Kamis, 15 November 2012

Walking After You (Part 1) - Catatan Perjalanan Tiga Hari Tiga Ranu

Suhu di bawah nol derajat. Tiga danau yang bercerita, lebih dari cerita dingin dan keindahan. Perjalanan yang singkat dengan dana terbatas, berusaha menceritakan bagaimana tiga danau ini menginspirasi pendaki pemula. Abdurrahman Azhim menceritakan tiga Ranu (Danau) dalam tiga hari perjalanannya. Ranu Pani, Ranu Regulo dan Ranu Kumbolo yang tak henti-hentinya memikat turis, wartawan dan sutradara. Tetapi sebelum itu semua, saya ingin mengajak kalian semua ke tumpang. Bagaimana tumpang menyambut saya dan para pendaki lainnya, sebelum benar-benar membeku diketinggian lebih dari 2.100 mdpl.

***

Bukan prolog – Tumpang

Separuh bulan Nopember, Bertepatan dengan malam 1 Muharram 1434 H. Aroma khas tanah usai terguyur hujan, menyapa saya dalam perjalanan menuju pasar Tumpang. Ternyata saya tak sendiri, terlihat banyak pendaki berkalung headlamp, berjaket raincoat dan menggendong tas carir seperti kulkas. Mereka hampir memenuhi Toserba macam Indomaret dan Alfamart, membeli bekal sebelum berangkat ke Ranu Pani. Ini hari pertama perjalanan dan saya bersama ratusan pendaki acara Jambore Avtech yang menunggu truk berangkat.
Avtech salah satu produk outdoor nusantara, menyelenggarakan kegiatan aksi bersih, pendakian bersama dan Jambore pecinta alam di Gunung Semeru. Sedangkan saya, hanya pendaki pemula yang tak terdaftar di acara tersebut. Terdampar di Pasar Tumpang bersama ratusan pendaki di acara Jambore Nasional. Beruntung atau tidak, saya hanya ingin tiga hal dalam perjalanan ini: Tiga Ranu dalam tiga hari, bersyukur bertemu tiga pendaki yang bisa mengispirasi saya setelah pulang dari perjalanan ini. Ada apa dengan angka 3?, saya jawab dengan lagu: “Walking After You – Foo Fighters”, yang saya gunakan untuk judul perjalanan kali ini.
***
Take A Look Around – Tumpang, untuk moment saya bersama kawan-kawan pendaki dari berbagai wilayah se-Nusantara. Bertegur sapa, walau hanya bertatap muka sedetik. Berbagi kopi, dan berkelakar layaknya kelelawar malam. Ini yang membuat saya rindu, bagaimana cara kami menyatu.

Dari pasar Tumpang, para pendaki akan dibawa ke Resort Ranu Pani menggunakan truk dan Jeep. Pada kesempatan ini, saya menggunakan transportasi truk, bisa saya bayangkan transportasi ini dipergunakan untuk mengangkut hasil pertanian, dari desa Ranu Pani ke pasar Tumpang. Bawang, Kentang, dan Kubis yang merupakan hasil bumi masyarakat tengger. Truk ini salah satu transportasi yang paling diminati oleh para pendaki, selain harga yang masih bisa dinego, kendaraan yang sering disebut taksi ini dapat memuat penumpang lebih dari 18 orang.
Perjalanan saya ke Ranu Pani pukul 23:00 WIB. Udara malam disekitaran kaki gunung wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menyapa persendian dan membuat raincoat kami berembun, kami menggigil berjama’ah. Pohon-pohon pinus menjulang tinggi seolah berusaha menusuk langit malam. Ditambah lagi, laju truk yang kami tumpangi tak menunjukkan keinginan untuk kami duduk bersantai dan bersandar di dinding kayu truk. Truk melaju dengan gila malam ini. The Wild Ride, Bro!

Kami yang berada di bak terbuka berbahan kayu ini, terus bergoyang mengikuti kemana supir memilah jalan dan beradu pada tiap lubang jalanan sepanjang Tumpang – Ranu Pani. Perjalanan malam hari, tak dapat menyuguhkan pemandangan lebih, hanya tusukan udara yang nyaris membuat hidung saya berair. Tapi syukurlah sesampai desa Ngadas, taburan bintang yang seolah menyapa bertuliskan kalimat, “sugeng rawuh”. Para pendaki disambut disini. (Bersambung)
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar