Selasa, 07 Agustus 2012

“500 Days Of Summer” – Bukan hanya Waktu, dan Sudut Pandang

Bukan pecahan piring yang berulang, bukan tarian pagi yang ceria, dan bukan pula pertemuan semu seperti Tom dan Summer di dalam film “500 Days of Summer” karya Marc Webb. Bukan hanya waktu dan sudut pandang untuk mengartikan apa itu hidup, atau yang mereka bilang ‘The One’ dalam film tersebut. Tak ada yang keliru dari Tom dalam mengartikan tatapan dan gerak dari seorang Summer pada malam itu. Begitupun dengan Summer dengan segala bentuk tatapannya tentang cinta dan jalan hidupnya. Tom sempat terhenti dan tak melangkah sejengkalpun saat Summer meninggalkan dirinya, bukan karena Tom tak tau apa yang harus ia lakukan. Tom ingin memberi tau pada dirinya bahwa pandangan hidup bukan papan tulis hitam dengan kapur dan debu yang sering ia lewatkan setiap malam. 

Lima ratus hari mungkin cukup untuk seorang Tom untuk bercerita bagaimana pandangannya tentang hidup dan realitas cintanya dengan Summer. Apakah kita juga merasa bahwa ‘bosan’ adalah mungsuh mereka berdua? Ataukah sudut pandang yang tak mempertemukan mereka menuju ikatan yang mereka ucap pada altar dengan sumpah sehidup dalam suka dan duka, bukan juga tentang waktu. Tom ingin berbagi, Tom ingin memastikan bahwa dirinya memiliki ‘The One’ saat ia bertemu di sebuah kebetulan yang diberikan oleh Tuhan melalui relung yang sama. Tom memastikan apakah Summer datang di pesta malam itu, ternyata Tuhan tak keberatan mengijinkan mereka minum dan berteriak di lagu yang berbeda sampai pada kata dimana Summer spontan berkata, “apakah kau suka padaku Tom?”.


"I love her smile. I love her hair. I love her knees. I love how she licks her lips before she talks. I love her heart-shaped birthmark on her neck. I love it when she sleeps." -500 Days Of Summer-


Saya -pun tak mengerti arti tatapan Summer yang menusuk itu, setiap lelaki yang mampu menatapnya merasa tak mampu mengejawantahkan apa maunya?. Saat mesin pengganda salinan kertas di pagi hari bekerja, seolah mesin itu hanya diam dan pasrah melihat Tom dan Summer bertukar saliva. Summer paham apa yang dicari dari seorang Tom, dan tahu bagaimana Tom akan tergila dengannya dengan tatapan setelahnya. Oh  Zooey Summer!

Tom: I love how she makes me feel, like anything's possible, or like life is worth it. 

Seolah hidup Summer menjadi jawaban dari setiap keraguan dan kepesimisan sekitar. Kau –pun tahu bagaimana penumpang bis memaksa lehernya bergerak saat Summer berjalan melintasi mereka, seolah mata mereka tak cukup adil menerima karya Tuhan yang begitu sempurna. Apakah kau –pun berpikir mengapa ice-cream dan kedai itu nampak ramai pengunjung saat Summer berada disana. Apakah Summer sedingin itu?, “Aku rasa begitu”.

Tom: Darling...
[Summer looks up at him]
Tom: I don't know how to tell you this, but... there's a Chinese family in our bathroom.  

Tom dan Summer punya mimpi, mungkin dalam khayalan mereka toko perangkat keras seperti ‘Ace Hardware’ ala negeri Indonesia, menjadi salah satu kenangan mereka nanti. Dunia milik mereka saat itu, sampai warga oriental hanya termangu melihat keromantisan mereka beradegan ranjang tanpa sadar. Berucap romans, berjalan pada celah gedung kota dan manis saat mereka berdua duduk di taman dengan mengartikan setiap tingginya gedung yang mereka pilah dengan pelukan hangat dan jemari terikat.


  Summer : You weren't wrong, Tom. You were just wrong about me.   


Summer mengerti, mungkin mata Tom akan lupa untuk mengingat momen itu. Summer ingin Tom mewujudkan gedung dan cita-citanya di bagian lengan Summer, secara tak langsung Summer ingin berbicara, “Tom, ingatlah inilah dirimu sebenarnya” dari gambar yang kau tandakan di lenganku, dalam hati Summer berkata, “aku ini hanya sebuah perantara yang Tuhan berikan sementara untukmu belajar”.


Tom: It's these cards and the movies and the pop songs, they're to blame for all lies and the heartache, everything. 



Summer itu Liar, baik imaji maupun hidupnya. Kau tahu saat perbincangan diranjang tentang perjalanan asmara Summer dengan beberapa teman prianya. Sampai lelucon di taman yang mereka berdua ekspresikan dengan berteriak bergantian! Haha ini tak mungkin kau lakukan di negerimu.


***


Tom bangkit! Ia awali dengan merubah kamar dan beberapa ornamen kamarnya, setelah mengerti bahwa Summer menemukan lelaki yang beruntung dengan segala ekspektasinya. Tom pergi! Pergi dari rutinitas kerja yang ia sadari itu tak sesuai dengannya. Move, move and On, Move On! Kartu ucapan memang indah dengan kata dan cetak gambarnya, tapi Tom lebih dari itu. 

Tom: Either she's an evil, emotionless, miserable human being, or... she's a robot.

Tom mencari relung baru, Tom merubah relung dan berusaha terus berjalan. Lihatlah bagaimana tatanan dasi seorang Tom saat itu?, sama. Tom mengerti hanya penambahan setelan jas dan melipat rapi kemeja kasualnya tanpa harus membuangnya. Tom masih ingat momen itu, dimana taman dan bentukan kursi panjang yang menghadap kearah gedung-gedung seolah menantang langit kala itu. Tom masih ingat bagaimana Summer mengajarkannya sebuah hidup dan pengalaman mencari ‘The One’ dengan menggambarkan gedung di lengan Summer. 

 

Tom: My name's Tom.
Girl at Interview
: [shaking hands] Nice to meet you. I'm Autumn. 
Tom: [the girl at the job interview agrees to meet Tom for coffee afterward] We'll figure it out. My name's Tom.
Girl at Interview
: [Last lines of the film] Nice to meet you.
[Shakes his hand]
Girl at Interview
: I'm Autumn.
[Tom looks at the camera in amazement. Film cuts to a title card with a "1" indicating the first day of Tom's relationship with Autumn


Tom pernah bertemu Summer setelah mereka terpisahkan? Pernah. Tapi Tom mengerti, Tom tak akan mengiba untuk Summer ada di sampingnya lagi. Tom menjadi baru, bukan hanya dari tatanan rambutnya yang lebih rapi tapi lebih dari itu, Tom lebih berani. Tom baru, lebih Liar dan berani menjalani hidup, 500 hari sudah menjadi angka 1 yang merupakan langkah Tom saat bertemu wanita lagi dan mengajaknya berbincang dengan ‘coffe’. Mengisi dan membicarakan mimpi lagi, Goodluck Tom!

5 komentar: