Selasa, 07 Agustus 2012

SMS Bunda tentang Gondrong


SMS Bunda: Bunda minta sebelum Hari Raya atau akan pulang ke Mojokerto, Mas Sudah potong rambut. Ayah negur bunda terus, padahal anak-anak di TK saja bunda anjurkan rapi, tapi anak sendiri bagaimana? (7-Agt-2012; 12:37:17)

SMS Rahman: Injih Bunda. (7-Agt-2012; 12:38:53)

SMS Bunda: Terima kasih, kalau mas menyadari. Bunda yakin pasti kamu tidak nyaman dan risih dengan penampilanmu saat ini. Semoga harimu bermanfaat. (7-Agt-2012; 12:39:53)

SMS Rahman: Iya Bunda, Amiin, terimakasih. Sabtu pagi saya pulang. (7-Agt-2012; 20:39:13)
 
Beberapa saat setelah dhuhur, dan Saya lupa memakai peci pemberian Ibu saat sujud dhuhur itu. Jelas rambut disekitaran kening menjulur turun saatku mulai sujud-sungkur di siang itu. Sepenggalan pesan lewat ponsel, sedikit mengrenyitkan keningku. Cepat kulipat sajadah tipis berwarna merah kekuningan itu, lalu berdiri dari posisi bersila. Menghampiri cermin yang berada di sudut kamar, cermin yang menyatu dengan lemari pakaian itu cukup mampu melihat separuh tubuhku saatku berada di hadapannya. Hm.. 

Beberapa pikiran dan sanggahan dalam hati, kenapa gondrong itu susah di keluarga ini? Ah, peduliku. “Ibu prioritasku”, nantiku jawab sendiri pertanyaanku..