Selasa, 07 Agustus 2012

1st Annual Baluran Britama Birding Competition

baluran and you
Memori Baluran beberapa tahun lalu berputar-putar di kepala saya saat memilah beberapa foto kegiatan kampus. Kala itu Taman Nasional Baluran secara perdana menggelar kegiatan lomba  pengamat burung yang diberi nama, “1st Annual Baluran Britama Birding Competition”. Acara yang mempertemukan para pengamat burung nasional dan ada juga loh beberapa peserta dari negara tetangga, dan negara-negara lain yang datang berpartisipasi. Acara yang kami rasa cukup meriah ini tak serta-merta mudah kami lampaui, dengan beberapa kisah perjalanan dan beberapa persiapan untuk berjumpa baluran beserta isinya dan juga bertemu rekan-rekan pengamat burung merupakan pengalaman tersendiri buat kami, terutama pengamat burung yang baru tau kalau buku karangan Mackinnon itu gak dijual di toko buku biasa. Hehe 

peserta mancanegara
Kalau saya tidak salah melihat di folder foto, disana tertulis tahun 2010 di bulan Juli. Ya, saat itu saya dan rekan-rekan kelompok studi burung, yang diberi nama “Peksia” oleh nenek-moyang angkatan kami. Kalau orang jawa bilang, lagi ‘ngidam’ banget ikutan acara semacam ini. Sedikit dan sangat banyak terhipnotis dengan kalimat-perkalimat yang mas Swiss Winansis bilang di blognya, buat kami kepincut gak ketulungan untuk mengencani Baluran diacara tersebut. Bermodalkan persiapan nekat, yang mungkin terpengaruh kondisi alam di Surabaya. Penting ada ‘nekat’ dan ‘bondo’-pun menyertainya, haha. Persiapan logistik dan materi kami persiapkan dengan keterbatasan saat itu, menjelang ujian akhir semester dan beberapa tugas macam jurnal ilmiah dan laporan praktikum.

Singkat cerita, kami berangkat kunjungan ke Baluran dengan gerombolan bocah yang berjumlah 12 orang. Kami mengirim 4 tim, di 1 tim dengan 3 orang. Menuju terminal Bungurasih-Purabaya ‘nebeng’ teman sana-sini dengan imbalan permen lolipop. Sedikit panik dengan kondisi kami yang berjumlah 12 orang berangkat dengan barang yang hampir memenuhi bagasi bis jurusan Surabaya-Situbondo itu. Dengan sabar untuk memilih bus yang sedikit sepi penumpang, kami bisa mengatur dan leluasa duduk sesuai posisi nyaman sebelum nantinya bus akan melaju dan menaik-turunkan penumpang, mengingat dana yang kami siapkan untuk acara ini lumayan nekat kami memutuskan untuk memilih bis ekonomi dengan (angin cendela) tarif bawah.

Baluran cukup memanjakan kita untuk berkunjung mengencaninya. Karena Baluran menurut pengamatan saya, sangat mudah jika saya bandingkan dengan dua taman nasional lainnya seperti Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Meru Betiri yang tipe perjalanannya sangat menguras tenaga dan mental pengunjung. Dengan transportasi dari terminal Bungurasih-Surabaya langsung berhenti di depan Taman Nasional Baluran-Situbondo. Baluran dan segala keaneragamannya dapat kita baca dan kagumi di sini secara lengkap.

tim peksia
Kami sengaja datang ke baluran dengan jeda satu hari dari jadwal yang telah ditentukan panitia pelaksana. Karena kami pikir akan lebih nyaman dan tenang saat kita berada dilokasi lomba dengan menuggu bila dibandingkan memampatkan waktu menuju lokasi lomba dengan waktu yang sangat mepet. Selain tenang, kami bisa orientasi lokasi terlebih dahulu sembari menyiapkan materi dan strategi yang akan kami pakai nanti. Pihak Taman Nasional Baluran sudah menyiapkan guest house bagi peserta macam kami yang datang lebih awal, saat itu lokasi sementara sebelum hari H-acara berada di resort Batangan. Dengan ruangan seperti aula pertemuan di kecamatan, jika saya dapat mendeskripsikannya secara ngawur. Terasa sangat luas dihari pertama kami datang, tapi serasa nyesak saat hari sudah mulai gelap karena peserta lain dari berbagai daerah sudah datang berhimpitan tidur berbagi tikar dan matras dengan peserta lain.

Keesokan hari setelah bermalam sehari di Batangan, setelah registrasi dan mendapatkan perlengkapan kami ‘diangkut’ menggunakan truk menuju resort Bekol yang menjadi camp peserta. Sebelum sampai di resort Bekol kami disuguhkan kawasan hutan Evergreen dan berbagai atraksi satwa liar seperti merak hijau yang sedang berkejaran, dan juga gelatik jawa yang jika kita tau menjadi logo merk kopi ternama saat itu. Kurang dari satu jam perjalanan menyusuri jalan aspal dengan bebatuan kerikil yang menjadi ciri Taman Nasional Baluran terasa cepat atau mungkin truk dan angkutannya (peserta lomba) mendukung untuk cepat tiba di Resort Bekol.  

Bekol yang sering menjadi panggilan umum para pengunjung Taman Nasional Baluran yang merupakan salah satu resort disana yang memiliki pemandangan khas yaitu padang savana yang saat itu kami beruntung di kondisi menguning karena teriknya matahari di musim kemarau. Sering di sebagaian forum dan masyarakat yang telah berkunjung ke taman nasional baluran memberi sebutan savana baluran sebagai ‘Afrika-nya Jawa’. Selain kuningnya savana Bekol-Baluran, kami terpesona ada beberapa penghuni yang sedang mengamati kita dari kejauhan dengan kontras warna kuning dan beberapa warna coklat, ya beberapa Rusa terlihat sedang melihat kearah kami, sepertinya mereka terusik dengan kedatangan kami yang ‘rindu-hutan’.

siap camp
Penyambutan sementara oleh panitia dan kami dipersilahkan membuat tenda untuk camp beberapa malam di lokasi resort Bekol. Lokasi camp kami berada diwilayah resot Bekol, tanah lapang dan beberapa bambu yang tertancap dengan tinggi kira-kira 2 meter terpasang lampu untuk penerangan di malam hari. Kami membawa 3 tenda dengan komposisi peserta, 3 wanita dari 12 orang termasuk saya. Dua tenda yang berkapasitas 5-6 orang dan 1 tenda dengan kapasitas 3-4 orang belum lagi beberapa barang bawaan yang menjadikan tenda kami lebih berwarna dan penuh sesak. Selain itu di tanah lapang tersebut sudah ada kayu-kayu yang menancap dengan nama-nama tim yang hadir, jadi kami tak usah berebut lokasi camp dan merasa kurang nyaman karena panitia lomba sudah menyiapkannya dengan sangat luar-biasa. 

Berikut cuplikan kegiatan yang kami ikuti di '1st Annual Baluran Britama Birding Competition', yang dapat temen-temen lihat di youtube.


Semoga menginspirasi temen-temen dan membuat merindu dan kembali berjumpa di Baluran. Sampai berjumpa lagi kawan..


***


Birding Competition yang diadakan Taman Nasional Baluran sudah berlansung secara kontinyu selama 3 tahun ini, dan mendapat respon positif dari para hobi, pecinta, dan peneliti burung nusantara. Dari segi pelaksanaan juga semakin menunjukkan tren yang menarik hati peserta yang datang, dengan hadiah yang semakin menggila (bonus bagi yang beruntung) dan setiap peserta yang berkesempatan datang memiliki berjuta kenangan bersama peng-gandrung burung dan Taman Nasional, terutama jiwa-jiwa liar yang merasa terhakimi di kota. Selain itu acara semacam ini merupakan ajang silahturahim bagi sesama pecinta burung untuk berbagi pengalaman dan juga berbagi nomer handphone. Haha

hemm, baluran!
Dua pertemuan setelah 1st Annual Baluran saya absent, karena berbagai kesibukan dan agenda yang lebih dahulu mampir, deadline tugas akhir yang cukup menyita perhatian keluarga dan sanak handai-taulan yang gak ada sangkut pautnya dengan cerita ini deh.. haha. Ya semoga tahun berikutnya saya masih bisa bertemu dengan Baluran dan pengamat muda yang tumbuh besar, seiring perkembangan Taman Nasional di Indonesia dan segala inovasi yang diwujudkan untuk menjaga kelestarian alam kita (bahasa yang klasik dan membosankan yang sering kita dengar, haha). Tapi ada beberapa salam dari pecinta lingkungan yang selalu terledak saat mendengarnya dari semangat untuk berbuat daripada kalimat yang sampeyan semua dengar diatas, Salam Lestari,Salam Konservasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar