Minggu, 30 Desember 2012

Kaldu Super Al Ghazali – Kuliner Madura Raya

Mengisi liburan akhir tahun bersama keluarga memang sebuah momen yang sungguh menyenangkan. Melewati jalur selatan Madura menjadi pilihan tepat, selain kondisi jalan yang sudah beraspal, selepas Suramadu berbagai kedai makan khas pulau garam ini menarik perhatian kami untuk berhenti dan mencicipi. Kaldu Al-Ghazali menjadi kuliner pembuka untuk kedatangan kami di Pulau yang menjadikan karapan sapi sebagai festival rutin tahunan. Sajian Sup Kaldu dengan bahan utama tulang sapi yang masih terdapat daging kenyal di sekitaran tulang. Sumsum yang berada dicelah tulang, dapat dinikmati dengan cara “disedot” oleh penikmat dengan sedotan layaknya kita minum jus ‘sumsum’, membuat suasana semakin riang tanpa melupakan tulang sapi yang siap kami banting-bantingkan ke meja untuk mengeluarkan lemak dan sumsum yang tersisa. C’mon Boned!

Kuliner Madura Raya yang memakai kaki sapi sebagai sajian utama, milik Al Ghazali
Teks Oleh Abdurrahman Azhim Ali. Foto oleh Abdurrahim Nur Salim

Kamis, 27 Desember 2012

Memoar Mahasiswa Kere naik Haji

Haji Backpacker
Memoar Mahasiswa Kere naik Haji
Penulis: Aguk Irawan

Kata Pengantar

“Kenapa kamu membawa, gula batu?” Tanya seseorang yang duduk bersebelahan di sebuah perjalanan kereta.
“Karena perjalanan itu pahit.” Jawab kawan sebelah itu.
Itulah anekdot yang cukup menarik perhatianku saat aku masih berada di negeri piramida. Biasanya mereka merepresentasikan sebuah sub etnis dengan sebutan “Sa’idy” kalau di Saudi terkenal sebutan “Badawy” yang lugu.
Ya! Perjalanan itu memang penuh pahit dan getir. Namun itu akan terjadi pengulangan. Sebab kerinduan terhadap daerah yang pernah disinggahi akan tetap terjaga di sepanjang memori. Apalagi perjalanan tersebut adalah perjalanan suci. –Aguk Irawan

Kamis, 20 Desember 2012

After Bedengan - Camping Ceria Bersama Penyamun (Photo Story)

Mei 2012 lalu, kami mencoba untuk berkemah di bumi perkemahan Bedengan daerah Malang. Tepatnya di Selorejo Kecamatan Dau, Kab. Malang. Dari kota Malang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 km melalui Bandulan atau Dieng. Tetapi kalau dari arah Surabaya, Batu atau Malang yang lewat Dinoyo bisa melalui pertigaan Sengkaling, dari situ sekitar 8 km. Lokasi Bumi Perkemahan Bedengan dekat dengan P-WEC (Petungsewu Wildlife Education Center).


Selasa, 18 Desember 2012

Seandainya Umroh Ala Backpacker

Malam itu hari sabtu. Setelah shalat isya saya masih di depan layar CPU. Browsing ngalor-ngidul, buka fb, twitter, cek email dan berbalas pantun di blog. Saya memang tak ada niatan untuk keluar rumah malam itu, malam sabtu itu kebetulan Surabaya memang sedang mendung dan beberapa kali gerimis. Pasti aras-arasen buat keluar rumah kalau tak ada tujuan yang jelas. 

Meski tak ada agenda untuk berkumpul malam itu, tetap saja handphone yang sudah mode silent bergetar tanda pesan masuk, dan sesekali telfon “manusia iseng malam minggu” ngajakin cangkruk.

Setelah menghabiskan tiga jam di depan layar CPU, ternyata perut ini keruyukan. Maklum dari tadi sore cemilannya cuma kopi dan mild sebungkus. Saya akhiri saja perjalanan browsing, segera nyandak Handphone yang dari tadi getar terus. 

