Rabu, 31 Oktober 2012

Seandainya Kami tidak keluyuran (part Wonosalam)

Wonosalam - Jombang
“Sebuah pohon sebesar Anda bermula dari sebuah biji yang kecil; perjalanan sejauh seribu mil berawal dari sebuah langkah kecil”. (Lao Tse)
Saat matahari sedang malu-malu di pertengahan Oktober, kesempatan yang baik untuk kami pergi keluyuran. Saya dan kakak sepupu saya. “Namanya Rosy, Pria berperawakan sedang, dengan brewok dan kumis yang menghiasi wajahnya”, begitu saya mendiskripsikannya. Saat itu hari minggu di pertengahan bulan Oktober, saya pergi ke Pare untuk meninjau beberapa kolam lele dan dan sawah yang akan saya jadikan lahan percontohan usaha pemakaian pupuk organik dari cv. Bioasa. Tak lama kami di Pare, hanya beberapa jam sebelum adzan dhuhur berkumandang, tinjauan kami ke kolam lele dan sawah kelar juga.

Jika saat itu kami memutuskan untuk langsung pulang menuju Mojokerto dan mengakhiri minggu sore hanya di rumah, kok cek emane uripku. Apalagi saya dan kakak sepupu saya, jarang sekali liburan akhir pekan bersama. Mengingat dia sudah tidak bujang lagi, dua wanita cantik selalu menunggunya di rumah. Meski ini bukan liburan akhir pekan, tapi itung-itung keluyuran colongan lah. Tapi mau kemanakah kami setelah ini?
_________________________________________________________________


Kami memutuskan untuk bermotor-ria dari arah Pare menuju ke arah timur Jombang, random mengikuti arah angin. “Dari sebuah ketersesatan, ada perjalanan yang tak kita duga serunya”. Kami sepakat siang itu, tak masalah. Sepertinya si-Matahari juga sedang malu-malu. “heh, dek kopi daerah endi sing jaremu manteb?” (heh, dik Kopi daerah mana yang katamu enak?), tanya masku. “nek cidak kene yo Wonosalam, mas” (kalau yang dekat sini ya Wonosalam, mas), jawabku setengah yakin. “yowes nek kunu ae” (yasudah di situ saja), timpal masku meyakinkan tujuan kami. 


Kami mengendarai Kawasaki Edge. Sebenarnya di perjalanan ini, kami menunggangi Honda CB seri 100n, tapi si doi lagi bongkar mesin di Surabaya. Perjalanan ngeluyur kami masih random, tidak ada peta dan tidak ada alat bantu navigasi. Hanya berbekal nekat. Sudah lebih dari 45 menit kami mengendarai si-Ed, dan akhirnya kami menemukan papan penunjuk yang mengarahkan kami ke Wonosalam. Terlihat bukit dan beberapa pegunungan menyambut kami, sepertinya itu pegunungan yang masih masuk kompleks Gunung Watujuwadah, Gunung Argowayang, dan Gunung Kojor. Mungkin yang lebih sering terdengar adalah Gunung Welirang, Gunung Anjasmoro, dan Gunung Arjuno yang merupakan barisan pegunungan Api di daerah Jombang, Kota batu, dan Pacet Mojokerto.

Sepertinya mendung sudah mulai merapatkan barisan, seolah-olah menyambut kami datang. Terlihat beberapa tumpukan kayu saat kami melewati permukiman penduduk, mungkin untuk kayu bakar masyarakat sini. Mulai mereka kemasi, tak mau sia-sia seharian mereka jemur, hanya karena terlambat berkemas saat langit sudah mengirim signal hujan dengan mendungnya terlebih dulu. Memang berbeda saat di Surabaya matahari sangat terik-teriknya, berbeda dengan daerah lainnya di Jawa Timur. Seperti di Wonosalam sekarang, sudah gerimis. “Mas, mandek sek ta? Gawe jas udan.” (Mas, berhenti dulu? Pakai mantel), tanyaku. “sek-sek durung teles! Dek”, (nanti dulu dik, belum deras), jawab masku. Memang hujan sudah mulai menyambut kami, tapi hanya sebagian perjalanan. Tiba-tiba sudah berhenti, turunnya hujan memang tak merata, terlihat tutupan awan hitam hanya di sebagian tempat. 

Terlihat muda-mudi dari arah berlawanan, tak sedikit beberapa mobil keluarga juga sering mengagetkan laju perjalanan kami saat mulai belokan yang menanjak. Sepertinya dekat dengan lokasi wisata. Tapi bukan itu tujuan kami dari awal, kami penasaran bagaimana kopi Wonosalam yang santer di masyarakat bisa membuat barista ternama gulung tikar karena mencicipi kopi yang hanya di tukar dengan uang receh 500 perak. Kami masih setia meliuk-liukkan si-Edge di jalanan menanjak dan sembari menikmati aroma pedesaan dengan bau tanah yang tersiram air hujan barusan. Seger!

papan peringatan - koservasi
Jalanan di desa ini sudah beraspal, jika saya tak salah menyebutkan. Hampir 99 persen jalanan yang kami tempuh sudah beraspal dan sangat sedikit sekali jalanan yang berlubang. Kiri-kanan jalan terlihat beberapa papan iklan seperti pijat, foto manten, sampai papan konservasi dari BKSDA. Jalanan yang kami lalui cenderung menampilkan hutan musim, yang bercampur dengan tanaman kebun dari masyarakat seperti kakau, kopi, jagung, dan pohon jati. Beberapa bangunan rumah juga sudah menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat sudah berbenah dan modern.

“Dek, mandek sek gegerku kesel” (dik, berhenti dulu punggungku capek), kata masku sambil mengurangi tekanan gas motornya. Kami berhenti di toko, jika kami mendiskripsikannya seperti pada toko-toko di pedesaan pada umumnya. Tapi disini terlihat beberapa kebutuhan tersedia, seperti paku dan beberapa kawat besi juga terlihat disamping kotakan beras dan bawang. Terlihat juga ada menyan yang tersampul dengan plastik dengan merek 55. Tapi mata kami tertuju pada lemari pendingin yang terletak di sudut kiri toko. Letaknya yang mudah dilihat, berada di jalan masuk pembeli dan diantara etalase kebutuhan pokok. Kami mencari kopi, otak kami sependapat akan itu. Tapi kerongkongan kami mengatakan minuman dingin dulu lah

Saya langsung menghampiri lemari pendingin itu, mengambil pocary dan mizone. saya langsung duduk di bangku kayu, yang berada di pinggiran teras toko tersebut. Tanpa pikir panjang, saya langsung membuka segelan plastik minuman dingin tersebut. Setelah dua tegukan panjang, saya mengeluarkan lipatan uang dari saku kemeja untuk membayar. “saking pundi mas?” (darimana mas?), tanya penjual kepada saya. “saking Suroboyo Pak, mlampah-mlampah” (dari Surabaya, jalan-jalan pak), jawabku dengan wajah kucel karena haus. Dari sapaan bapak penjual di toko tersebut kami mengobrol panjang lebar, dan kami mengerti bagaimana kehidupan masyarakat Wonosalam dan bagaimana Wonosalam dengan kopi, dan hasil pertaniannya.

***

Pak Hary
Adalah Pak Hary, pria ramah berusia sekitar 50 tahun yang senang ngobrol ini, yang banyak bercerita tentang lingkungan Wonosalam dan sesekali menyisipkan cerita bagaimana beliau membesarkan anak-anaknya sampai menjadi Profesor pertanian. Beliau adalah pemilik warung atau toko serba-ada yang menjadi tempat saya dan kakak saya Rosy beristirahat di Wonosalam sore itu. Deretan jajanan dan beberapa bilik-bilik kayu penyekat untuk tempat beras, kopi, dan jagung di bagian depan mempertegas bahwa toko ini menjadi salah satu mata pencahariannya di Wonosalam. Tempatnya memang sederhana, tetapi jika kita mencoba berjalan di sekitaran samping rumahnya, kita akan tahu bagaimana pria dengan tiga orang anak yang sudah berkeluarga dan mapan ini, mengisi hari-harinya dengan bercocok tanam. Terlihat pohon kakau, dan pinus sebagai sumber industri karet, terlihat di perkebunan Pak Hary.

 “Panggil saya Pak Hary saja mas, orang-orang sini akrabnya sama nama itu”, jelas Pak Hary. Sebetulnya ada 2 rumah yang Pak Hary punya, tapi untuk kebutuhan petani, praktis rumah yang satu beliau hibahkan untuk koperasi dan kebutuhan petani disini. Berdasarkan keterangan Pak Hary, permasalahan petani yang masih belum terpecahkan di Wonosalam adalah tentang cengkeh. Hal itu karena cengkeh terserang virus, dan petani sepertinya sudah putus asa, ditambah lagi petani terselimurkan dengan adanya WTC (Wonosalam Training Center) yang semakin ramai. Hal itu karena WTC sengaja dijadikan kawasan wisata oleh pemerintah setempat. Bertambahnya area wisata membuat kegiatan pertanian mulai terancam kefokusannya. “di sini tanah sudah semakin mahal mas, untuk tani sekarang sudah mulai menyempit,” keluh Pak Hary.
  
