yang perlu dilakukan adalah menghormatinya. Saya coba mengumpulkan informasi tentang aneka tabu dan habit janggal di dunia. Berikut beberapa yang paling unik.

Di Iran, mengacungkan jempol ternyata merupakan perbuatan yang tidak sopan, bahkan bisa dianggap sebagi penghinaan. Acungan jempol di Iran mungkin sama artinya dengan acungan jari tengah di Amerika. Etika sosial ini bertolak belakang dengan kebanyakan negara yang menilai acungan jempol adalah simbol pujian; sebuah stasiun televisi swasta di Indonesia bahkan pernah menggunakannya sebagai bagian dari slogan kampanye. Sementara di Jawa, acungan jempol adalah cara paling halus untuk menunjukan arah.

Masih soal jari, seperti di Iran, mengacungkan jempol juga dinilai kasar di Turki. Gestur ini merupakan simbol dari alat kelamin, baik laki-laki maupun perempuan. Tak heran jika di negara ini memberikan tanda “sip” (dengan jempol) dikategorikan sebagai pelecehan seksual.

Contoh tabu lain saya temukan di Thailand. Di sini, mengkritik raja dan keluarga kerajaan dipandang sebagai perbuatan “dosa”. Masyarakat Negeri Gajah Putih memang sangat mengkultuskan rajanya. Jika terjadi konflik politik yang parah, seperti antara oposisi dan pemerintah, raja akan bertindak sebagai juru selamat yang mendamaikan para pihak. Begitu dalam cerita warga terhadap sang raja sampai-sampai siapapun yang menghinanya akan dikirim ke “hotel prodeo” (Penjara bintang lima).

Masyarakat Inggris juga punya sosok pujaan, tapi tidak dalam bentuk orang, melainkan klub sepakbola. Di negeri David Bekham ini, sepakbola adalah agama, karena itulah penghinaan terhadap suatu klub bisa disamakan dengan penistaan ajaran suci. Masyarakat Inggris mudah tersinggung jika klub favorit mereka diejek. Segala cara mereka lakukan untuk membela klub, termasuk dengan kekerasan.

Beberapa klub Liga Inggris bahkan memiliki organisasi penggemar garis keras yang berkiblat pada nazi, salah satunya adalah Chelsea Headhunters, hooligan dari klub Chelsea yang punya kebiasaan meninggalkan kartu telepon bergambar tengkorak pada korbannya dengan disertai tulisan: “Anda telah dipilih dan ditangani oleh Chelsea Headhunters.”

Lucunya, sensitivitas warga Inggris ini berlaku ekslusif pada sepakbola, tidak pada yang lainnya. Orang-orang yang saya temui mengaku tak akan murka jika ibu atau istri mereka dihina. Orang Inggris memang maniak sepakbola sejati.

***

Singapura adalah contoh sempurna negara disiplin. Meludah di sembarang tempat akan dikenakan denda yang nilainya bisa lebih mahal dari harga tiket Cengkareng – Changi. Tapi di Yunani, meludah di jalan justru dianjurkan, karena itulah tidak dinilai jorok, meski seringkali warga setempat hanya memperlihatkan mimik dan suara seperti orang meludah. Mereka percaya, meludah bisa mengenyahkan kekuatan jahat dan kemalangan. Jika seseorang menerima berita buruk, ia akan meludah sebanyak tiga kali. Untuk yang satu ini, saya bisa mengerti. Meludah saat menerima kabar buruk adalah reaksi negatif yang lahir dari rasa kesal. Tapi ternyata ada kebiasaan aneh lagi yang sulit dipahami: kaum pria akan meludah saat mengagumi kecantikan wanita.

Kultur janggal lainnya saya dapati di Bulgaria. Jika di banyak negara menggelengkan kepala berarti “tidak” dan mengangguk berarti “ya”, warga Bulgaria justru membaliknya: menggeleng artinya setuju, mengangguk artinya menolak. Bagi turis umum, komunikasi tentu bisa jadi sangat membingungkan.

Meski dihuni banyak kaum ekspat, kawasan maju di Timur Tengah seperti Dubai dan Qatar hingga kini masih menolak paham liberal. Warga di sini masih menjadikan norma-norma adat sebagai rujukan dalam berperilaku, terutama di tempat umum.

Saat berwisata di Qatar, jangan sekali-kali memotret perempuan lokal tanpa seizin mereka. Mengambil gambar mereka dianggap perbuatan tak senonoh yang bisa membuat Anda terkena damprat, baik oleh si wanita, keluarganya, ataupun aparat polisi. Jika Anda inigin memotret pemandangan. Pastikan tak ada wanita yang akan terekam dalam kamera.

Indonesia juga memiliki banyak hal yang ditabukan. Bukan sesuatu yang aneh sebab negeri kepulauan terbesar ini didiami oleh 740-an suku yang masing-masingnya memberlakukan adat berbeda.

Di perkampungan Badui Dalam misalnya, memotret adalah perbuatan yang diharamkan. Anda tak boleh mengambil gambar obyek apa pun, baik rumah ataupun orang. Bahkan, sebelum memasuki teritori Suku Badui Dalam, semua peralatan elektronik wajib dipensiunkan sementara waktu.

Badui Dalam memang dikenal sangat memegang teguh adat dan mengagungkan keselarasan hidup dengan alam. Rumah-rumah mereka saja didirikan tanpa memeratakan tanah terlebih dulu, tujuannya adalah untuk menjaga kelestarian lingkungan. Orang-orang yang selalu berpakaian putih ini juga menolak teknologi dan masih melestarikan nilai-nilai peninggalan nenek moyang. Siapa pun yang berkunjung ke perkampungan Badui Dalam disyaratkan mengikuti tata cara hidup setempat.

Keteguhan memegang adat leluhur juga bisa disaksikan di Pulau Dewata. Pura, tempat sakral masyarakat Hindu Bali, meski dibuka untuk umum, namun memiliki rambu-rambu yang wajib dipatuhi. Salah satu rambunya adalah larangan masuk bagi anak kecil yang belum tanggal gigi susunya, serta perempuan yang sedang menstruasi atau menyusui. Bagi masyarakat setempat, orang-orang dalam kondisi seperti ini diyakini akan menodai kesucian pura.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar