Senin, 03 September 2012

Sapaannya: “Chimenk”, Anak Gus Abdul

gaya tanduk iblis ala Chimenk.
Pada pertemuan kerja dengan rekan-rekan Universitas Brawijaya. Berlanjut kepercakapan menarik dari seorang kawan. Orang menyapa Ia dengan sebutan ‘Chimenk’ dari arti ganja. Perawakan kurus tapi lincah. Lumayan energik seumurannya mungkin bawaan lahir, atau karena doping ganja. Cekatan dan tanggap dalam bekerja, mahir mengemudi mobil dan juga Juara motor-kros waktu sekolah menengah. Dari sekilas kesan itu, saya tak pernah ragu kalau Ia orang yang ramah juga supel. Saya sering menjumpainya membawa kaleng minuman cap bintang buatan Amerika. Katanya untuk obat mabuk perjalanan.

Ia bercerita pengalaman menarik saat di bangku sekolah menengah. Berganti sekolah 11 kali, mungkin hoby atau frustasi, Saya sendiri sampai ngeri. Saya tak mengerti apa yang dilakukannya sampai 11 sekolah Ia jelajahi. Tapi yang Saya tahu Ia friendly. Ia menarik dan juga pencerita terbaik sebagai rekan kerja. Seandainya Ia tahu ajang stasiun Tv dengan acara stand up comedy, mungkin Ia jadi favorit pilihan pemirsa.

Mungkin Ia sanguinis yang berjiwa anarkis.

Ia sempat OD (over dosis) saat berumur 23. Mengigau dengan kabut dan juga bertemu Kakek-neneknya, syukurlah Tuhan masih sayang padanya. Tapi saat Ia sadar, Ia cuma ingat rokok Dji Sam Soe buatan Madura. Menjadi traveller umur 18 tahun, pergi ke Bali pulang dengan tato sayap malaikat di punggungnya. Umi (Ibu)-nya pingsan karena tak sengaja melihat seni tato yang Ia bawa pulang. Anak ragil dari tujuh bersaudara, keturunan Kyai dan juga penggiat masjid. Dari logat bicaranya sepertinya Ia pernah khatam Al-Qur’an. Entah angin apa yang membawa Ia jadi titisan setan. Haha peace Menk!

Tiga ruas rusuk kiri yang pernah patah, turut serta trisep kiri yang hampir hancur. Pernah Ia lakoni sebagai satria penunggang motor gila. Ladang belakang rumah Bude-nya sering jadi pelampiasan hasrat bermain motor-kros, sampai nyangsang di sela-sela pohon Jati saat Ia tak kuasa ingin jadi satria terbang bersama motor kesayangannya. Sadis benar hidupnya (dulu).

Namanya baru benar beken saat Ia bekerja. Chimenk baru menemukan rumahnya di sini. Bersama kami, Ia tularkan semangat kerja dan juga pengalaman hidup. “Memang dulu saya begitu, tapi sekarang jangan kamu ditiru”.

jaket hijau (depan) Chimenk, and the-genk.
Sempat ke Lembah Baliem. Tanpa diragukan kemampuannya. Namun Ia gundah saat rokok Dji Sam Soe satu gros miliknya, dicuri oleh porter pribumi Papua. Ia menyusuri Baliem, seramah suku Fak-Fak. Sepertinya Ia cocok tinggal di sana. Sempat tidur bersama Babi karena obsesi nikahi putri kepala suku. Tapi berujung foto bersama putri pribumi dengan upeti 250ribu karena Ia tak tahu, kalau foto bersama disana kena struk-resi. Mungkin Ia bati (untung), karena sang-mata tak lepas dari Mama yang bertelanjang dada. Tapi sedikit gusar saat berpelukan dengan Bapa ber-koteka sampai menutupi muka. Haha

Saya memang tak seakrap dengannya, tapi ada sisi dimana kita bisa tertawa lepas setelah kerja selesai. Beradu kopi, atau sekedar berbagi rokok. Menertawai apa yang aneh, mungkin imaji kita bertemu sebagai manusIa aneh dilorong yang sama. Ia sudah menemukan titik balik kehidupan, tapi masih bersyarat sebelum Ia menemukan seorang istri yang setIa mendampinginya sampai tua. Ia masih seperti ini. Sempat Ia dijodohkan dengan putri seorang Kyai teman Abah-nya. Tapi Ia ragu, entah apa yang Ia ragukan?.

Tak sabar menunggu Kamis, kita bertemu lagi Menk, bekerja dan tertawa bersama. Berceritalah banyak padaku, supaya Saya yang bodoh ini mengerti, bagaimana hidup dari melihat, mendengar, dan menghargai. I'll see you later :)