Jumat, 09 November 2012

Kangen api, kangen Sapi


Memang sudah sebulan yang lalu, kita umat muslim merayakan Hari Raya Haji 1434 H. Hari Raya Haji memang identik dengan kurban, penyembelihan, dan berbagi daging. Untuk para muda seperti kami, kegiatan malam hari setelah penyembelihan kami lanjutkan dengan bakar-bakar daging.

Tahun ini kalender Masehi memberi banyak kita liburan panjang, salah satunya bulan Oktober kemarin, tanggal 26 sampai dengan tanggal 28, kami dihajar liburan beruntun. Dua puluh enam, hari Jumat tanggal merah (Hari Raya Haji). Tanggal 27 hari Sabtu otomatis kami ikut libur, dan tanggal 28 hari Minggu bonus libur lagi. Jet lag!

Kesempatan berkumpul dengan keluarga dan rekan-rekan dengan mengisi liburan juga sering kita dengar di media sosial dengan (Quality time). “Apapun kegiatan kita di akhir pekan semoga bermanfaat, dan membangun semangat untuk enam hari berikutnya”. - Abdurrahman Azhim A -

*** 


Saya sudah feeling kalau liburan yang panjang ini membuat jet lag. Bagaimana tidak, no plan and no game!. Tapi hal itu untuk sebagian muda-mudi yang kurang nekat, untuk kami penganut paham ‘kere hore’ itu semua sirna.

Pagi hari, saya menyibukkan diri dengan berjama’ah Shubuh sembari menunggu shalat Ied. Saya mampir ke warung kopi dekat masjid, baca koran dan nyruput kopi. Kegiatan sepele tapi menurut saya ini Quality time, hehe.

Setelah belepotan dengan darah sapi dan lendir kambing. Saya sesak nafas karena lemas. Bagaimana tidak?, dua ekor sapi yang akan kami jagal ternyata berontak layaknya pemain smack down. Alhasil sepuluh lebih, ‘pemuda harapan masjid’ berlarian mengejar si Sapi genit ini. Sayang, saya tak sempat merekam aksi liar ini.

Saking lemasnya, saya tertidur setelah shalat Ashar. Tiga kali telepon berdering, dan beberapa pesan singkat masuk. Tidak  sanggup mempengaruhi tidur saya, yang hampir menyerupai kebo. Hanya ketukan pintu dan ucap salam si-Ryan terdengar sayup-sayup menyapa dari luar teras rumah saya, praktis saya pun terbangun. Kebetulan kamar saya berada paling depan, semua aktifitas di teras dan suara pintu otomatis juga terdengar. Ternyata benar, Ryan di teras.

“Lapo?” (Ngapain?), tanyaku yang separuh sadar. “Ayo ngopi nang ngarep, man!” (ayo minum kopi di warung depan, man!), jawab Ryan. “sek-sek, tak raup” (bentar-bentar, saya cuci muka dulu), timpalku. Rekan saya yang satu ini spesial, kalau mau ngajak ngopi. Bagaimana tidak, dia selalu menjemput kerumah dengan jalan kaki, motornya sudah terparkir di depan warung.

Setibanya di warung kopi depan rumah, Alvin, Maleo, dan Babeh sudah njagong dengan kopinya masing-masing. “Lah tumben gak sarungan Man?” (Lah, Tumben tidak pakai sarung, Man?), tanya Babeh setengah guyon. “Ogah, lah mbok kiro aku pengajian terus!” (Tidak, apa kamu kira aku ikut pengajian terus!), jawabku sambil senyum.

Setengah sadar dan sedikit ngantuk, apalagi tinggal beberapa jam sudah magrib. “piye, engko bengi ono acara tah?” (bagaimana nanti malam ada acara apa?), tanyaku. “sek ono daging sisah, nang omahku bakar-bakar ae piye?” (dirumahu masih ada sisa daging, bagaimana kalau nanti dibakar?) saut Ryan. “Sip, Cak Man bacok’an!” (Sip!), kami sepakat. Hehe (ribet banget ya bacanya)

***



Malam di kompleks rumah Ryan memang membuktikan bahwa cuaca tidak sepenuhnya bisa ditebak. Prakiraan cuaca di salah satu stasiun televisi negara, menunjukkan awan sudah ‘memayungi’ separuh kota Surabaya dengan makanan khas Semanggi ini. Tapi apa boleh dikata, kalau bulan Oktober di minggu-minggu akhir banyak orang nduwe gawe (resepsi pernikahan). Siapa yang tak kenal pawang hujan dan pengusir awan di negara kita. Presenter cuaca dan Badan Meteo, di bikin geleng-geleng akibat kesaktiannya menggiring awan menyibak hujan. Inilah alasan kami untuk walk out dan buka baju saking gerahnya.

Kami berdelapan memang kangen Api, momen yang selalu menjadi tradisi saat kami pergi ke gunung dan membuka tenda untuk bermalam. Entah mengapa, seperti memiliki aroma magis saat berlama-lama memandangi api diantara sudut mata yang gelap. Api malam dan beberapa nyanyian tentang alam, Itu yang membuat kami sepakat untuk berpesta malam ini. Mungkin untuk memancing aroma api yang hangat, menjadikan kami bersemangat keesokannya. Kami ingin pergi ke gunung, bakar batu seperti yang dilakukan suku di pedalaman papua.

Bersyukur malam ini kami dipertemukan dengan perantara daging kurban. Ada beberapa yang dapat saya serap dari momen “kangen api, dan kangen sapi” ini. Dari sebuah kebersamaan, kami meleburkan permasalahan pribadi, membuat sebuah momen dimana “kere itu juga punya hak untuk hore”. Kami juga sepakat dengan beberapa parikan yang ugal-ugalan, yang penting “ojo sambatan!”. “Aki-aki makan duku di hutan”. Artinyeeee: Hey Laki, masih rindu mantan, ya jangan sambatan!.


“You grow up the day you have the first real laugh.. at Yourself”.
 

Mari kawan, saya ajak nengok kawan-kawan saya yang lagi khusuk ngipasin sate. Eits, jangan salah.. yang ngipasin sate orang Sunda, yang muterin atau mindahin sate orang Betawi. Semuanya dalam kerukunan, yang penting jangan jotos-jotosan! Dan satu lagi, gak boleh sambat!.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar