Jumat, 31 Agustus 2012

Jumat sore yang indah

buku haram

Jumat sore yang indah, berlatarkan hijau dedaunan menyerupai hutan evergreen di taman nasional baluran. Sinar matahari di sekitar pukul empat sore menerobos disela-sela kanopi daun pandan. Dengan bingkai jendela tua yang berbahan mahoni berbalut warna coklat kekuningan dan debu disana-sininya. Sore itu tenang, namun sedikit gerah di penghujung sore menjemput petang.

Berbatas kata.

Bunga sepatu mulai memerah, setelah beberapa hari lalu hijau, dan memekar. Akhir-akhir ini memang menyengat, dan gerah. Tapi tak lepas dari secangkir kopi dan beberapa batang kretek nomor satu Indonesia. Ku sentuh kopiku, kemudian ku hisap rokokku. Jumat sore yang indah.

Berbatas rasa.

Lama tak kudengar kabarmu kawan, kawan wanitaku, yang dulu manja. Yang sempat berbaring lemas diranjang. Jumat sore yang indah. Sekarang kau angkuh dengan racunmu, mungkin kau senang dan lagi nyaman. Jumat sore yang indah kuteguk lagi kopiku dan hisapan lebih dalam. Buuuhh..

Berbatas waktu.

Dulu kau puja, kini kau hina apakah itu takdir mantan? Jumat sore yang indah. Kopiku hampir usai, kretekku hampir pendek, ah dasar kau wanita tokek!

Berbatas benci.

Sempat di penghujung sore aku bertanya, mengapa kau bersedih? Kau jawab, tak ada. Berulang seperti itu. Jumat sore yang indah. Salut aku denganmu, kau tanamkan sayang, sampai ku merasa benci. Tipis sekali qolbun ini menyimpan antara sayang dan benci.

Tetap, sore ini sangat indah.

Berasal dari kata nyaman, kata aneh dari belahan mana? Yang membuat perhatian tertinggi adalah putus untuk membuatmu nyaman. Nyaman tai kucing, saat semua berbeda. Itu hidup-hidupmu, tapi tak kau sadari pengaruhmu su.. kau bawa aku simpati sampai empati. Kau hanyutkan layaknya karam. kita memang haram!

Jumat sore selalu indah.