Saya lihat jam tangan sudah pukul 15.00, tetapi di luar hujan semakin deras. Pak Hary mengajak kami masuk ke dalam tokonya, menunjukkan hasil pertanian seperti kopi, dan kakau. “saya kalau sehari gak kena ini mas, badan bisa pegal-pegal.” Sambil menunjukkan kopi yang beliau ambil dari karung goni. “saya minta ijin foto ya Pak?, ucap saya meminta. “Monggo-monggo mas”, saut beliau mengiyakan. “saya bikin kan kopi ya mas?” tawar Pak Hary. “hmm”, kami senyum-senyum sungkan.
  
Saya duduk berseberangan dengan bangku kayu yang diduduki Rosy dan Pak Hary, mendengarkan dan mencermati obrolan mereka berdua membahas bagaimana permasalahan petani yang semakin hari semakin tak terjawab. “padahal kalau dulu saya nyangkul, lalu cuma nancepin ubi-ubian itu mas. Sekarang gak bisa disamain dengan dulu”, keluh Pak Hary. “Anak-anak sekarang pada pengen jadi Dokter, gak ada yang mau urusi ladang”. Kalau saya tanya, “mau gak jadi Insinyur pertanian? Malah diplengosi sama anak-anak sekarang,” terang Pak Hary sambil tertawa kepada kami.

kakau

News and Fact!

Dengan luasan 40.000 kilometer area keliling khatulistiwa berada di Indonesia, negeri ini mempunyai lahan pertanian tropis terluas di dunia. Indonesia juga menjadi negara kepulauan terluas di dunia dengan 5,8 juta kilometer persegi atau 75 persen wilayahnya merupakan perairan laut.

Sampai saat ini sekitar 49 persen dari angkatan kerja Indonesia bekerja di sektor pertanian. Ironisnya, sekitar 60 persen dari masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan adalah petani.

Selain potensi produksi dengan luasnya kawasan produktif, Indonesia sekaligus merupakan pasar amat besar bagi produk pangan. Populasi penduduk saat ini mencapai 220 juta jiwa dan diperkirakan dapat berlipat hingga 400 juta jiwa pada tahun 2035.

Untuk memenuhi kebutuhan pangan, Indonesia saat ini menjadi importir beras, kedelai, susu, garam, buah-buahan, dan beragam produk pertanian lainnya.


Kami meminum kopi bikinan Pak Hary, dari hasil bumi Wonosalam. Sore dan guyuran hujan di pertengahan Oktober. Rasanya tak ingin kembali ke Surabaya. Saya mengerti ternyata tersesat itu tak selamanya meyeramkan, dan kami sependapat bahwa tak selamanya kopi premium di kedai mahal itu enak. “Mulailah melihat dari yang kecil. Memang benar rupanya, “ibarat sponge yang kering yang menyerap sari pati sekitar”, kata Ayos di setiap petualangannya.

Jumat, 19 Oktober 2012

Hajjah Sabariyah - Nenek Guru Anak Papua



Setelah suaminya meninggal dan anak-anaknya besar, istri tentara ini menjalani kembara sosialnya. -Soelastri IS-


Kepuasan dalam hidup itu bermacam-macam. Ada orang memilih bekerja keras guna memperoleh kesejahteraan diri yang lebih baik, tetapi tak kurang pula orang memilih pekerjaan tak berduit demi mendapatkan kepuasan batin. Cara terakhir itu dipilih Hajjah Sabariyah, nenek nan lincah dan perkasa berusia 82 tahun yang mengisi hidupnya di pedalaman Kabupaten Jaya Wijaya (Irian Jaya) untuk mengajar anak-anak Papua. Tahun ini, 13 tahun si nenek guru—begitu anak pedalaman Irian Jaya memanggil—mengabdi di situ.

Sedemikian jauh, Nenek Guru Sabariyah tak juga merencanakan hendak pensiun dari ‘tugas’-nya. “Semasa saya masih kuat berjalan, saya akan tetap mengajar di sana,” katanya saat ditemui Kompas diruang tamu Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin, Senin, 4 Desember 2000, sore. Karena tak mendapat gaji dari siapa pun, si nenek menggantungkan hidupnya dari kebaikan alam dan manusia di mana ia berada. Untuk hidup sehari-hari, perempuan kelahiran Pangkalan Brandan—Sumatera Utara itu nyaris tak bermasalah.

Sejak meminta pensiun dari profesi guru pegawai negeri sipil sebuah SMP di Sumatera Utara tahun 1968, Sabariyah tak lagi makan nasi. Ia hanya makan ubi direbus, beberapa jenis sayur seperti dahun pohon pepaya, singkong dan buah-buahan. “Badan saya malah makin sehat. Saya tidak pernah sakit berat. Paling hanya flu, tetapi kalau saya minum rebusan daun pepaya sembuh lagi,” tuturnya, masih dengan suara sangat jelas.

*** 

Periuk
Akan tetapi Sabariyah yang dikenal sebagai guru bahasa Indonesia tak hanya memikirkan dirinya sendiri. Sekalipun jasmaninya nyaris tak membutuhkan apapun, ia masih memikirkan kebutuhan buku, pakaian dan peralatan lain untuk anak-anak di pedalaman Papua yang ia ajar beserta orangtua mereka yang kehidupannya masih sangat terbelakang. Untuk keperluan itu ia tak segan datang ke sana-sini meminta sumbangan buku pelajaran atau buku cerita baik dalam bahasa Indonesia, Inggris maupun Jepang. Salah satu pejabat yang sering ia datangi adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sejak Fuad Hassan sampai Yahya Muhaimin.

Sengaja ia tak meminta bantuan dalam bentuk uang, untuk menghindarkan diri dari prasangka banyak orang, tetapi tak semua dermawan memberi buku. Agar lebih praktis, banyak yang menyumbang dalam bentuk uang, meski ada juga seorang bupati di Seragen Jateng (mantan murid Sabariyah semasa mengajar di Sumut) memberi 20 periuk dari kuningan. “Semua sumbangan saya terima. Periuk itu saya bawa ke Irian dan sudah saya bagikan kepada kepala suku di sana, “Kata perempuan yang bisa berbahasa Belanda, Jepang, Jerman dan Inggris ini.

Kini, beberapa kelompok masyarakat di daerah Wolesi, Kimbin, Tiom (semua di kawasan pegunungan Jaya Wijaya) sudah menggunakan periuk untuk memasak ubi jalar yang menjadikan makanan pokok mereka sehari-hari. “Saya ajarkan supaya mereka tak lagi makan ubi jalar tetapi direbus dengan periuk itu, “lanjutnya. Nenek Sabariyah memang bukan sekadar guru baca-tulis, berhitung tetapi juga segala hal yang berkait dengan kehidupan manusia, umpamanya bagaimana cara menjaga kebersihan, cara berpakaian atau saling menghormati sesama umat Tuhan.

Untuk keperluan mencari sumbangan, sang nenek bisa dua kali dalam setahun ‘turun gunung’ ke Jakarta atau kota lain. Jatah rutin keluar dari pedalaman Irian ke Medan dilakukan setiap bulan Maret untuk mengambil uang pensiun dirinya dan suaminya, almarhum Kapten Sukiman. Menurut Sabariyah, uang pensiun yang ia terima mencapai Rp 13 juta setahun. “Semua saya belikan barang kebutuhan untuk anak-anak di Aceh dan Irian,” katanya menerangkan.

Kesempatan lain, saat ada undangan semacam munas MUI pertengahan tahun 1999 atau menjelang Lebaran. “Selalu ada pesan saya diminta datang ke seorang staf Departemen Agama misalnya untuk mengambil uang sumbangan,’ katanya.

Memang, tak terbayang bagaimana nenek berusia lanjut itu membawa barang semacam buku pelajaran/cerita, baju baru maupun bekas bahkan alat memasak dari Jakarta atau kota lain ke pedalaman Irian Jaya. “Tak ada yang susah. Ke mana saya pergi selalu dibantu orang lain. Ada malaikat yang selalu menyertai saya,” katanya terkekeh-kekeh. Ke mana pun ia pergi, nenek Sabariyah memang tak perlu mengeluarkan ongkos. Untuk keluar dari Wamena menuju bandara Sentani di Jayapura, ia hanya butuh tumpangan kapal TNI AL. Di Sentani ia langsung melapor ke pimpinan TNI AU untuk bisa ikut ke Jakarta. Dan selama di Jakarta ada dermawan memberikan tumpangan.

