Senin, 01 Oktober 2012

Petrik Matanasi berdiskusi dengan kegondrongan

Paul McCartney


Nabi juga gondrong. Namun, kenapa rambut gondrong selalu dipermasalahkan dengan alasan tidak rapi. Padahal rambut tidak berdampak buruk pada kinerja dan kecerdasan.

Jika anda laki-laki, dan rambut anda panjang, anda layak disebut gondrong.  Kalau anda wanita, dan anda juga berambut panjang, apakah anda tidak aneh disebut gondrong? Setahu saya, wanita sah-sah saja punya rambut panjang. Harus saya akui wanita dengan rambut panjang, memang terlihat cantik.

Rambut tak pengaruhi otak. Bahkan rambut gondrong tidak pengaruhi isi kepala. Rambut gondrong juga belum tentu membuat seseorang malas dan tidak berkarya. Tak jarang orang gondrong adalah orang-orang kreatif.

Tradisi massif Kolonialis

Rambut telah menjadi ukuran kesopanan, keberadaban bahkan indikasi mental dan semangat juang. Itulah fenomena jaman modern. Semua diukur dari kerapian ala orang kantoran. Tak rapi macam orang kantoran tak layak. Dunia modern cuma suka lihat bungkus. Isi busuk tak apa, yang penting bungkus bagus. Tak heran kalau Indonesia jadi bangsa negara penipu yang menipu rakyatnya.

Termasuk dalam urusan rambut. Ini sudah gila. Saking paranoidnya, orang gondrong selalu disamakan seperti genderuwo atau semacamnya. Orang-orang Indonesia tidak mau belajar dari sejarah. Lihat saja di gereja-gereja, Yesus kan rambutnya gondrong. Bukan cepak macam kadet Akademi Militer. Juga tidak potongan pendek belah tengah macam Mao Ze Dong muda.

Orang Indonesia, tahunya kalau orang gondrong seperti genderuwo. Mereka pikir semua orang gondrong itu jahat. Coba pikirkan, jika Musso dan Aidit yang pemimpin PKI itu dianggap jahat, kita harus lihat rambut mereka tidak gondrong. Hampir semua koruptor bahkan tidak gondrong. Rambut mereka memang tidak gondrong, tapi mental mereka jelas genderuwo.

Orang Indonesia juga lupa kalau banyak pejuang gerilyawan Indonesia yang dulu bertempur melawan tentara Belanda jaman revolusi juga berambut gondrong. Tidak menghargai orang gondrong, berarti juga tidak menghargai perjuangan bangsa ini. Alias tidak nasionalis karena tidak menghargai para pejuang yang pernah gondrong.

Orde baru, meski sok liberal tulen, pernah antipati sama orang berambut gondrong. Entah kenapa? Setahu saya, banyak pejabat orde baru itu agamanya Islam dan juga Kristen. Kalau kita ke gereja, lihat saja banyak lukisan Yesus berambut gondrong. 

Muhammad, juga rasanya berambut gondrong. Tak ada tradisi cukur rambut teratur di masa lalu. Meski rambut mereka tidak jelas, mungkin juga gondrong, mereka bisa bikin jutaan orang tercerahkan. Itu luar biasa.

Saya kadang merasa kesal kalau ada orang Islam atau Kristen yang suka bilang, orang gondrong itu banci. Mengatakan orang gondrong itu banci, sebenarnya sama saja bilang Nabi-Nabi itu banci juga. Orang-orang Indonesia mulai massif rajin cukur rambut, itu karena dijajah Belanda. Jadi cukur rambut juga tradisi kolonial juga. Tapi, kaum nasionalis juga ikut-ikutan kaum penjajah juga, dengan rajin cukur rambut.

Setahu saya, Hatta juga rajin cukur rambut. Sebulan sekali, dengan waktu, tempat dan pencukur yang sama juga. Tapi, tak semua orang di Nusantara ini harus dan bisa seperti Hatta. Mereka juga punya hak untuk tidak seperti Hatta. Mereka punya hak untuk tidak perlu serapi Hatta. Mereka juga punya hak untuk gondrong.

Kami Gondrong Karena Kami Berkarya

Yesus, sebagai seorang nabi sudah beri pencerahan dan pembebasan bagi jutaan umat manusia di dunia. Seniman yang bisa membuat karya hebat juga berambut gondrong.  Lihat saja John Lennon, sebagai orang gondrong dia bisa mengajak dunia untuk hidup damai. Ketika orang-orang berambut rapi dan agamawan hanya sibuk dengan kepentingan kelompok mereka. Apa Lennon tidak bisa disebut mulia? Apa orang gondrong tidak boleh mulia?

Orang gondrong selalu jadi masalah di kampus. Banyak mahasiswa gondrong dilarang ikut mata kuliah seorang dosen. Ada mahasiswa gondrong yang dianggap aneh di hadapan Rektor. Jika Rektor itu bermental produktif, si Rektor tentu akan bertanya, mana karyamu? Kamu sudah lakukan apa saja dengan rambutmu? Tapi Rektor saya bertanya soal rambut saya bukan karya dan kegiatan saya.

Entah apa yang salah dari orang gondrong? Apa itu mengganggu nafkah orang lain? Apa gondrong itu mempengaruhi hidup mati orang lain? Jelas bahwa orang modern dijebak denga kata rapi. Begitulah Indonesia. Rapi adalah simbol peradaban. Bukan karya nyata. Layak saja Indonesia jadi bangsa penipu yang suka menipu sesamanya. Kerapian hanya memaksa orang terlihat bagus namun tidak pernah berpikir memiliki kualitas diri dan jadi orang berkarakter.

Banyak orang gondrong juga punya kontribusi. Mereka tidak melulu pikirkan uang dan perut mereka. Mereka pikirkan juga bagaimana orang lain bisa makan. Orang gondrong juga berkarya. Lihat saja di Jogja, banyak orang gondrong punya karya. Banyak orang gondrong  juga peduli pada sesamanya, termasuk yang tidak gondrong.

Dengan ini saya menuntut kepada semua element, hargailah orang gondrong. Biarkan mereka gondrong agar bisa berkarya dan berkegiatan dengan nyaman. Berikanlah kebebasan untuk berambut gondrong. Tidak hanya pada seniman, tapi juga kepada guru, dosen, pegawai dan lainnya agar kejujuran bisa ditegakan. Jujur berpenampilan harapannya akan membuat orang jujur dalam banyak hal. Biarkan kami gondrong, biarkan kami berkarya dan berkegiatan dengan rambut kami.



ps: semoga Bunda tidak membaca blogku ini. Rambutku msih terlalu pendek untuk terpangkas lagi.