Kaldu Super Al Ghazali – Kuliner Madura Raya

Mengisi liburan akhir tahun bersama keluarga memang sebuah momen yang sungguh menyenangkan. Melewati jalur selatan Madura menjadi pilihan tepat, selain kondisi jalan yang sudah beraspal, selepas Suramadu berbagai kedai makan khas pulau garam ini menarik perhatian kami untuk berhenti dan mencicipi. Kaldu Al-Ghazali menjadi kuliner pembuka untuk kedatangan kami di Pulau yang menjadikan karapan sapi sebagai festival rutin tahunan. Sajian Sup Kaldu dengan bahan utama tulang sapi yang masih terdapat daging kenyal di sekitaran tulang. Sumsum yang berada dicelah tulang, dapat dinikmati dengan cara “disedot” oleh penikmat dengan sedotan layaknya kita minum jus ‘sumsum’, membuat suasana semakin riang tanpa melupakan tulang sapi yang siap kami banting-bantingkan ke meja untuk mengeluarkan lemak dan sumsum yang tersisa. C’mon Boned!

Kuliner Madura Raya yang memakai kaki sapi sebagai sajian utama, milik Al Ghazali
Teks Oleh Abdurrahman Azhim Ali. Foto oleh Abdurrahim Nur Salim


White Cow Al-Ghazali Maduranese
Madura

Setelah suara adzan Dhuhur ber-kumandang, saya mencoba memelankan laju mobil yang melewati jalur selatan Madura. Setelah selesai shalat, kami sekeluarga melanjutkan perjalanan. Kami memutuskan untuk mencari warung makan, sebelum tiba di Pamekasan. Maklum perut kami sudah berteriak ‘minta-minta’. Bisa jadi karena efek perjalanan selatan Madura dengan fenomenanya: Sepanjang jalur selatan ini memang kerap kami jumpai beberapa warga yang berada di tengah dan kiri-kanan jalan, untuk menyodorkan kotak amal pembangunan masjid atau mushola. Pemandangan biasa yang dapat kita jumpai saat kita memutuskan berkunjung ke pulau garam ini. Selain itu, pemandangan dan keramaian pasar sepanjang jalur selatan Madura juga kerap membuat lalu lintas yang terus mengalami pengaspalan ini, selalu macet menjelang pagi dan sore hari.

Please smile while driving,” Tegur adik kedua saya yang sok nginggris berusaha mencairkan suasana tegang dalam mobil yang sengaja kami buka kacanya, bukan karena kepanasan akan tetapi saya sengaja membukanya untuk membiarkan udara sekitar masuk, supaya kami bebas menghirup aroma yang akan membuai indra penciuman seisi mobil. Selain sate dan soto madura yang terkenal di Nusntara, Madura masih menyimpan beberapa sajian kuliner yang terus berkembang, hal ini yang menjadikan kami penasaran ingin mencari tahu dan tak sabar ingin mencobanya.

Setelah setengah jam kami berjalan dengan kecepatan hampir 60 Km/jam kami memasuki Sampang. Salah satu kota dari empat kota di Madura, tiba-tiba Ayah Saya ingin mencoba kaldu sapi di daerah ini. Menurut cerita perjalanan rekan-rekan kerja Ayah di daerah Sampang, ada salah satu kedai/warung makan yang khas. Konon warung yang menjual masakan dengan bahan utama daging Sapi ini, kerap menjadi pilihan utama para mobil dinas yang singgah di pulau yang mayoritas penduduknya muslim ini. Kaldu Sapi yang terkenal itu, memiliki daya tarik tersendiri bagi kulinerian, entah apa yang membuat Ayah Saya ingin mencobanya. “Dengar-dengar, orang yang makan kadu Sapi sering menghentak-hentakkan tulang Sapi ke Meja.” “Ngapain?,” Timpalku.

***
Like a Monster!

Mungkin begitu kata pertama yang terlontar, saat pertama kali saya berhadapan dengan semangkuk kaldu sapi yang telah diantar oleh pramusaji berjilbab di rumah makan Al Ghazali. Pandangan pertama saya dengan semangkuk kaldu super mungkin sama seperti saat saya dibikin berdebar-debar pertama kali dengan sup buntut. Mungkin dalam benak saya waktu itu, saat dihadapkan dengan sup buntut adalah saya mulai “nyokot” yang mana dulu?. Bisa anda bayangkan bagian paha atau betis seekor sapi yang sudah mengalami proses sedemikian rupa, tinggal “tetelan” dan masih ada ‘sumsum’ dari tulang yang menarik perhatian mata dan membuat kemruyuk perut saat jam makan siang hampir lewat. Selain semangkuk kaldu super, ditambahkan sepiring nasi yang berbentuk agak rapi mencirikan ini masakan Nusantara, “mangan nek gak mbek sego, berarti durung mangan,” Jargon Jawa.

Hal pertama yang saya lakukan adalah mencoba ‘sari masakannya’, ini yang sering saya lakukan saat dihadapkan dengan masakan yang berkuah atau sajian makanan yang memiliki air. Maksudnya adalah mencicipi bagaimana rasa kuah dari kaldu ini, karena saya pikir dari namanya pastilah cita rasa berada di bumbu-bumbu yang telah tercampur di kuah kaldu super ini. Namanya kaldu pasti rasa yang kuat berada di kuah. Imajinasi awal saya tidak meleset, benar 100% bahwa saat pertama liquid sup menempel di sepertiga bagian lidah saya, rasa kaldu sapi sangat terasa kuat sekali. Bisa saya deskripsikan jika sari-sari dari bagian tulang dan daging sapi yang dimasak kemudian dicampur dengan beberapa bumbu rempah sangat kuat. Kemudian sisi asin dari masakan kaldu super ini khas, “saya bilang khas Maduranese.”

Dugaan pertama saya tentang cita rasa yang kuat ada di kuah tepat, tapi dugaan kedua tentang daging yang masih menempel di bagian tulang, ternyata salah. Perkiraan saya, jika daging yang menempel pada tulang sapi ini sangat keras dan akan memberi perlawanan yang sengit saat saya gigit, ternyata juga salah. Pada kenyataannya saat gigi taring saya mencoba mem-pitchi tekstur daging, daging dari kaldu super ini sangat lembut dan mesra untuk saya kunyah, ditambah lagi rasa kaldu yang sepertinya meresap begitu kuat kebagian dalam daging.

Kedudukan berimbang, dua prediksi saya terlawan oleh tekstur dan rasa kaldu dari daging yang menempel pada tulang sapi. Sesi ketiga yang merupakan sesi klimaks dari petualangan kuliner kali ini adalah terletak pada bagian tengah tulang yaitu sumsum. Spot yang berada di bagian tengah dari tulang yang mungkin berada di-diameter kurang dari 2 cm ini memang saya siapkan sesi tersendiri. Saya memang berusaha tidak tereburu menginterpretasikan berlebih, bagaimana sumsum ini akan menyambut saya. Karena saya lihat selain sendok dan garpu, ada juga alat bantu untuk menikmati kaldu super paman Ghazali ini menggunakan ‘sedotan’. Awalnya saya berpikiran sedotan yang ada di mangkuk bersama tulang sapi ini, merupakan kesalahan pramusaji atau juru masak, karena saya juga memesan jus alpukat. Ternyata setelah diterangkan oleh Ayah saya, sedotan yang berwarna biru ini untuk menyedot si-sumsum yang sok imut, berada di celah tulang sapi nakal milik paman Ghazali.



Sluurrrp,” saya seperti minum jus, tapi kali ini berbeda. Sedotan saya kali ini bukan menghabiskan liquid jus, melainkan menghabiskan semua sumsum yang masih menempel di dinding dalam tulang dari kaldu super ini. Belum sampai habis saya menuntaskan urusan dengan si-sumsum, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari sebelah meja tempat kami makan. Seperti suara hentakan tangan kemeja, dan hampir mirip dengan Hakim saat memukulkan palu saat persidangan. “Dokk, DooKK, DoKK!.” Saya langsung menoleh kearah suara itu berasal, ternyata salah seorang kakek dengan peci hitam yang sedikit miring sedang memegang tulang, tetapi aneh dari pandangan saya, sang kakek memegang tulang tersebut dengan posisi terbalik, posisi tulang pangkal berada di atas, sedangkan bagian bibir atau celah dari tempat kita mengambil sumsum menghadap kearah bawah. Seperti hendak mengeluarkan semua isi (sumsum) dari tulang, atau bisa saya sampaikan: mungkin sedikit gemas melihat sumsum tulang Sapi tidak mau keluar.

Ini yang saya tunggu, saya pun mencoba metoda ekstrim ini, awalnya saya sempat malu-malu karena takut menghilangkan selera orang yang makan di rumah makan ini, dan bisa-bisa saya diusir dan membayar kerugian, karena membuat meja makan jadi lubang dan rusak. Tetapi metoda menghentak-hentakan tulang dan memukul-mukulkan bagian tulang dari masakan kaldu super Al Ghazali ini yang membuat ciri khas tersendiri bagi pecinta kuliner untuk datang dan membuktikan fenomena yang ada. Sampang menggema!, dan kami berlima-pun menikmatinya.

Catatan tambahan : Rumah makan Al Ghazali, dulunya hanya rumah makan sederhana dengan lokasi yang masih menjadi satu dengan rumah pemilik. Sekarang sudah cukup luas dengan berpindah agak barat dari lokasi semula. Rumah makan Al Ghazali dengan best seller-nya yaitu ‘kaldu super’, yang menjadi daya pikat pecinta kuliner Madura. Di lokasi rumah makan Al Ghazali juga terdapat Mushola, jika anda sangat lapar dan tidak cukup waktu untuk mencari masjid. Dan untuk anda pecinta batik Madura, mungkin bisa sedikit bangga karena di rumah makan Al Ghazali ini juga menjual batik khas Madura. Saya sempat melirik harga dari kain batik ini, hampir setengah juta rupiah. Mungkin tak masalah jika anda memang batik lover.

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklanmu di sini