Untuk pergi dari tempat satu ke tempat yang lain, kalau saja ia mau naik taksi Kosti atau Citra, sopirnya pasti tak akan mau dibayar karena sudah mendapat pemberitahuan dari pimpinan mereka. Tetapi Sabariyah memilih naik bus umum bumel kecuali harus membawa banyak barang.

Hubungan baik Sabariyah dengan para pejabat membuat ia mendapat bekal ‘surat sakti’ dari Menteri Perhubungan mulai Rusmin Nuryadin sampai Haryanto Danutirto. Kalau ia hendak naik bus ke Surabaya (untuk dilanjutkan naik kapal TNI AL menuju Wamena) dengan membawa barang sumbangan atau ke Medan untuk mengambil uang pensiun, ia cukup menunjukkan surat tersebut ke kepala terminal yang lantas akan mencarikan bus untuk membawa ke tempat tujuan dengan gratis. “Saya juga tidak perlu repot angkat barang. Banyak polisi bantu saya mengangkat barang sumbangan itu,” katanya.

***
Pensiun Dini
Perjalanan hidup nenek bertinggi sekitar 148 sentimeter dengan tubuh langsing ini sungguh unik. Sejak berusia 13 tahun ia sudah menjadi pandu dan menyatakan keinginannya untuk berkeliling Nusantara. Keinginan itu tak pernah pupus kendati ia pernah di Normaal School Amsterdam selama tujuh tahun, menikah dengan seorang tentara dan kemudian menjadi guru SMP yang sering pindah tugas karena mengikuti suami. Ketika suaminya gugur, empat anaknya juga mulai menginjak dewasa dan menempuh pendidikan di Jerman dan Jepang (berkat beasiswa dari perusahaan minyak cikal bakal Pertamina), Sabariyah nekat minta pensiun dini.

Mulailah ia bertualang keliling Indonesia selama 17 tahun. Satu persatu daerah ia kunjungi dan pelajari masyarakatnya. Tak heran kalau kini ia menguasai 22 bahasa daerah Nusantara, sebab ia bisa tinggal sampai beberapa bulan di daerah yang dikunjungi. Tempat yang paling membuat ia jatuh hati adalah tanah Irian. Setelah tinggal untuk  mengajar selama tiga bulan di daerah Wamena (tahun 1982), Sabariyah menegaskan niatnya suatu ketika, ia akan mengajar di situ, manjadi guru sukarela tanpa diminta dan dibayar siapa pun.

Ditanya mengapa ia memilih Irian Jaya sebagai tempatnya mengabdikan diri, Sabariyah beralasan bahwa irian adalah wilayah yang sangat tertinggal dan terbelakang dibandingkan wilayah lain di Nusantara. Anak-anak Irian butuh bantuan untuk belajar. Keinginan untuk sekolah sungguh besar, sayang sarananya tak ada. Lebih dari itu, Sabariyah juga melihat bahwa pejabat setempat kurang mampu mengalokasikan dana untuk kepentingan masyarakat setempat. Akibatnya, rakyat Irian belum menikmati hasil pembangunan yang sesungguhnya.

Tahun 1987, pulang dari berhaji, Sabariyah berangkat ke Irian dan langsung menuju Wamena. Hingga kini ia tak mempunyai tempat tinggal tetap, sebab setiap dua bulan sekali ia berpindah tempat untuk mengunjungi anak-anak Irian lainnya. Perjalanan dari satu tempat ke tempat mengajar lainnya ditempuh dengan naik perahu yang ia dayung sendiri selama semalam atau berjalan kaki selama tiga hari (dari Wamena ke Tiom).

Di tengah hiruk pikuk keinginan sebagian rakyat Irian untuk merdeka, Sabariyah tak gentar meneruskan langkah. “Saya merasa sudah kerasan di sana, apalagi anak-anak Irian dan orangtuanya pun sayang kepada saya.” Katanya. Kecintaannya pada wilayah paling timur Indonesia ini membuat ia rela mati dan dikuburkan di sana.
_____________________________________________________________________________

Refrensi

Kompas-Kiprah Para Jawara
Kiprah Para Jawara. Bagaimana menjadi pemenang dan nomor satu? Ternyata susah gampang. Terkesan susah jika hanya dipandang. namun, jika dilaksanakan dengan tekun dan gigih, ternyata mudah.
Ada kisah Suromo, seni grafislah yang membuatnya terbang melanglang buana, menikmati masa kejayaan.
Simak penuturan Sukanta Tanudjaja, pendiri raksasa garmen PT Great River International, "Modal utama bisnis adalah kepercayaan. Itu yang saya genggam erat-erat." Juga tidak kenal menyerah meskipun tokonya kerap dirampok.
"Beradaptasilah dengan arus," pesan Wayan Suwenda yang sejak kecil akrab dengan ombak gelombang, yang akhirnya membawa kesuksesan di bisnis surf shop.
Juga jangan lupa, rasa percaya diri harus tinggi. Ny. Darmastuti Sasongko, perias pengantin berpengalaman 50 tahun lebih berkata, "Berpuasalah. Selain menambah rasa percaya diri, jiwa lebih bersih dan tenang."

Senin, 08 Oktober 2012

Pensiunan Imigrasi itu kini makin menua



Waktu itu di sore hari yang hampir magrib. Sosok lelaki tertidur di ruang tengah, yang sering dipergunakan untuk menonton televisi cucu dan anak-anaknya. Pemandangan berbeda waktu itu, cucu-cucu yang biasanya ramai bermain dan berlarian diteras sampai masuk di beberapa kamar sudah sangat jarang di beberapa tahun terakhir. Begitupun anak-anak dari kakek tua itu, bisa dipastikan sudah sangat sibuk dengan keluarga dan pekerjaan, yang jarang memperhatikan waktu makan dan tidur mereka.

Bulan Oktober saat musim kemarau tak kunjung usai dengan matahari yang terik, meski sore masih menyisakan sebagian kegerahan, yang terdengar dari kakek tua yang sedang mencari kipas bambu berbentuk hati, bermotifkan anyaman warna merah dan kuning. Segera ia gerakkan tangan yang hampir tinggal nadi dan kulit keriput yang menjadi penutup tangannya.

Menunggu adzan magrib, dengan menonton acara televisi swasta dengan ceramah keagamaan adalah sebuah rutinitas yang tak pernah absen dilakukan kakek tua itu. Begitupun saat adzan magrib mulai berkumandangan dengan lantang, seakan-akan muadzin menjadi saksi pergantian sore ke petang seolah-olah mempersilahkan matahari untuk turun dan bersembunyi. Seiring langkah kakek tua itu bereaksi dengan maksud bergegas ke pancuran wudhu, dan kemudian mendatangi surau untuk mengimami shalat magrib berjamaah.

Namun, kakek tua itu sekarang sedang bermasalah dengan sebagian persendian tulang kaki dan beberapa keluhan nyeri di punggung dan kakinya. namun sepertinya tak membuat kesigapan dan keistiqomahan untuk bersujud tiap lima waktu, dan menjadi jamaah paling aktif untuk pengajian sehabis isya’ hari jum’at. Sungguh ironis dengan muda-mudi sepertiku yang masih memiliki 100% tenaga di usia subur tidak dapat memaksimalkannya.

Kakek tua itu memiliki tiga orang anak. Satu diantara tiga anaknya adalah pria. Menurut cerita, kakek tua itu pernah memiliki dua orang istri sebelum akhirnya menetapkan bersama istri ketiga di sore hari dengan nyeri di sebagian persendiannya saat ini. Dengan istri pertamanya dulu pernah diceritakan sang kakek di jodohkan oleh Bapak dan Ibu dari sang kakek, dan tidak mempunyai keturunan. Dan kabar selanjutnya, menikah lagi dengan istri kedua, di karuniai satu anak perempuan, dan memutuskan untuk berpisah. Memilih istri ketiga, yang di karuniai dua orang anak laki dan perempuan. Meskipun secara awam sang kakek demikian, secara pengamatan saya jika hari raya Idul Fitri, semua berkumpul dan bergembira. Dan yang dapat saya lihat disitu semua merasa terakui dan saling menyayangi.

Menurut perawi dari beberapa orang yang dekat dengan beliau. Sang kakek dulu adalah petani. Sempat bersekolah di sekolah rakyat jaman kolonial yang sekarang mungkin setara dengan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Dahulu juga diceritakan sekolah adalah larangan dan kekawatiran yang mendalam bagi kaum petani saat itu. Sepertinya sang kakek mempunyai tekat keras untuk sekolah pada saat itu. Setelah merampungkan sekolah rakyat, sang kakek waktu muda yang sebagian besar masa mudanya, ia habiskan dengan bertani dan berternak, mengaji di surau-surau kaki gunung. Dapat dipastikan sekarang sang kakek tak pernah meninggalkan lima waktu. Sekitar umur belasan tahun waktu mudanya, ia mulai putuskan untuk pergi kekota. Akses yang tak mudah jika dibandingkan dengan sekarang. Transportasi dari desa ke kota bisa dilakukan dengan berjalan dan menumpang angkutan bambu, dengan mesin penggerak, yaitu sapi atau kerbau yang sering petani pakai untuk membajak ladang mereka.

Mencoba peruntungan dikota. pada jaman sang kakek, mungkin dibilang masih gampang. Pada saat itu kota sangat membutuhkan tenaga kerja, mulai penjahit sepatu, sampai pegawai kantoran, meski bertugas sebagai pelipat kertas surat, dan penata dokumen pegawai kantor. Sang kakek dulu juga di kabarkan bekerja demikian. Terakhir sang kakek diangkat sebagai pegawai negeri di kantor imigrasi, dan sangat beruntung sang kakek tersebut dari sebuah keuletan dan kesabarannya tersebut sang kakek tiap tahun menemani rekan kerjanya bertugas ke tanah suci, sembari haji dan umrah.

Dari hasil kerja kerasnya, sang kakek sekarang dapat menikmatinya. Dari dana tabungan pensiunan. Sang kakek nampaknya senang dengan apa ia dapati sekarang.

Berbeda jaman, berbeda pula warna rambut. Berbeda pula pengharapan sang kakek sekarang. Sekarang sang kakek sudah tidak setegap dan sekuat dulu. Sang kakek pernah bercerita, jika 80 kilogram padi adalah makanan tiap 6 jam per-harinya untuk iya pikul dengan jarak 10 kilometer. Untuk mengisi lumbung-lumbung padi milik Ibunya. Memang terlihat dari bahu yang mengeras saat saya pijat sore itu. Saya merasakan bagaimana seluruh tubuhnya bercerita banyak kisah, tanpa ia ceritakan dari bibir yang sudah mulai mengering dan minipis itu. Sangat keriput. Tapi saya masih merasakan bagaimana otot yang kuat yang masih membekaskan sejarah bagaimana anak-anak dan istrinya ia perjuangkan sampai sekarang.

Beliau adalah kakek saya dari Ayah saya. Yang sekarang sedang saya pijat sambil menunggu adzan Isya’ berkumandang. (bersambung).

Kakek dan Adik Ketiga Saya.

Jumat, 05 Oktober 2012

Tiga Jam Memorabilia bersama Andy Tielman and The Tielman Brother - Heerlijk Resto Darmo

 Mungkin namanya kalah populer dibandingkan The Beatles dan The Rolling Stones. Tapi jauh sebelum mereka, muda-mudi tahun 50-an masih mengingatnya. Mereka adalah salah satu perintis rock and roll di Belanda dan masih punya tempat tersendiri di hati penggemar lagu “Shake Baby Shake” ini. Band yag berasal dari Indonesia yang berhasil masuk internasional pada tahun 50-an. Siapa sangka dari gaya mereka bermain musik, menjadi inspirasi banyak Band muda setelahnya. Inilah “The Tielman Brother’s”. Mengingatnya hanya dengan tiga jam saja. –Abdurrahman Azhim Ali.
____________________________________________________________________________


Andaikan Agung Martani pecinta Mods Jumat malam tidak nge-tweet acara jalan-jalan sama “franklin the vespa”, saya masih dikamar dengan kopi dan beberapa majalah dari kampung ilmu tadi sore. Apalagi ‘orang tua gaul’ satu ini ngompor-ngomporin bakal datang ke acara memorabilia The Tielman Brother’s di resto Heerlijk Darmo Surabaya, dari beberapa sms setelah dia bikin info ini:


Resto Heerlijk Darmo

Setelah penasaran dengan gaya evolusi si ‘Franklin the Vespa’ si Agung martani. Kami putuskan untuk meluncur dan menyelinap ditengah kemacetan jalan protokol Surabaya. Kira-kira dua puluh menit dari rumah Agung dan akhirnya kami tiba di resto Heerlijk Darmo. Suasana saat itu seperti pada umumnya resto-resto kota metropolitan. Pengunjung yang mayoritas Muda-mudi. Beberapa pramusaji terlihat sibuk melayani dan tersenyum saat ada pengunjung yang datang. Resto ini memang menarik perhatian saya, selain lokasinya yang masih jadi satu dengan Rumah Sakit Darmo (bersebelahan dengan IGD), resto ini memberikan kesan tenang di pinggiran jalan protokol di malam weekend

Kami sengaja tidak memesan minum dan makanan. Kami masih mengatur nafas seperti Vespa keluaran tahun 1981 milik agung, yang dipaksa ngebut malam ini. Selain itu kami menunggu kedua teman kami yang belum datang, Ryan dan pak Gerson. Beberapa menit setelah teraturnya irama jantung kami ‘Ipung’ yang menjadi promotor acara ini menghampiri kami. Pria yang memiliki postur yang cukup subur ini, menyambut kami seolah-olah kami adalah teman lama. Menyenangkan, kami juga diperkenalkan dengan pembuat film dokumenter ‘The Tielman Brother’, yaitu mas Ekky Imanjaya yang juga penulis buku ‘Menjegal Film Indonesia’ bersama Eric Sasono.

Pemutaran Film dokumenter ‘The Tielman Brother’ dan cerita singkat dari Ekky

Beberapa ulasan singkat dari dari Ekky tentang pembuatan film yang digarap sebelum Andy Tielman meninggal, dan tak sempat berkunjung ke Surabaya lagi. The Tielman Brothers adalah band Belanda-Indonesia pertama yang berhasil masuk internasional pada tahun 1950-an. Mereka adalah salah satu perintis rock and roll di Belanda. Band ini cukup terkenal di Eropa, jauh sebelum The Beatles dan The Rolling Stones. Mereka adalah kakak beradik dari pasangan Herman Tielman dan Flora Lorine Hess.

The Tielman Brothers dipercaya lebih dulu memperkenalkan musik beraliran rock sebelum The Beatles. Aksi panggung mereka dikenal selalu atraktif dan menghibur. Mereka tampil sambil melompat-lompat, berguling-guling, serta menampilkan permainan gitar, bass, dan drum yang menawan. Andy Tielman, sang frontman, bahkan dipercaya telah mempopulerkan atraksi bermain gitar dengan gigi, di belakang kepala atau di belakang badan jauh sebelum Jimi Hendrix, Jimmy Page atau Ritchie Blackmore.

Saat The Beatles manggung di Jerman, grup band asal Inggris ini sempat melihat penampilan The Tielman Brothers yang manggung menggunakan Hofner Violin Bass. Dan saat itulah pertama kalinya Paul McCartney melihat Hofner Violin Bass. Dan Andy Tielman sang gitaris memakai Fender Jazz Master khusus 10 strings. Alhasil Fender sengaja mengirim representativenya ke Jerman saat itu untuk merancang gitar buat Andy Tielman.



Pada awal tahun 1960-an, mereka menciptakan 4 lagu ciptaan mereka sendiri, yaitu My Maria, You’re Still The One, Black Eyes, dan Rock Little Baby. Lagu-lagu mereka ini ternyata disukai oleh orang-orang Belanda. Bahkan mereka menyebut musik “The Tielman Brothers” sebagai musik beraliran Indorock.

Dedikasi dan Inovasi Andy, sang gitaris, ternyata sangat berpengaruh bagi perkembangan budaya pop Belanda. Sampai-sampai mendapatkan gelar The Godfather of Dutch Rock n Roll, The Uncrowned King of Indorock, dan penghargaan Order of the Orange-Nassau ke pangkuanya.

Beberapa scenes yanng buat saya takjub adalah saat Andy Tielman fasih berbicara bahasa Indonesia dan Jawa (ngoko) kepada Ekky. Selain itu, Andy Tielman juga sangat syahdu melantunkan lagu ‘Bengawan Solo’. Terlihat juga tiga wanita Belanda yang menjadi backing vocal Andy Tielman, juga sangat menghayati lagu tersebut. Kemudian bisa dibayangkan ditengah-tengah konser musik rock and roll internasional, tiba-tiba Andy Tielman mempersilahkan penari untuk menari tarian jawa, dan sontak musik berubah menjadi keroncong. Ini memang tidak umum untuk dilakukan!


 Andy Tielman mungkin tak sempat datang lagi ke Surabaya. Horor gaya dia bermain musik yang diusungnya bersama Tielman Brother melalui dokumenter dari Ekky Imanjaya menghantui malam saya sesaat sebelum saya merapat ke peraduan pulau kapuk. Tapi, alangkah terkejutnya saya bagaimana nasionalisme Andy terhadap Indonesia sangat dalam. Apa yang buat Andy Tielman begitu termotivasi untuk jadi besar?, dan sangat mencintai Negeri ini?. Jika dia tahu bagaimana Surabaya dan Indonesia Sekarang. Seperti “Shake baby Shake!” yang ia nyanyikan sambil berguling ria.