Senin, 03 September 2012

Seandainya kopi ini gulanya terlalu banyak


Pagi dengan matahari di pukul 8.00. matahari lancang masuk dicelah pori kamar. Memaksa mata ini untuk menyapanya. Membangkitkan malas dengan tegaknya punggung yang masih menempeli bantal. Aroma dapur dan jelaganya bertarung masuk berhimpitan dengan saliva hangat kemarin malam.

Saya beranjak menuju dapur. Membuka kulkas berharap ada nyawa disitu, tak ada. Segera berganti ke meja makan, tak bertenaga. Duduk membayang, di antara anak tangga dengan bekas dingin tadi malam, membayangkan kehangatan. Beranjak takut terjadi lapar. 

Jreess, bergesek petikan korek api menyalakan sumbu-sumbu kompor, ya kompor minyak dengan harga yang melangit saat ini. Sabar menyentuhkan tiap sumbu dengan anak api satu persatu dengan santun. Sampai semua menyala menjadi api yang biru. Nesting bundar beli di loak’an penampung air untuk segera duduk diperapian. Mendidihkan air dengan sabar hampir seperempat jam. Gelas ukuran enamratus mili ku siapkan, kopi tumbukan nenek kemarin sore juga sudah didepan tangan, tujuh sendok kecil dan tiga setengah sendok kecil telah masuk di gelas, tapi air di perapian tak kunjung matang. Melamun dengan manyun.

Pagi ini tak buta.

Ceess, suara air bersentuhan dengan dinding nesting yang panas. Didihan menggelembungkan sisi air yang bening itu. Kumatikan dengan memutar kearah kiri jarum jam, serentak tiap sumbu memendek kearah dalam. Api yang sebelumnya biru menjadi merah,kuning , lalu padam. Nesting berisikan air didih yang mengepul karena panas siap bercampur di butiran kopi dan gula di gelas enamratus mili-ku. Ces, suara pertemuan ketiga benda itu. Membuat saliva hangat menjadi bisu.

Bening lalu menghitam, pekat seperti ceritaku kemarin malam. Hening kemudian kelam, sama seperti kening yang mulai menghitam. Karena sujudku disetiap malam.

Kuaduk empatpuluh kali sebagai penghormatan untuk angka empat dan rasa mampat yang pernah terucap.
Satu titik berputar karena adukan, tik tik tik, suara manis dinding gelas bersentuh dengan sendok pengaduk dengan genit. Tujuh sendok tiga setengah gula, perasaan pagi setengah lupa. Duh..

Terlanjur bercampur dan memahit. Pantang untuk menjadikan manis. Apa adanya pahit. Tujuh sendok tiga setengah gula, tujuh untuk kopi, tiga setengah untuk gula. 

Memang kopi harus pahit, karena manis itu gula. Tujuh sendok tiga setengah gula, aku setuju, setengah lupa. Tak mengapa, karena pagi tak buta. Banyak kata untuk pagi. Mungkin saat ini pagi sepi. Apalagi katamu september terbenci. Mungkin kau tak mengenal kopi lagi. Kau mulai sombong dengan sepi. Kau sudah lupa rasanya pahit. Kau terkelilingi semut yang menjelma imut. Mengerubutimu dengan pulut. Mungkin juga kau seperti selaput, yang hampirku renggut tapi terlalu jemawut hingga semrawut. 

Tujuh sendok tiga setengah gula. Aku setuju, juga lupa.

Ternyata gula-gula telah lusa. Sekarang kopi yang pahit meggigit sengit. Sudah aku seruput. Rasanya juga pahit. 

Sudahlah aku memang sengit, jangan kau ingat lagi pahit. Sekarang aku sedang duduk diantara celah pintu. Di depanku sekarang banyak yang aku tonton, kamu, mungkin juga hawa, dan adam, mungkin juga setan yang jadi pengganggu mereka. Aku sekarang lagi asyik, asyik dengan sepi dan juga pahit. Mungkin gula nanti, biar nanti kuambil sendiri. Jangan kau meminta, aku yang merakit. Meski awal ini pahit, ada juga yang manis. Semanis senyum kecil yang kau kalungkan kemarin sore. 

Kopi ini hampir habis. Dan tujuh sendok tiga setengah gula tidak akan kulupa. Dan sebelum aku beranjak, “seandainya kopi ini gulanya terlalu banyak”. Aku akan tamak, aku tak bertemu sepi, apalagi pahit.


(Aku menulis dengan berteman: Hiroko Kokubu – Eternity)