#reblog : tidak perlu judul

“untuk bisa merasakan, maka kita mesti merelakan.” dinamakan prosa atau puisi, yang jelas ini adalah rasa tergesa yang menyebalkan, bendera putih pada sesuatu yang hadir tak tau diri. begitulah tulisan ini berteleportasi, kupilih untuk dicaci pada terik siang. kubagi dan kupenjarakan dalam persepsi orang-orang. bukan lagi di sudut kelam malam. inilah hari itu. hari kurelakan semua orang tau. kagumku padamu yang terabadikan dalam tulisan. jemariku menari, untuk bulan juni.
“di halaman depan suatu pagi, kuletakkan jasad denyutku di dekatmu merebahkan diri. denyut-denyut imajiner yang kerap muncul dan seketika ku “eksekusi” mati.
 
di halaman depan suatu pagi, kusimpan jejak tawamu dalam laci kamarku.
laci yang kubuka jika aku merindu. tidak lebih dari itu.

di gelap sepertiga pagi, kedua matamu adalah cahaya yang serupa aurora.
mendekamlah hadirmu dalam dada. Rasaku tak butuh nyawa untuk tetap ada.

di hadapan secangkir kopi yang kamu minum pagi ini,
ijinkan aku mendekapmu,
kali ini tanpa pretensi.
 
selamat atas pertemuan yang telah lama kamu nanti,
akhirnya rindumu terobati.”
 http://novembersiang.tumblr.com/

Pasang Iklanmu di sini