Setelah masang ‘radar’, ternyata ada beberapa orang yang saya kenal berada disekitaran rumah. Tanpa pikir panjang langsung nawari mie ayam. Gayung bersambut, ternyata si Gubis (sebut saja seperti itu) ternyata penasaran sama mie ayam baso yang berada disekitaran pasar sepanjang. Meluncurlah kami malam itu menuju mie ayam yang kami maksud.

*** 

Sabtu, 15 Desember 2012

Travel Taboos

Tamu adalah raja, tapi bukan dewa. Saat berkunjung ke negara asing, kita wajib menghormati adat istiadat setempat. Alivia Zuhadmono mengupas aneka tabu dan pantangan unik bagi wisatawan.

Pepatah mengatakan, “Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” Meski klasik namun kata-kata bijak ini benar adanya, dan dalam beberapa kasus, mungkin bisa menyelamatkan kita dari malapetaka. Lihat saja tragedi yang menimpa Michelle Palmer. Wanita muda asal Inggris ini ditangkap polisi atas tuduhan telah bermesraan dengan seorang pria di Pantai Jumeirah, Dubai. Menurut aturan setempat, public display affection (PDA) atau aksi mempertontonkan kemesraan di muka umum adalah haram hukumnya. Andai Michelle “menjunjung langit” Dubai, ia mungkin tak akan mendekam di dalam bui.

Bagaimana makam Gusdur (Part 2)

Pernahkah ada pergi berkunjung ke makam proklamator RI?, makam Soekarno yang berada di Blitar. Makam yang beraksen Jawa, dengan bangunan joglo yang menjadi ciri khas makam dari presiden pertama RI ini. Beda Soekarno beda Gusdur, jika makam Soekarno mempunyai ciri khas bangunan yang berukir, lain halnya dengan makam Gusdur yang masih masuk dalam komplek pondok pesantren. 

Makam Gusdur yang berada di Tebu Ireng Jombang ini sudah mengalami renovasi, yang semula pintu masuk menuju makam melalui komplek pondok pesantren, sekarang makam Gusdur sudah nampak jauh lebih ‘modern’. Dengan bangunan pintu masuk hampir menyerupai dinding masjid seperti masjid Al-Akbar Surabaya. Jika kita sudah memasuki pintu masuk, terdapat gerai-gerai yang menjual kaos, dan beberapa pernak-pernik untuk buah tangan. Terlihat juga beberapa toko buku di lorong menuju makam Gusdur. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah toko-toko tersebut menjual kaos yang sudah berdisain modern, dengan karikatur Gusdur dan beberupa kata-kata yang menjadi ciri Tokoh NU ini. –Abdurrahman Azhim-

Minggu, 02 Desember 2012

Antara Troloyo dan Tebu Ireng (Part 1)

Makam Troloyo
 Jika anda adalah seseorang yang sangat sibuk dengan rutinitas di siang hari, dan tak terpikirkan untuk berwisata serta melakukan kontemplasi. Mari sejenak ikut bersama saya untuk berwisata malam. Destinasi kali ini bukan goa ataupun gunung, melainkan wisata religi yang sedikit membuka wawasan kita dalam sejarah Islam dan bagaimana para tokoh Islam membawa ajarannya sampai saat ini. Dengan pertemuan dua budaya, Hindu dan Islam dapat kita saksikan dari beberapa peniggalannya dari situs bersejarah termasuk komplek makam Troloyo yang berada di kecamatan Trowulan, Mojokerto. Kubur Pitu, dan Lengkung Kurawal adalah salah satu wujud kesenian Hindu yang masih dapat kita saksikan di Komplek makam Troloyo, tak kalah juga kaligrafi dan kutipan-kutipan dari Al-Qur’an dalam rupa relief batu disekitaran lokasi makam memberikan kesan kuat bahwa ajaran Islam dari para wali sebagai cara berdakwah telah masuk diantara lingkungan Majapahit. –Abdurrahman Azhim-

***